You're The Only One

You're The Only One
Suamiku oh Suamiku



Shanum mengerjap-kerjapkan matanya. Sinar mentari pagi masuk melalui jendela kamarnya. Posisi tidurnya yang mengkurap membuatnya langsung melihat meja kerja yang memang dia letakkan disana. Selain pemandangan sinar matahari pagi yang menyilaukan mata, namun ada pemandangan lain yang membuatnya membulatkan matanya yang indah.



Suaminya yang semalam membuatnya remuk redam dengan santainya ber-shirt less ria duduk manis di kursi kerjanya dengan MacBook di hadapannya.


Shanum membalikkan tubuhnya dan ia baru menyadari bahwa di balik selimut, dia tidak memakai apapun.


Besok-besok jangan menggoda pria yang puasa lama. Jadi remuk kan badanmu! batin Shanum.


Tanpa sadar, bibirnya tersungging senyuman mengingat kejadian panas semalam. Maksud hati hanya menunjukkan bahwa tanpa lingerie pun bisa menggoda, malah dirinya yang habis digarap suaminya.


Benar-benar ganas suamiku!


Entah berapa ronde semalam mereka lakukan dan mereka baru istirahat jam dua pagi. Bahkan tadi subuh pun suaminya menjahilinya lagi.


Dan kini, Shanum harus menanggung akibatnya, badannya seperti habis nge gym tiga sesi.


"Sudah bangun istriku?" goda Hiro.


"Remuk badanku!" omel Shanum seraya bangun namun kakinya terasa lemah seperti jelly akibatnya dia jalan pelan-pelan.


"Astaga!" serunya ketika melewati kaca di meja rias. Banyak sekali tanda yang diberikan oleh suaminya. Shanum melirik judes ke arah Hiro yang seolah tak tahu apa-apa.


Shanum pun masuk kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras. Hiro tertawa terbahak-bahak.


Salah sendiri kamu menggoda aku! Kumakan lah!


Setengah jam kemudian Shanum keluar dari kamar mandi dan tampak segar, kemudian dia duduk di kursi meja rias guna mengeringkan rambutnya.


Tanpa sengaja dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi.


"Astaghfirullah! Anak-anak!" pekiknya.


Hiro yang masih di depan laptopnya terkekeh mendengar teriakan istrinya.


"Anak-anak sudah berangkat dari tadi pagi" sahutnya.


"Sama siapa berangkat? Duh, mana aku nggak bikin sarapan pula!" omelnya Shanum.


"Sama pak Yudho lah!" Pak Yudho adalah sopir keluarga Al Jordan.


"Kan biasanya aku yang antar mas" Shanum cemberut.


"Apa gunanya pak Yudho?" Hiro pun bangkit lalu memeluk istrinya.


"Mas, ga usah macem-macem deh! Mandi sana!" perintah Shanum.


"Lagi yuk Shan?" bisiknya parau.


"NGGAK! Remuk badanku!" pelotot Shanum galak.


"Yaaaahhh, Shaaaannn!" rengek Hiro.


"NGGAK ya NGGAK!" Shanum mendorong tubuh besar Hiro untuk masuk ke kamar mandi.


"Shan, mandiin!" rengeknya lagi.


"Mandi sendiri! Dah besar juga!" Shanum melanjutkan mengeringkan rambutnya.


"Yang besar itu yang enak kan Shan?" goda Hiro dari dalam kamar mandi.


Wajah putih Shanum langsung memerah seperti kepiting rebus.


"Suamiku Omesh!" teriak Shanum jengkel yang dibalas dengan tawa Hiro.


***


Shanum turun ke lantai satu menuju ke dapur. Tampak bik Sum sudah menyiapkan sarapan kesiangan majikannya.


"Maaf bik Sum, aku tidak membantu mebuatkan sarapan buat anak-anak" ucap Shanum sambil mengisi cangkirnya dengan teh.


"Nggak papa Nyonya, tadi tuan Hiro bilang nyonya capek lembur" senyum bik Sum maklum yang membuat wajah Shanum memerah lagi.


"Haaaiissshhhh mas Hiro tuh!" desisnya.


"Aku kenapa Shan?" tanya Hiro yang sudah ikut ke dapur lalu memberikan ciuman di pipi istrinya.


"Nyebelin!" Shanum bersyukur lehernya aman dari keganasan suaminya tapi tidak di tubuh yang lain yang sekarang tertutup baju. Keduanya kini duduk di kursi makan saling berhadapan.


"Ah nyebelin gini juga kamu cinta dan sayang sama aku. Buktinya semalam kayak apa" goda Hiro yang semakin membuat Shanum merah padam dan ingin menghajar suaminya.


