
Shanum sarapan di mansion kedua orangtuanya tanpa orangtuanya di rumah. Papa Adrian dan Mama Niken memang berada di Australia sampai tahun baru karena ada acara bersama Abang Shanum, Reza. Apalagi Reza baru saja mendapat anak kedua jadi orangtuanya sangat antusias kepada cucu keempatnya. Jarak antara putra pertama Reza, Panji ke adiknya Savitri adalah sepuluh tahun. Reza dan istrinya Andhira tidak menyangka mendapatkan rejeki anak kedua karena mereka menunggu begitu lama. Dan kini, keluarga mereka sudah lengkap dengan anak sepasang.
Ketika asyik sarapan, ponsel Shanum berbunyi menandakan panggilan video call. Setelah menggeser tombol hijau, tampak wajah putri cantiknya.
"Assalamualaikum mommy. Sarapan apa?"
"Wa'alaikum salam, ini mommy sarapan Mac n cheese"
Miki mengerenyit. "Mom, Mac and cheese itu bukan untuk sarapan."
"Tapi mommy memang lagi pengen sayang" senyum Shanum.
"Jangan-jangan kamu ngidam Num" suara ibu mertuanya mengejutkan Shanum.
"Hah? Eh mama... Assalamualaikum mama" salam Shanum.
"Wa'alaikum salam. Benar kan kamu ngidam?" tanya mama Raina dengan wajah penuh arti.
"Astaghfirullah mama. Nggak mungkin lah!" kekeh Shanum.
"Iya Oma, nggak mungkin lah mommy hamil. Kan mommy ma Daddy nggak pernah sekamar" sahut Miki.
"Lho emang kenapa kalau sekamar?" tanya mama Raina kepo.
"Katanya bisa bikin adik bayi" jawab Miki polos. Mama Raina dan Shanum langsung tersedak.
"Siapa yang bilang nak?" tanya Shanum setelah menetralisir jantungnya.
"Kata Nana." jawab Miki.
"Nana itu siapa?" tanya mama Raina.
"Nana itu teman sekelas ku Oma. Dia bilang papa mamanya sekamar terus jadinya dia dapat dua adik"
Shanum hanya memijit pangkal hidungnya, sedangkan mama Raina tertawa terbahak-bahak. Miki memandang Oma dan mommnya dengan pandangan bingung.
"Ma, jelaskanlah, aku pusing" sahut Shanum.
"Hahahaha, nanti aku jelaskan dengan bahasa sederhana. Makanya Num, ijab qobul lagi biar kalian nggak membingungkan anak-anak kalian."
"Masih kurang dua setengah bulan lagi kok ma".
"Diskon saja lah. Anak nakal itu sudah berubah kok" rayu mama Raina.
"No mam. Biar Hiro berjuang dulu." sahut Shanum.
"Mommy kapan pulang?" tanya Miki.
"Insyaallah lusa mommy pulang. Doakan ya urusan disini bisa segera selesai."
"Oke mom. Oma masih mau ngobrol ma mommy? Mi-chan sudah dijemput Tante Fyneen."
"Lho kamu mau kemana nak pergi sama Tante Fyneen?" tanya Shanum. Tumben Miki nggak minta ijin dulu.
"Mi-chan diajak Tante Fyneen untuk melihat proses pembuatan batik tulis. Daddy, Oma dan Opa sudah kasih ijin cuma tadi Mi-chan lupa mau minta ijin mommy gara-gara mom sarapan Mac and cheese" cengir Miki.
"Ya sudah hati-hati." sebuah pesan dari Fyneen masuk ke dalam WhatsApp Shanum.
Mbak, maaf saya minta ijin membawa nona Miki melihat proses pembuatan batik tulis. Ini juga mendadak karena tadi mas Rudy cerita pada saat datang ke rumah tuan Hiro jadi nona Miki ingin ikut. Saya sudah coba telepon mbak namun salurannya sibuk. Jangan khawatir saya akan menjaga non Miki. Terima kasih.
"Boleh kan mom?" tanya Miki lagi.
"Boleh. Ini barusan Tantemu wa mommy minta ijin membawa kamu." senyum Shanum.
"Thank you mom. Love you!" Miki pun melesat menuju pintu depan.
Tinggallah Shanum dan mama Raina.
"Num, kata Hiro, klienmu itu pria brengsek ya?" tanya mama Raina.
"Iya, namanya Ridwan Satria. Mama nggak usah khawatir, aku ada Kiko kok".
"Keiji Dan Serena gimana kabarnya ma?" Shanum ingat pada saat menikah dengan Hiro, Keiji masih proses pacaran dengan Serena. Keiji sendiri lebih muda dua tahun dari Hiro, sedangkan Serena seumuran dengan Shanum.
"Alhamdulillah baik, Serena tahun lalu melahirkan anak laki-laki namanya Ryoma. Kei sekarang mengurus semua perusahaan AJ Corp di Dubai, kalau suamimu kan memegang di Jepang."
"Syukurlah. Ma, maaf aku harus segera berangkat ke kantor. Nanti kita sambung lagi. Assalamualaikum" Shanum melihat jam dinding di ruang makan itu sudah menunjukkan pukul 8.30.
"Oke sayang hati-hati. Wa'alaikum salam." Dan panggilannya selesai.
Ketika Shanum hendak membereskan bekas sarapannya, Kiko muncul dari kamarnya dengan dandanan rapih.
"Maafkan saya nyonya, saya bangun kesiangan" ucapnya panik.
"Tidak apa-apa Ko. Sudah sarapan dulu, masih ada Mac and cheese. Atau kalau kamu keberatan makan pasta di pagi hari, ada roti dan teman-temannya di meja. Saya mau siap-siap dulu." Shanum menepuk pundak Kiko sambil tersenyum lalu menuju kamarnya.
