You're The Only One

You're The Only One
Cucu Sultan yang Sederhana



Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Kedua orang tua Hiro datang ke kota Solo menggunakan pesawat pribadi AJ Corp milik ayahnya. Hiro sendiri sudah menyiapkan mobil Alphard untuk orang tuanya dan satu mobil lagi untuk para pelayan yang dibawa ibunya.


Rumah Hiro yang bersebelahan dengan rumah Shanum sudah dirombak kamarnya. Sebuah kamar besar untuk kedua orangtuanya, kamarnya dia sendiri dan tambahan dua kamar baru untuk pelayan walaupun sudah ada satu kamar pembantu.


Kali ini Rudy ikut menjemput bersama dengan supir kantor yang membawa Alphard terbaru untuk big bossnya sedangkan Hiro menyetir mobil sportnya bersama kedua anak kembarnya.


Setelah menunggu sekitar satu jam, kedua orang tua Hiro muncul bersama dua orang bodyguard dan dua orang pelayan wanita. Hiro yang melihat mereka langsung menghampiri diikuti Mamoru dan Miki. Mama Raina langsung heboh melihat ketiganya.


"Anak nakal! Akhirnya mama ketemu kamu juga!" seru mama Raina sambil memeluk Mamoru dan Miki.


Hiro yang sudah merentangkan kedua tangannya langsung melongo karena mamanya malah ke arah anak-anaknya.


Kedua anak Hiro menyambut pelukan Oma mereka dengan ragu-ragu.


"As.. assalamualaikum Oma" sapa keduanya.


"wa'alaikum salam cucu-cucu Oma. Kalian sehat kan? Nggak kekurangan apapun? Daddy kalian nakal nggak? Mommymu nggak dinakalin Daddy kan? Ohya mana mommy kalian?" berondong Raina.


"Sayang, ayo masuk mobil dulu biar kita ngobrol disana" suara papa Akira membuat mama Raina tersipu.


"Halo son. Betah kau tinggal di kota ini?" lanjut Papa Akira sambil menepuk bahu Hiro lalu memeluknya.


"Alhamdulillah betah pa, biarpun kotanya kecil dibanding Dubai dan Tokyo tapi karena Shanum nyaman tinggal disini, jadi lama-lama aku pun nyaman." jawab Hiro. Memang kehidupan mereka di Solo jauh dari kata mewah karena Shanum mendidik anak-anaknya untuk tetap low profile walaupun mereka keturunan keluarga yang super kaya.


Papa Akira pun tersenyum. Putraku sudah banyak berubah. Dia bisa berbaur dengan orang-orang biasa.


"Selamat datang di kota Solo, tuan Al Jordan" sapa Rudy dengan hormat.


"Terima kasih Rudy sudah menjaga anak menantu dan cucu-cucuku" papa Akira menepuk Rudy. Kini semua rombongan berjalan menuju kendaraan yang sudah disiapkan.


"Mamoru dan Miki ikut sama Oma satu mobil yaaaa, biar opa dengan Daddy." pinta mama Raina.


Mamoru menatap ayahnya yang memberikan kode oke.


"Baik Oma, aku dan dek Miki satu mobil dengan Oma dan oom Rudy. Mobil papa terlalu sempit" jawab Mamoru sambil menggandeng Omanya.


"Heeeiii!!!" seru Hiro tidak terima yang diikuti tawa kedua orang tuanya.


"Ayo Son, papa naik mobilmu saja" papa Akira lalu menuju mobil sport hitam milik Hiro.


Kemudian iring-iringan rombongan itu mulai berjalan meninggalkan bandara.


***


Mama Raina memandang rumah satu lantai yang menurutnya imut. Bagaimana tidak dibandingkan dengan mansion keluarga Al Jordan, rumah yang dihuni Hiroshi sekarang besarnya hanya sekitar ruang keluarga mereka saja.



"Hiro, nggak salah rumah kamu seperti ini?" tanya mamanya skeptis.


"Iyalah ma, bener ini rumahku, sebelahnya rumah Shanum." Hiro mengajak kedua orangtuanya masuk diikuti kedua anaknya.


Mama Raina menelisik semua bagian rumah yang dianggapnya kecil. Bagi mama Raina yang memiliki mansion diatas tanah seluas 5000m², rumah Hiro yang diatas tanah 300 meter itu sungguh berbeda jauh.


"Ma, jangan dilihat dari ukurannya yang penting penghuninya nyaman dengan penghuni sebelah" ucap Hiro seraya memperlihatkan kamar utama untuk kedua orangtuanya.


"Wah bagusnya kamar tidur mama" seru mama Raina.



