You're The Only One

You're The Only One
Josephine - Season 2



Yudhi menatap mata Joshua, mata yang mengingatkan pada seseorang yang selalu dia rindukan. Bedanya, mata orang itu sayu dan selalu lembut, mata Joshua tajam dan menunjukkan dia cerdas serta tidak mudah diintimidasi.


Mirip dengan dirinya.


"Bagaimana kau bisa tahu, nak? Apa kamu tidak keberatan saya panggil nak?" tanya Yudhi.


Joshua tersenyum smirk. "Ketika Oom Edward menutup semua akses, aku bisa membuka akses yang lain. Dan ya, aku tidak keberatan dipanggil 'nak' olehmu pak" sahut Joshua datar.


Edward hanya tersenyum simpul. "Abian?"


Joshua menggeleng. "Abian hanya memberi kode tapi aku bisa menyimpulkan."


Edward tertawa terbahak-bahak. "Dia benar-benar mirip denganmu Hyun-ji."


Yudhi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Joshua kemudian menatap Yudhi.


"Bisa anda ceritakan siapa saya, pak? Anggap saja tes DNA kita ayah dan anak."


Yudhi menatap Joshua lalu ke Edward.


"Terserah padamu Hyun-ji. Seperti yang kubilang tadi." Edward


Yudhi menatap Joshua dalam.


"Bermula dari dua puluh enam tahun lalu..."


POV Kim Hyun-ji


26 tahun lalu, Seoul


Kim Hyun-ji ketua Silver Shining berusia 30 tahun sedang berjalan-jalan di daerah Namdaemun bersama Hwoa-jin dan Hwoarang, dua pengawal kembarnya. Jika dia sedang ingin jalan-jalan, Hyun-ji hanya bersama dua pengawal kepercayaannya.


Disaat ketiganya menikmati acara jalan malam, Hyun-ji melihat seorang gadis cantik berusia sekitar dua puluhan yang kebingungan. Merasa penasaran, Hyun-ji mendatangi gadis itu.


"joesonghabnida. jega dowadeulil il-i issnayo?" tanya Hyun-ji. ( maaf, ada yang bisa saya bantu nona? )


"jigab-eul ilh-eo beolyeossda ( saya kehilangan dompet saya ). Maap bahasa Korea saya tidak begitu bagus." jawab gadis itu membongkar tasnya.


"Tidak masalah, saya bisa berbahasa Inggris." Hyun-ji tersenyum ke arah gadis itu. "Dompetnya seperti apa nona?"


"Eerr dompet pink, panjang ada gantungan berhuruf J" jawab gadis itu.


Hyun-ji mengatakan semua pada duo H yang kemudian berpencar mencari dompet itu.


"Kita duduk disini dulu nona. Mau teh?" Gadis itu mengangguk. Hyun-ji pun menuju vending machine dan membeli dua buah teh oolong kaleng.


"Silahkan" ucapnya sambil menyerahkan kaleng teh ke arah gadis itu.


"Terima kasih." Gadis itu membuka kaleng tehnya dan meminumnya.


"Aku Kim Hyun-ji by the way. Namamu siapa?" Hyun-ji mengulurkan tangannya yang disambut gadis itu. "Josephine. Josephine Marisa Darsono."


"Nama yang cantik. Malasia atau Indonesia?"


"Indonesia."


"Aku harus manggil kamu apa. Jo? Josephine?"


"Jo."


"Oke Jo, nice to meet you." Hyun-ji tersenyum manis.


Josephine mengangguk. "Terima kasih Oppa."


Duo H akhirnya menemukan dompet pink milik Josephine yang berada di sebuah toko buku disana. Beruntung pemilik toko mengenali gadis cantik bermata sayu itu bukan orang Korea dan dia menyimpannya.


"Kamu dalam rangka apa ke Seoul?" tanya Hyun-ji yang langsung mengangkat dirinya sebagai pengawal Josephine.


"Aku liburan kesini bersama kedua sahabatku tapi mereka malah pergi ke tempat hiburan malam."


"Kamu tidak ingin kesana?"


"Aku tidak suka tempat seperti itu. Aku lebih suka mengunjungi tempat-tempat seperti ini, ke toko buku, museum atau tempat wisata lainnya."


"Hotelmu dimana?"


"Kutemani kesana."


Josephine menatap Hyun-ji. "Anda baik sekali Oppa."


"Tidak baik anak gadis berjalan sendirian dan tenang, aku tidak akan menculik mu." Tapi mungkin akan menikahimu.


Sejak saat itu Hyun-ji menemani kemana Josephine pergi keliling Seoul, menganggap dirinya guide untuk gadis cantik itu hingga akhir liburannya.


Di bandara Incheon, Josephine dan Hyun-ji saling bertukar nomor telepon karena sebelumnya, Josephine menggunakan nomor lokal Korea.


