
Hari ini Dad Hiro dan Joshua bersiap pergi ke Swiss untuk menemui Brad. Opa Akira sudah kembali ke Dubai karena kena omel panjang x lebar x tinggi dari Oma Raina akibat nggak mau pulang. Miki sendiri merasa lega karena ayahnya mau menemani Joshua, apalagi dua hari lalu papa Rudy, mama Fyneen dan appa Yudhi datang berkunjung ke Tokyo demi menengok bumil membuat Miki lebih tenang ditinggal suaminya.
Dibutuhkan waktu sekitar 12 jam lebih untuk perjalanan dari Narita Tokyo ke Zürich International Airport. Hiro dan Joshua memakai pesawat pribadi Al Jordan Corp dan membawa dua orang pengawal. Karena itu Hiro memutuskan berangkat dari Tokyo jam tujuh malam hingga sampai di Zürich pagi.
Ketika berada di longue airport, Joshua menelpon Brad dan menanyakan dimana bisa bertemu dengan pria itu.
"Joshua" sapa Brad ketika menerima telepon dari calon ayah itu.
"Brad. Dimana kita ketemu?" tanya Joshua.
"Privatklinik Bethanien."
"Oke."
Hiro yang sedang menikmati kopi hitamnya hanya memberikan tatapan bertanya kepada menantunya setelah selesai menelpon,
"Brad ada di privatklinik Bethanien, Dad."
Hiro mengernyitkan dahinya. "Klinik? Rumah sakit?"
"Tampaknya begitu Dad" sahut Joshua yang sedang mencari lokasi tempat Brad berada.
"Ya sudah, kita kesana sekarang. Sebelumnya kita sarapan dulu." Hiro menghabiskan kopinya dan memberikan kode kepada pengawalnya untuk bersiap pergi. Mereka menuju lokasi tempat Brad berada menggunakan Range Rover biru tua.
***
Pukul sepuluh pagi, Hiro dan Joshua sampai di Privatklinik Bethanien, keduanya lalu menemui bagian resepsionis.
"Güten Morgen. Ich muss Mr. Brad McGregor treffen ( selamat pagi. Bisa kah saya bertemu dengan tuan Brad McGregor )?" tanya Hiro dengan bahasa Jerman.
"Güten Morgen. Entschuldigung, wen habe ich getroffen ( Selamat pagi. Maaf, dengan siapa saya berbicara )?" jawab resepsionis manis itu.
"Joshua Akandra." Joshua menuju meja resepsionis.
"Gut. Warten Sie einen Moment, Herr Akandra. Bitte nehmen Sie Platz. ( Baik. Tunggu sebentar tuan Akandra. Silahkan duduk dulu. )."
Hiro dan Joshua kemudian duduk di sofa warna putih yang disediakan di lobby rumah sakit mewah itu.
Mereka berdua menunggu sekitar setengah jam ketika Brad datang menghampiri keduanya.
"Joshua. Oom Hiroshi" sapa Brad ramah.
Joshua dan Hiro terperangah melihat wajah Brad yang terdapat bekas-bekas ruam.
"Apa yang terjadi padamu Brad?"
***
Kini ketiga pria itu duduk di taman rumah sakit dengan memegang hot choco di masing-masing tangan. Hawa di Zurich memang dingin menjelang musim dingin.
"Aku senang kalian mau datang" ucap Brad menatap kedua pria di hadapannya.
"Maaf aku datang bersama Dad karena Miki tidak mau aku datang sendirian ke Swiss." Joshua menatap Brad dengan wajah sendu melihat bahwa pria di depannya memang sakit.
"Tak apa. Gimana Miki? Sudah tahu jenis kelamin si kembar?" tanya Brad tulus.
Hiro hanya diam menyaksikan interaksi keponakan dan menantunya. Tidak ada dendam atau nada tinghi diantara keduanya. Joshua dapat mengendalikan emosinya yang membuat Hiro semakin kagum pada menantunya.
"Oom Hiroshi, Joshua, aku ingin minta maaf atas semua perilakuku dan perlakuanku pada Miki." Brad menatap Hiro dan Joshua dengan wajah serius.
"Kami sudah tidak memikirkan hal itu lagi, Brad. Oom melihat Joshua dan Miki bahagia, itu sudah menghapuskan kekesalan Oom padamu" ucap Hiro.
