You're The Only One

You're The Only One
KDRT lagi???



Shanum terbangun di kamar hotelnya. Semalam usai makan malam, Kiko kembali ke rumah Adrian untuk menemani para pegawai butik sedangkan Shanum berada di hotel untuk istirahat. Kunci kamarnya dibawa Kiko agar nanti tidak mengganggu Shanum tidur.


Keluarganya di Solo heboh semalam ketika mereka melakukan video call via zoom agar semua anggota bisa ngobrol.


"Mom, apa mom nggak curiga itu sesuatu yang disengaja?" tanya Mamoru.


"Bener tuh Num, siapa tahu ada yang tidak suka dengan butiknya Niken" sambung papa Akira.


"Kalian ini kok pada suudzon sih! Yang kebakar itu restauran sebelah butik bukan butiknya. Kalau memang ada yang tidak suka dengan butiknya Niken, harusnya kan butiknya yang terbakar bukan restauran sebelahnya!" sahut mama Raina sambil memukul bahu papa Akira.


"Kamu nggak papa sayang?" tanya Hiro yang melihat wajah lelah istrinya.


"Mommy istirahat dulu ya, semoga besok sudah segar dan nanti kita bisa ke Jogja bareng" ucap Miki.


"Aku baik baik saja cuma memang lelah sekali hari ini. Terimakasih pumpkin, semoga besok lebih baik harinya." senyum Shanum.


"Aamiin!" seru para keluarganya.


Kini Shanum berjalan menuju jendela kamar hotel melihat pemandangan kota Bandung di pagi hari. Matanya menerawang memikirkan banyak hal yang terjadi sebulan terakhir ini. Kehadiran Hiro, kedua anaknya lebih bahagia karena Daddynya datang, kedua mertuanya memilih liburan di Solo, salah satu butik mamanya jadi korban kebakaran, Ridwan Satria yang selalu mengganggunya. Betapa hidupnya seperti roller coaster.


Shanum memutuskan untuk segera mandi. Dia ingin jalan-jalan melihat hotel. Usai mandi, Shanum segera mengganti pakaiannya dengan kemeja putih gombrong, celana jeans ketat dan anting mutiara kecil hadiah dari Mamanya. Dilihatnya Kiko dan Tania masih tertidur. Setahu Shanum, mereka baru kembali ke kamar pukul dua malam.


Pelan-pelan Shanum berjalan keluar kamar. Wajahnya sengaja tidak menggunakan make up karena dia ingin mengistirahatkan wajahnya dari semua makeup. Tidak lupa dia membawa tas nya dan ponsel.


Shanum menuju lobby. Dia ingin makan mie kocok yang ada di luar hotel, mumpung berada di Bandung.


Ketika dirinya sedang berjalan keluar hotel, sebuah tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Shanum yang terkejut kemudian reflek melakukan tinju sikut orang di belakangnya. Si penyerang terbatuk saat ulu hatinya kena. Shanum berbalik dan hendak membalas namun membatalkan saat melihat siapa pelakunya.


"HIRO?!" pekiknya.


Hiroshi membungkuk badannya, perutnya terasa sakit dan membuatnya pusing. Shanum lalu membantunya berdiri dan duduk di sebuah bangku taman.


"Kamu itu! Jangan suka mengagetkan aku!" omel Shanum sambil mengusap-usap perut liat Hiro.


"Kamu itu... Kalau tidak melakukan kdrt ke suami sendiri... nggak puas ya Shan?" ucap Hiro dengan suara tercekik.


Shanum melotot horor ke arah Hiro. "Sudah tahu istrimu bisa bela diri, masih saja nekad!"


Seorang satpam datang tergopoh-gopoh ke arah pasangan itu.


"Ibu? Bapak nggak papa? Ini bapaknya kayaknya kesakitan setelah ibu sikut tadi" satpam itu sempat melihat kejadian Shanum dipeluk dari belakang oleh Hiro dan berniat menolongnya namun diurungkan setelah Shanum berhasil menghajar pria itu hingga kesakitan.


"Saya tidak apa-apa pak. Maap ini suami saya, maksudnya mau membuat surprise malah dia yang saya kasih surprise" jawab Shanum sambil tertawa.


"Oh ya sudah Bu. Berarti aman ya?" satpam itu merasa lega karena keduanya adalah suami istri.


"Aman pak". sahut Shanum diiringi anggukan Hiro yang sudah mulai pulih wajahnya, tidak sepucat tadi.


"Tapi ibu keren lho jurusnya tadi. Pak, jangan usil sama istri yang jago beladiri, bahaya! Saya permisi" satpam itu pergi meninggalkan keduanya.


"Dengar tuh! Jangan usil ma perempuan yang bisa beladiri."


Hiro hanya tersenyum kecut. Lagi-lagi dia kena hajar istrinya.


"Kau bisa berdiri?" tanya Shanum.