"Baik nyonya" Kiko langsung menyantap hidangan yang ada di meja tanpa pilih-pilih.
***
Kantor Pusat PRC group.
Ridwan sudah merasa gelisah karena hingga jam sebelas siang, Shanum tidak muncul di kantornya. Dirinya sudah kesal menunggu selama satu jam namun tidak ada tanda-tanda sosok yang diincarnya muncul.
Dia bahkan sudah berkali-kali menelpon Shanum namun tidak ada jawaban. Rasanya ingin membanting ponselnya karena tidak ada jawaban.
"Nona Shanum belum bisa dihubungi?" tanyanya gusar kepada Sasha sekretaris disana.
"Bu Shanum tidak menjawab berarti sedang bertemu klien pak." jawab Sasha. Sebagai sekretaris apalagi sudah ikut Adrian Pratomo sejak lima tahun lalu, Sasha hapal jadwal semua keluarga Pratomo termasuk Niken, Reza dan Shanum karena semua berhubungan dengan perusahaan walaupun masing-masing sudah memiliki asisten namun Sasha adalah kepala sekretaris. Dan hari ini Shanum memang ada jadwal bertemu dengan salah satu kliennya pada pukul sepuluh di daerah Kuningan.
Ridwan makin gusar. Hari ini dia bertekad untuk mengajak makan siang Shanum dengan dalih konsultasi desain ruangannya. Sebenarnya hasil desain Shanum tidak ada cacatnya, hanya saja itu satu-satunya cara dia bisa bertemu dengan wanita cantik itu.
Sekilas tentang Ridwan Satria yang merupakan anak pengusaha kapal cargo yang memiliki jaringan luas. Sebagai anak tunggal dan kaya raya tidak heran dirinya menjadi pribadi yang arogan dan egois. Ridwan sendiri berusia 35 tahun dan sudah dua kali bercerai dan kedua pernikahannya tidak dikaruniai anak. Akibat polahnya yang arogan dan merasa memiliki banyak kekayaan, Ridwan sering berulah tanpa melihat dirinya berada di negara mana.
Paling parah ketika dia harus mendekam di penjara Dubai akibat membuat keonaran di sebuah restoran yang ternyata pemiliknya adalah anak seorang salah satu pengusaha terkaya di dunia. Tentu saja pemiliknya tidak terima walaupun ayah Ridwan bersedia mengganti kerusakan namun Akira Al Jordan, ayah Keiji Al Jordan menolak dan meminta otoritas pemerintah Dubai untuk mendeportasi Ridwan kembali ke Indonesia dan dilarang masuk ke Dubai hingga batas tidak ditentukan. Ayah Ridwan merasa keberatan karena Ridwan masih ada pekerjaan di Dubai, namun kekuasaan Al Jordan family tidak bisa dibantah.
Dan kini Ridwan merasa dirinya jatuh cinta kepada Shanum Pratomo, putri bungsu keluarga Adrian Pratomo. Ridwan ingin memiliki Shanum apalagi dia tidak mendengar kabar status wanita itu. Info tentang Shanum Putri Pratomo masih singel, menikah atau janda tidak pernah muncul di berita atau pun kolom gosip. Sepertinya keluarga Pratomo sangat menutup rapat privacy Shanum. Apalagi ayahnya masih marah padanya jadi kalau dia bisa mendekati Shanum dan membawanya pulang menjadi calon menantu, siapa tahu dia diperbolehkan keluar negeri lagi. Efek dari peristiwa Dubai membuat Ridwan hanya boleh tinggal di Jakarta mengurus perusahaan disini sedangkan ayahnya yang menghandel usaha di luar negeri.
"Silahkan diminum dulu pak Ridwan" Sasha memang sudah memanggil OB untuk menyediakan minuman namun tampaknya pria itu tidak mengindahkan.
Kopinya pasti sudah dingin. batin Sasha.
Suara telepon di meja kerja Sasha mengejutkan keduanya.
"PRC group selamat siang" sapanya Sasha ramah setelah mengangkat gagang telepon. "Oh bu Shanum. Bagaimana Bu?"
" ... ".
"Pak Ridwan Satria sudah berada disini sejak satu jam yang lalu"
" ... "
"Baik Bu. Wa'alaikum salam". Sasha meletakkan gagang teleponnya.
Ridwan yang mengetahui bahwa Shanum menelepon sekretarisnya langsung penasaran.
"Gimana nona Sasha? Ada kabar tentang nona Shanum? Jam berapa dia akan kembali?" cerocosnya.
"Bu Shanum mendadak harus ke Bandung pak siang ini, ada urusan disana. Maafkan Bu Shanum karena beliau lupa membawa hpnya dan tadi itu menggunakan hp nona Kiko asistennya. Jadi atas nama Bu Shanum, saya meminta maaf telah membuat pak Ridwan menunggu." Sasha menangkupkan kedua tangannya meminta maaf.
Ridwan rasanya ingin memaki namun ditahannya. "Kalau boleh tahu Bandung nya di daerah mana?" Langsung disusul saja pikirnya sambil menyuruh anak buahnya mencari info keberadaan wanita itu.
"Maaf pak, saya tidak bisa memberitahukan karena ini internal perusahaan."
Ridwan mendengus kesal. "Tak usah! Saya bisa mencari tahu sendiri! Selamat siang!" lalu dia membalikkan tubuhnya meninggalkan Sasha. yang menghela nafas panjang.
Sabar Sha...sabar. Orang sabar lemaknya banyak. Sasha melirik tubuhnya yang berisi. Usai melahirkan putrinya dua tahun lalu, bentuk tubuhnya memang berubah menjadi lebih gendut. Ah yang penting tetap disayang suami dan putriku.
***