You're The Only One

You're The Only One
Berbaikan dengan Mertua



Hari Minggu pagi ini kesibukan keluarga Al Jordan agak lengang ketika ketiga pria tampan beda usia itu menghilang menuju stadion Manahan.Sabtu kemarin Hiro, Mike dan Mamoru membeli sepeda lipat dan mereka berencana bersepeda di pagi hari seputaran area Manahan.


Nabila dan Shanum yang tahu acara ketiga pria itu pun agak santai karena mereka tidak ada di rumah. Miki sendiri sedang menunggu Tante Rana dan Tante Fyneen menjemput pagi-pagi untuk mengajak belajar membuat jajanan pasar dengan Bu Naning.


Ketika Rana dan Fyneen datang, Miki langsung berpamitan dengan mommy dan budhenya lalu berangkat menuju Mojosongo.


Kini Nabila dan Shanum berada di ruang tengah sambil menikmati teh panas dan beberapa Snack yang dibawakan oleh Rana.


"Dek, kamu dah telepon Tante Raina belum?" tanya Nabila.


"Belum mbak. Aku masih belum berani mengingat kelakuanku yang boleh dibilang kekanakan main pergi saja". Shanum tersenyum kecut.


"Wajar sih usia kamu baru 24 tahun, hamil pertama, hormon bekerja, emosi main, nalar nyungsep" kekeh Nabila.


"Ih mbak nih!" protes Shanum sambil memukul paha Nabila pelan.


Nabila lalu mengambil iPad nya dan langsung menghubungi Raina. Tak berapa lama wajah cantik mama Raina walau sudah berumur, tampak di layar iPad.


"Shaaannuuuummm!!!" seru mama Raina heboh. "Papa, lihat ini Shanum!!" papa Akira pun ikut nimbrung.


"Assalamualaikum ma, pa" sapa Shanum


"Menantu nakal! Setelah sekian lama baru hubungi kami??? Kamu harus kami hukum princess!" omel mama Raina yang membuat Shanum meringis.


"Ma, salamnya Shanum dijawab dulu. wa'alaikum salam princess" ucap papa Akira. "Kamu sehat nak? Mana anak nakal papa? Mana si kembar? Halo Nabila" Nabila melambai tangannya ke arah kedua mertua Shanum.


"Mas Hiro pergi bersepeda dengan Mas Mike dan Mamoru. Miki pergi ke rumah ibunya Rudy untuk belajar membuat Snack". jawab Shanum yang tetap membahasakan suaminya dengan sebutan 'mas' di hadapan mertuanya walaupun sekarang dia memanggil nama langsung. Belum saatnya.


"Hah, malah pergi cucuku. Pa! Sepertinya kita harus ke Solo. Urus visa semuanya, aku tidak mau kita seperti ini kucing-kucingan tidak bertemu dengan cucu-cucu kita." pinta mama Raina.


"Ma, Pa... Shanum minta maaf atas semua kesalahan Shanum yang pergi tanpa kabar hingga tujuh tahun. Shanum tidak bisa berpikir jernih pada saat itu dan emosi Shanum memang..."


"Sudahlah Num, mama dan papa juga minta maaf atas kebodohan anak nakal mama. Memang jalannya seperti ini, bahkan ada hikmah di balik semua itu. Kalian lebih dewasa dalam menghadapi segala sesuatu. Jadikan kasus kemarin menjadi catatan di pernikahan kalian agar sama-sama saling berpikir jernih apalagi sekarang kalian sudah ada anak." mama Raina mengusap matanya yang berkaca-kaca.


"Maafkan Shanum sekali lagi ma, pa" airmata Shanum pun turun di pipinya yang mulus.


"Princess, kita tutup lembaran lama yaaa. Kita buka lembaran baru. Oke?" suara papa Akira membuat hati Shanum menghangat.


"Oom Akira dan Tante Raina ayolah kemari secepatnya. Kalian berdua berlibur lah ke Solo sekalian kumpul dengan cucu-cucu. Mom bilang kalian belum pernah liburan lama" suara Nabila mencairkan suasana.


"Nah tuh pa, dengarkan Nabila. Minggu ini kita harus sudah ada di Solo ya!" mama Raina langsung semangat.


"Iya ma, kebetulan Shanum harus ke Jakarta Senin besok karena ada urusan pekerjaan yang meminta Shanum handel sendiri"


Mama Raina memincingkan mata coklatnya yang mirip dengan mata Hiro. "Jadi kamu minta mama jadi babysitter cucu mama?" Shanum dan Nabila tergelak.


"Yaaa sekalian juga nggak apa ma?"


"Kamu dan Hiro sama saja!" mama Raina memanyunkan bibirnya yang membuatnya mirip dengan Miki walaupun matanya mengerjap-ngerjap bahagia.


Keempatnya masih ngobrol banyak hingga satu jam kemudian para pria datang dari acara bersepeda.


***


Shanum yang melihat putranya makan dengan wajah ditekuk pun menatap Hiro yang duduk di seberangnya dengan tatapan bertanya. Yang ditatap hanya menggeleng.


"Bang Moru, kenapa mukanya Abang begitu?" tanya Shanum kepada putranya yang membuat ketiga orang dewasa lainnya menatap Mamoru.


"Abang sebal sama Daddy dan pakdhe Mike!"


Mike dan Hiro terkejut.


"Kenapa bang?" tanya Mike.


"Kenapa sih kalian sukanya tebar pesona? Bikin bete tahu". Mike dan Hiro langsung bergidik melihat tatapan judes para istrinya.


"Siapa yang tebar pesona bang?" tanya Hiro sambil melirik Shanum.


"Uncle Mike nggak ngerasa tuh tebar pesona" sahut Mike sambil minum air putihnya dengan gugup. Tatapan Nabila seperti hendak menelannya hidup-hidup.


"Tebar pesona gimana bang?" kali ini Nabila yang bertanya.


"Iya, tadi kita kan istirahat di sebuah cafe yang sudah buka untuk breakfast. Eh cewek-cewek ganjen pada godain Daddy dan pakdhe. Mereka berdua ini memang cuek mom, cuma aku kan sebal. Ada anaknya ini!!!" omel Mamoru.


"Maaasss..." Nabila menatap Mike dengan nada menahan emosi.


"Nab, sayangku, seperti tadi Abang bilang, kami berdua nggak menanggapi cewek-cewek itu. Sumpah! Iya kan bro?" Mike melirik Hiro seolah minta dukungan yang dijawab dengan anggukan Hiro.


"Terus?"


"Ya udah tadi selesai makan ma minum, kita langsung pulang. Kan katanya tadi kalian udah masakin nasi goreng seafood jadi kami memilih langsung pulang lah". papar Hiro.


"Bener itu bang?" tanya Shanum ke Mamoru.


"Iya sih mom."


"Berarti Daddy dan pakdhe Mike nggak tebar pesona dong bang, para ganjen itu ajah yang lebay." ucap Shanum sambil mengusap kepala putranya.


"Tapi tetap ajah Abang sebal!"


"Sebal kenapa lagi son?" tanya Hiro.


"Kenapa sih kalian punya fisik yang bikin cewek-cewek itu ganjen!" Mamoru cemberut.


"Lha ini kan dah dari orok kita keren paripurna bang" kekeh Mike yang dibalas Nabila dengan memutar matanya malas. Kumat narsisnya.


"Besok Abang kalau udah dewasa mau piara brewok ajah!"


"Lho kenapa bang?"


"Biar ga keliatan ganteng" jawab Mamoru cuek.


"HAH?"


***