"Hu um. Sudah mendingan". jawab Hiro.


"Itu baru separuh tenagaku" sahut Shanum cuek yang membuat Hiro terkejut.


Seberapa kuat dia meninju dengan sikutnya kalau full power?


***


Kini Shanum dan Hiro berada di sebuah meja makan pinggir jalan tempat gerobak mie kocok jualan. Hiro sebenarnya agak keberatan sarapan disini namun melihat tatapan judes istrinya akhirnya ia menurut.


"Si kembar meminta aku menjemputmu so pagi-pagi tadi pesawat pribadi Dad mengantarkanku kemari." jawab Hiro.


Shanum menghela nafas panjang.


"Soal liburan ke Kaliurang?"


"Hu um."


"Oke kita pulang siang ini. Toh barang-barang sudah disimpan di rumah papa. Nanti biar anak-anak butik yang mengurusnya." putus Shanum.


"Sip. Pak Darno biar antar kita nanti ke bandara dan setelah itu dia bisa kembali ke Jakarta".


Hiro membayar makanan mereka lalu keduanya berjalan beriringan menuju hotel.


"Bagaimana kau tahu aku menginap disini?" tanya Shanum.


"Apa kau lupa sayangku, Kiko selalu memberi laporan padaku" kekeh Hiro.


Shanum menepuk jidatnya. Terlalu banyak peristiwa membuatnya sedikit Lola.


"Biar nanti setelah anak-anak butik sarapan, kita kumpulkan di rumah papa." ucap Shanum.


Hiro menelpon Kiko agar segera sarapan di hotel dan mereka akan melakukan check out.


Kiko yang terkejut tuan mudanya datang segera bersiap, begitu juga dengan Tania dan lainnya. Setelah semua siap, pak Darno menjemput semuanya lalu menuju rumah Adrian.


Disana Shanum menginstruksikan apa saja yang harus dilakukan mereka untuk membenahi butik. Tania lalu memaparkan rencana kedepannya dan Shanum pun setuju. Dalam hatinya Shanum bangga melihat didikan mamanya berhasil. Semua anak-anak butik tahu job description mereka dan semuanya sangat mencintai butik mama Niken.


Setelah semuanya clear, Shanum dan Hiro berpamitan pada Tania dan lainnya untuk kembali ke Solo. Ujang diberikan tanggung jawab untuk menjaga rumah. Ke depannya butik Niken akan beroperasi di rumah milik keluarga Pratomo sampai proses renovasi selesai dan keputusan ini disetujui oleh Niken dan Adrian. Shanum nanti yang akan mendekorasi usai liburan tahun baru.


Kini Shanum, Hiro dan Kiko sudah sampai di bandara Husein Sastranegara. Pak Darno langsung kembali ke Jakarta setelah mengantarkan majikannya. Hiro bahkan memberikan uang bonus yang disebutnya hadiah tahun baru.


Sembari menunggu pesawat siap, Shanum dan Hiro membeli kopi di sebuah kedai kopi. Kiko sendiri lebih memilih membeli teh.


"Berapa lama siapnya Jasper?" tanya Hiro kepada pilot ayahnya via handphone. Shanum menatap suaminya yang mengenakan topi hitam dan masker hingga menutup separuh wajahnya seolah enggan dikenali.


"..."


"Oke, kami segera kesana". Hiro memberi kode kepada Shanum dan Kiko untuk segera beranjak ke tempat keberangkatan khusus. Shanum mengambil duffle bag dengan tangan sebelah kiri dan tangan kanannya memegang cup kopi.


"Duffel bag mu ada tali panjangnya kan?" tanya Hiro.


"Ada. Di kantong sebelah kiri." Hiro segera mengambil tali panjang lalu memasangkannya. Kini duffle bag Shanum ia selempangkan ke tubuh kekarnya.


"Ayo" Hela Hiro dengan merangkul pinggang Shanum dengan tangan kanannya.


Shanum melirik tajam ke Hiro. "Itu tangan dikondisikan kenapa?"


"Lho sudah ini! Anggap saja sebagai ungkapan maaf sudah melakukan kdrt ma suami" cengir Hiro.


"Haaaiissshhhh!" umpat Shanum tapi tidak menolak dipeluk suaminya karena hatinya sendiri merasa bersalah sudah memukul Hiro tadi.


Kiko yang berada di belakang mereka hanya tersenyum geli melihat keabsurdan pasangan yang terpisah selama tujuh tahun.


"Kiko! Nggak usah ditahan kalau mau ketawa" ucap Hiro sarkasme.


"Mana berani tuan muda" namun Kiko tetap saja tertawa.


Ketiganya berjalan ke pintu khusus tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata menatap mereka dengan tatapan tajam dan geram.


Siapa pria itu? Berani-beraninya main peluk Shanum dan Shanum tidak menolak. Harus aku cari tahu!


***