Hiro sengaja mendesain ulang kamar utamanya dengan nuansa coklat putih dan biege yang merupakan warna kesayangan mamanya.


"Nice son. Kamu tidur dimana?" tanya papa Akira.


"Ohya menantu mama ke Jakarta dalam rangka apa?" tanya mama Raina.


"Mommy ada pekerjaan disana Oma. Klien mommy minta mommy ketemu langsung" kali ini Miki yang menjawab.


"Apa tidak bisa diwakilkan? Kok malah Shanum bertemu sendiri kesana?" tanya mama Raina.


"Kliennya yang memaksa agar Shanum datang untuk konsultasi" jawab Hiro dengan nada malas.


"Siapa sih kliennya?" tanya papa Akira sambil duduk di sofa.


"Ridwan Satria".


Papa Akira menaikkan alisnya. "Pria breng... Eh pria itu? Yang bikin ulah di restoran milik Keiji?" Keiji atau biasa dipanggil Kei adalah adik Hiro.


"Iya pa, yang akhirnya papa minta deportasi itu!"


"Haaaiissshhhh, mau bikin ulah apa lagi bang... eh orang itu!!!" maki papa Akira yang hampir keceplosan berucap kasar kalau tidak ingat ada dua cucunya sedang mengamatinya.


"Opa mau ngomong kasar yaaaa" sindir Mamoru dengan muka dingin.


"Hah? Nggak kok Moru... nggak salah!" jawab papa Akira sambil tertawa.


Mama Raina dan Hiro hanya melengos melihat suami dan ayahnya mulai gesrek.


"Ohya nak, kamar buat bodyguard dan pelayan mama sudah ada?" tanya mama Raina.


"Ada ma, sudah Hiro siapkan". Hiro memberikan kode kepada Rudy agar orang-orang yang ikut orangtuanya untuk mengikuti nya.


"Miki sayang, kalian nggak papa tinggal di rumah yang seperti ini? Oma rasa rumah kalian kurang besar. Mansion Oma dan opa saja berkali-kali luasnya dibanding sini". mama Raina memandang rumah putranya yang bisa dibilang jauh sederhana dibanding apartemen nya di Tokyo atau rumah pribadinya di Dubai.


"Kata mommy, mau rumah sebesar apapun, semewah apapun, kalau penghuninya tidak bisa menghangatkan suasana rumah itu maka akan ada suasana yang kosong. Rumah kami memang tidak sebesar mansion eyang di Jakarta tapi rumah kami selalu hangat karena Mi-chan dan Ni-chan selalu bersama mommy membuat hidup suasana rumah. Mommy tidak pernah mendidik kami hidup bermewah-mewah walaupun kami bisa. Apa Oma tahu, tabungan mommy banyak lho tapi kami selalu dididik mommy hidup sederhana, low profile Dan hormat kepada siapapun dari golongan apapun." papar Miki panjang lebar.


Mama Raina terpana mendengar ucapan cucunya. Mata tajamnya melihat baju yang dipakai cucu-cucunya memang bukan barang branded yang biasa dia lihat di kawan-kawan sosialitanya namun tetap kwalitas terbaik.


"Oma kagum dengan mommy kalian padahal tahu kalian itu cucu Sultan tapi tetap mau hidup sederhana." Mama Raina memeluk Miki sayang yang dibalas gadis mungil cantik itu.


"Rudy, bagaimana kantor AJ Corp disini? Lancar ekspornya?" tanya papa Akira kepada bawahannya yang setelah membantu Hiro mengantarkan pelayan ke ruang belakang.


"Lancar tuan besar. Bahkan kami mempunyai pengrajin ekslusif yang desainnya hanya limited edition. Kontrak pun sudah kami selesaikan." jawab Rudy.


"Apakah itu desain Tante Fyneen?" tanya Miki.


"Siapa itu Tante Fyneen?" tanya mama Raina.


"Calonnya Oom Rudy, Oma".


Papa Akira melirik Rudy. "Wah nepotisme dong kamu Rud!"


"Nggak pa, aku sudah melihatnya sendiri memang desain Fyneen berbeda apalagi latar belakang pendidikannya di perbatikan." kali ini Hiro yang menjawab.


"Malah bagus dong sayang kalau mereka menikah jadi desainnya nggak lari kemana" kekeh mama Raina.


"Memang Tante Fyneen mau lari kemana Oma?" tanya Miki.


"Lari ke hatinya Oom Rudy" jawab Mamoru cuek.


"Haddeehhh tuan kecil" wajah Rudy memerah sambil mengusap tengkuknya.


***