"Aku sudah tidak memikirkan lagi usai hari pernikahanku dengan Miki. Kamu tidak mengganggu kami saja itu sudah membuat kami tenang." Joshua menatap balik Brad.
"Sebenarnya kamu itu sakit apa? Kenapa Mario tidak menceritakan pada kami? Apa Mike dan Nabila tahu apa yang terjadi padamu? Oom dan tantemu itu dokter semua lho Brad!" cecar Hiro penasaran.
"Ini akibat aku menikmati hidup hedonisme dan karma karena mempermainkan banyak wanita." Brad tertawa miris.
"Apa kamu terkena PMS, penyakit menular seksual?" selidik Hiro.
Brad menunduk lalu mengangguk.
"Astaghfirullah" bisik Joshua.
"Kamu kena apa? Oom harap bukan HIV atau AIDS."
Brad menatap Hiro dengan wajah sedih. "Bukan itu Oom, syukur hasil test so far negatif kalau untuk HIV dan AIDS. Aku terkena sifilis." Brad menerawang melihat pemandangan indah alam Zürich.
"Apa sudah membaik perawatannya?" tanya Hiro prihatin.
"So far membaik Oom." Brad menghela nafas panjang. "Aku harus berada disini selama setahun dan ini aku sudah dua bulan disini. Fase sifilis aku sudah masuk sekunder jadi dokter mau aku stay disini agar tuntas pengobatannya."
"Aku hanya sekali melakukan tanpa pengaman dan malah kena. Gara-gara mabuk aku lupa memakai pengaman dan partner ku waktu itu adalah seorang perempuan yang kutemui di bar. Dan akibatnya inilah" lanjut Brad.
"Ini adalah peringatan untukmu Brad. Berhentilah celup sana sini" sahut Hiro tanpa ada bersalah yang membuat kedua pria muda itu menatap tidak percaya ucapan CEO AJ Corp.
"Dad, please. Tuh mulutnya" kekeh Joshua.
"Tidak apa-apa, Josh. Apa yang dikatakan oleh Oom Hiro benar adanya. Miki beruntung mendapatkan dirimu Josh, pria baik-baik yang bukan player." Brad tersenyum miris.
"Brad, Oom bersyukur kamu sadar. Tuhan masih berbaik hati padamu kasarannya kamu 'cuma' dikasih sifilis bukan HIV atau AIDS. Saran Oom, bertaubatlah, minta ampun banyak-banyak pada Tuhan. Kalau kamu sembuh nanti, datangilah ke semua perempuan yang kamu permainkan, minta maaf pada mereka. Apa reaksi mereka, kamu harus terima. Setelah ini, hiduplah dengan pola hidup sehat. Jika kamu menjalani dengan ikhlas, semangat dan legowo, Oom yakin kamu akan mendapatkan jodoh yang baik. Jika sudah diberikan jodoh baik-baik, jangan sekali-kali kamu menyakitinya. Buat pada saat kamu sakit ini menjadi pengingat sebab akibat kalau kamu nakal."
Hiro menatap Brad dalam. "Jika kamu punya anak perempuan suatu saat nanti, kamu akan merasakan bahwa anak perempuan itu bagaikan separo jantungmu selain istrimu. Seorang ayah tidak akan ikhlas menyerahkan anak perempuannya kepada pria yang tidak benar karena apa? Karena anak perempuan itu akan meninggalkan ayah ibunya dan mempercayakan hidupnya pada seorang pria yang harus menjadi kepala rumah tangga, imam, pencari nafkah, teman, sahabat, suami juga ayah. Makanya Oom tidak rela melihat Miki denganmu karena Oom tidak ikhlas anak Oom bersamamu."
Brad menganggukkan kepalanya. "Nasehat Oom akan selalu aku ingat. Tujuan aku mengundang Joshua adalah aku ingin meminta maaf dan mengucapkan selamat atas kehamilan Miki. Semoga pada saat Miki melahirkan, aku bisa pulang."
"Brad, kita itu keluarga. Jika kamu ada kesulitan, kamu bisa hubungi kami" ucap Joshua tulus.
"Terima kasih Josh. Miki sangat beruntung memilikimu. Pria yang rela menunggu 15 tahun untuk mendapatkan wanita yang dicintainya itu adalah romantis." Brad menepuk tangan Joshua.
"Kami sama-sama beruntung, Brad."
***
Yuhuuu
Up Pagi dulu Yaaaa
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️