"Maaaassss!!!" desisnya kesal.


"Apa sayangku?" goda Hiro sambil tersenyum manis yang menurut Shanum minta ditonjok.


Hiro yang duduk di hadapan Shanum makin menggoda istrinya. Akhirnya Shanum pun tak tahan digoda suaminya lalu tertawa.



"Kamu kalau tertawa makin cantik Shan" puji Hiro.


"Gombal!" umpat Shanum sambil memasukkan nasi goreng seafood nya mulutnya.


Hiro tertawa terbahak-bahak.


***


Rudy hari ini kelimpungan karena bossnya dengan seenaknya menelpon dan bilang akan datang siang karena istrinya lagi remuk redam.


"Haaaiissshhhh! Pak Hiro tuh yaaaa! Mana meetingnya harus aku yang handle pulak!" omel Rudy sambil membawa berkas untuk meeting hari ini.


Fyneen sendiri masih berkutat dengan desain batik yang sejak semalam dia finishing.


Suara panggilan video call masuk di MacBook nya. Rupanya Serena yang menghubungi.


"Selamat pagi Bu Serena" sapa Fyneen.


"Pagi Fyneen. Bagaimana dengan desainnya? Masih draft pun nggak papa" ucap Serena.


Fyneen memperlihatkan hasil desainnya kepada Serena yang langsung antusias melihatnya.


"Ini motif sogan kah?" tanya Serena.


"Iya bu, saya kombinasikan dengan warnanya agar tidak dominan coklat. Apa sudah lolos Bu?"


"Bagus Fy. Kamu belum pernah desain yang seperti ini kan?" puji Serena.


"Belum Bu, ini yang pertama dan ekslusif untuk putri Fatimah."


"Oke Fy. Eh iya apakah mbak Shanum sudah datang?"


"Bu Shanum jarang ke kantor AJ Corp Bu karena lebih sering bekerja di rumah" jawab Fyneen.


"Baiklah. Nanti aku telpon Mbak Shanum. Segera difinishing ya Fy supaya cepat dikirim. Lebih celat dari deadline lebih baik."


"Siap Bu."


***


Joshua menunggu Miki dan Mamoru untuk makan siang di kantin. Tadi pada saat papa Rudy dan mama Fyneen mengantarkannya ke sekolah, dia melihat si kembar diantar oleh Pak Yudho sopir keluarga.


Tumben Tante Shanum tidak mengantar si kembar.


Sengaja Joshua tadi pagi membuat onigiri berisi ayam mayonaise kesukaan Miki. Sekarang ada dua kotak bekal untuknya dan Miki karena dia tahu biasanya Mamoru membawa kotak bekal sendiri. Miki pun biasanya membawa kotak bekal tapi dia selalu mengeluh bekalnya cepat habis. Gadis kecil itu memang tukang makan.


"Hai Joshua" sapa seorang anak perempuan sebaya dengan Joshua. "Makan bareng yuk".


Joshua hanya memasang wajah datar dan dingin. Sering bergaul dengan Mamoru membuatnya mampu bersikap sama kulkasnya dengan adiknya itu.


"Aku mau makan sendiri" jawabnya dingin.


"Kok bawa dua kotak bekal?" tanya Gladys, nama anak perempuan itu.


"Bukan urusan kamu!" sarkasme Joshua. Dia merasa jengah selalu diikuti Gladys. Bahkan anak itu berani mengirimkan surat cinta kepadanya.


"Kamu kok gitu sih Josh? Sekali-kali makan siang bareng kan gak papa" rayu Gladys.


"Aku yang gak mau. Paham?" ucap Joshua yang kemudian bangkit dari kursi kantin menuju arah Miki yang keluar kelas dan menuju ke kantin.


Gladys melihat bagaimana berubahnya sikap Joshua kepada anak kelas tiga itu. Wajahnya penuh perhatian ditambah Miki memekik senang mendengar ucapan Joshua dan keduanya pergi menuju taman sekolah.


Apa sih bagusnya anak kelas tiga itu? Kalau Joshua bilang itu adiknya tapi sikapnya nggak kayak ke adiknya!


Gladys merasa jengkel usahanya mendekati anak tampan di kelasnya tidak berhasil.


Masih banyak jalan menuju ke Roma, Glay. Suatu saat Joshua pasti akan jadi pasanganmu.


***


Yuhuuu


Up dulu satu chapter yaaaa


Insyaallah nanti up lagi kalau ga siangan ya sorean


Ada yang mau ceritanya Miki dan Joshua nggak?