Dua bulan kemudian Hyun-ji memberanikan diri datang ke rumah Josephine di Jogjakarta untuk menemui kedua orangtuanya sekaligus melamar gadis itu yang diterima dengan senang hati oleh keluarga Darsono. Bulan berikutnya Hyun-ji dan Josephine resmi menjadi pasangan suami istri dan pria itu memboyong istrinya ke Seoul.


POV End


"Jadi, bagaimana aku bisa berada di Jogjakarta?" Joshua menatap Yudhi, setidaknya dia mengetahui nama ibu kandungnya.


"Ternyata pernikahanku dengan Jo tidak disetujui oleh klan Silver Shining. Ada pemberontakan di dalam klan SS yang meminta aku menceraikan Jo dan itu hal yang tidak mungkin! Aku sangat mencintai Jo dan ketika klan kami terpecah menjadi dua kubu, Jo sedang mengandung dirimu. Karena ibumu bukan orang Korea menjadi alasan bagi pengkhianat di klan SS untuk merebut kursiku."


Edward mendengarkan dengan seksama penjelasan Yudhi.


"Dua pengawal ku Hwoa-jin dan Hwoarang lalu mengatur agar ibumu pulang terlebih dulu ke Jogjakarta karena berbahaya bagi keselamatan dirinya."


Yudhi menghentikan ucapannya lalu dia meminum kopi hitamnya. "Aku meminta tolong pada Duncan McGregor agar bisa menolongku namun terlambat. Kubuku sudah dihabisi, dan aku bisa melarikan diri ke Hongkong lalu menggunakan paspor yang aku curi, aku masuk ke Indonesia."


"Pantas aku tidak bisa menemukanmu" sahut Edward. "Kau masuk dari Hongkong rupanya."


"Sesampainya di Jogjakarta, ternyata keluarga istriku sudah pindah dan menurut tetangga disana, Jo ku meninggal setelah melahirkanmu.Hasil penyelidikanku sendiri menemukan bahwa kedua mertua dan dua pengawal ku sudah dihabisi oleh pengkhianat yang sengaja mengirimkan pembunuh bayaran ke Jogja. Mereka tidak berhasil menemukan mu karena pembantu mereka sudah kabur lebih dulu membawa dirimu ke panti asuhan yang tidak tahu dimana." Yudhi mengusap air matanya.


Joshua hanya menatap nanar wajah ayahnya yang sekarang menjadi lebih menua setelah menceritakan ibunya.


"Aku berusaha mencarimu nak tapi setelah sebulan, aku putuskan untuk tidak melanjutkan karena aku tahu aku masih dalam pengawasan mereka. Aku tidak mau kamu dijadikan target. Biarkan mereka mencariku asal bukan dirimu."


"Apakah sekarang mereka masih mencarimu Hyun-ji?" tanya Edward.


"Tidak. Aku sudah bukan ancaman lagi bagi mereka karena aku sendiri sudah tidak mau berkecimpung di dunia hitam lagi. Aku merasa tenang disini, hidup sederhana, menikmati hari tua. Kedatanganmu malah membuatku bahagia, Ed. Apalagi putraku datang sendiri kemari." Yudhi menatap Joshua sayang.


"Nak, kehidupan appamu tidaklah baik dan appa tidak mau kamu mengikuti jejak appa. Kamu sudah memiliki kehidupan yang baik, appa bangga padamu. Appa tidak menyangka akan memiliki besan seperti Hiroshi Al Jordan," kekehnya.


Joshua hanya tersenyum tipis mendengar pria tua di hadapannya langsung membahasakan dirinya 'appa'.


"Kau tahu Joshua, matamu mirip dengan ibumu."


Joshua menatap Yudhi intens. "Benarkah itu pak?"


Yudhi mengangguk. "Kalau ibumu matanya lebih sayu darimu."


Edward menatap Joshua.


"Apa rencanamu selanjutnya setelah mengetahui siapa dirimu?"


"Aku menunggu hasil tes DNA. Jika memang bapak adalah ayah kandungku, aku akan membawa papa dan mama kemari untuk berkenalan serta aku juga akan membawa Miki."


"Kamu tidak ada keinginan mengambil silver shining?" tanya Edward lagi.


Joshua menggeleng.


"Untuk apa merebut sesuatu yang menurut ku lebih banyak mudharatnya daripada apa yang sudah aku rintis dan miliki sekarang ini. Aku tidak sebodoh itu untuk menyia-nyiakan hasil kerja kerasku selama ini. Aku mengetahui siapa orang tua kandung ku saja itu sudah cukup."


Yudhi dan Edward saling berpandangan dan tersenyum lega.


***


Yuhuuu


Up malam Yaaaa buat Joshua


Thank you readers ku terchayank atas semua komen2nya.


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


See you besok. Night night