
Hiro berjalan menuju kamar Shanum namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara istrinya dan mamanya. Hatinya menghangat ketika Shanum mengatakan sudah memaafkan dirinya. Rasanya ingin masuk dan menciumi bibir istrinya hingga keduanya sama-sama kehabisan nafas. Tapi niatnya dia urungkan karena harus bersabar sedikit lagi.
Seolah-olah baru datang, Hiro berlagak tidak dengar apa-apa.
"Sayaaannggg!" teriaknya yang membuat Shanum melotot kesal dan mama Raina memegang dadanya kaget.
"Kamu tuh!" Mama Raina memukul lengan Hiro ketika datang menghampiri dua wanita yang sedang duduk di sofa. "Bisa nggak sih suaranya dikondisikan?"
"Ih mama sewot ya aku manggil sayang ke Shanum" ledek Hiro.
"Num, terkadang mama nggak tahu ini anak kok bisa lebay begini ya kalau sama kamu. Perasaan mama dulu didiknya nggak begini deh!" keluh mama Raina sambil memijit pelipisnya. "Pusing mama!"
"Makanya ma, pusingnya dipindahkan ke Shanum aja" cengir Hiro sambil duduk di belakang Shanum. Tangannya langsung memeluk pinggang istrinya dan kepalanya diletakkan di ceruk leher Shanum.
"Eits ini tangannya yaaaa" Shanum berusaha melepaskan pelukan Hiro tapi pria itu tetap memeluknya erat. "Ma, tolong Shanum dong!"
Mama Raina tertawa melihat putranya bermanja-manja dengan istrinya.
"Num, sesuai permintaan anak nakal itu, pusingnya mama pindah ke tempatmu saja ya. Mama sudah lepas tangan deh!" kekeh Mama Raina sambil berdiri dan berjalan keluar kamar.
"Mama! Ma!" teriak Shanum namun hanya dijawab lambaian tangan mertuanya.
"Mama paham bangets anaknya kangen ma istrinya" bisik Hiro di telinga Shanum.
"Aduuuuhhh!" Hiro melepaskan pelukannya ketika tangannya kena cubitan dari Shanum. "Shan! Seneng banget sih KDRT in aku?"
Shanum membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan Hiro. "Makanya jangan seenaknya main peluk!"
Wajah Hiro berubah menjadi jahil dan perasaan Shanum menjadi tidak enak. Bayangan kejadian semalam di depan pintu kamar tidurnya muncul kembali.
"Kamu... kamu mau apa Hiro?" Shanum beringsut mundur dari Hiro yang memajukan tubuhnya.
"Kamu panggil aku apa?" Entah kenapa suara Hiro di telinga Shanum bernada sen**sual.
"Hi... Hiro" lirih Shanum yang melihat mata Hiro seperti berkabut.
"Mas Hiro" bisik Hiro. "Aku selalu suka jika kau memanggilku seperti itu". Kini Hiro mengungkung tubuh Shanum diatas sofa. Keduanya saling menatap dan perlahan Hiro menundukkan wajahnya mendekat ke Shanum.
Perlahan bibir Hiro menempel di bibir peach Shanum dan sejurus kemudian Melu**matnya penuh damba. Kejadian semalam pun terulang lagi. Shanum pun merasakan dirinya rindu ciuman suaminya. Entah siapa yang memulai, keduanya saling menyentuh, mere**mas dengan penuh rindu.
"Daddy !!!"
"Mommy !!!"
Kedua orang dewasa itu terkejut mendengar teriakan di depan kamar. Tampak si kembar yang menatap kedua orangtuanya dengan ekspresi berbeda.
Mama Raina datang tergopoh-gopoh mendengar teriakkan cucunya namun sejurus kemudian tertawa melihat anak dan menantunya tampak berantakan. Bahkan bibir Shanum tampak bengkak.
"Kalian itu kalau mau aneh-aneh, liat sikon dong! Ternoda kan mata anak-anak kalian!" omel mama Raina sambil tersenyum.
"Oma, Daddy kissing mommy!" lapor Miki.
"Hadeh, Dad. Kalau mau kissing mommy, pintunya ditutup dong biar ga jadi tontonan gratis!" omel Mamoru jengah.
Hiro dan Shanum hanya memandang kedua anak dan mertuanya dengan tatapan kikuk.
"Sudah sudah. Ayo, Moru, Miki, ikut Oma. Biarkan mommy dan Daddy kalian menyelesaikan masalahnya" Hela mama Raina kepada kedua cucunya.
Miki dan Mamoru berjalan mengikuti Omanya tetapi Mamoru kemudian berbalik.
"Dad, sabar dikit lah! Mommy gak kemana-mana kok!" sindirnya lalu menyusul Oma dan adiknya yang masih cekikikan.
Hiro hanya mengusap tengkuknya kasar sedangkan Shanum membenahi pakaiannya yang tersingkap dan menyisir rambutnya dengan tangan.
"Maaf sayang, aku khilaf" ucap Hiro.
"Aku juga minta maaf" Shanum pun berdiri lalu berjalan keluar kamar.
"Kamu mau kemana Shan?"
"Cari angin!"
***
"Mbak Kiko ternyata suka drakor ya?" tanya Fyneen.
"Sebenarnya aku semua drama suka. Drama Jepang juga suka" jawab Kiko sambil memotong kubis.
"Wajarlah kalau mba Kiko suka drama Jepang, kan memang orang Jepang" sahut Rana sambil tertawa.
"Mbak Kiko gimana ceritanya bisa jadi bodyguard?" kepo Fyneen.
"Aku itu anak yatim-piatu yang diangkat oleh sepasang suami istri mantan bodyguard yang beralih menjadi pelatih bodyguard untuk keluarga kerajaan Jepang. Karena hampir tiap hari melihat cara orang tuaku melatih, aku ingin menjadi bodyguard juga. Awalnya ibuku tidak setuju, cuma karena aku keras kepala, akhirnya setelah lulus SMA aku mulai bekerja menjadi bodyguard." papar Kiko.
"Terus bisa ikut nyonya Raina?" kepo Fyneen.
"Dua tahun lalu nyonya besar mencari pengawal untuk menantunya, nona Serena istri dari tuan Keiji, adik tuan Hiro selama di Jepang. Kemudian perwakilan dari AJ Corp meminta rekomendasi pengawal perempuan dan muncul namaku karena aku pernah menjadi bodyguard salah satu keluarga kerajaan Jepang. Jadilah aku mengawal nona Serena selama disana."
Kiko menarik nafas sejenak.
"Ternyata nona Serena sangat suka caraku mengawalnya lalu bilang pada nyonya besar yang menawarkan aku bergabung di jajaran para pengawal AJ Corp. Tentu saja aku mau dan sejak itu aku kebagian mengawal tuan muda walaupun sebagai pengawal bayangan" lanjutnya.
"Tapi mbak Kiko fasih bahasa Indonesia lho" puji Rana.
"Aku harus bisa berbagai macam bahasa dik Rana dan bahasa Indonesia itu wajib fasih karena nyonya besar ingin suatu saat aku menjadi pengawal pribadi istri tuan Hiro yang seorang wanita asal Indonesia. Walaupun akhirnya aku tahu nyonya Shanum sama fasihnya berbahasa Jepang" senyum Kiko.
"Wah keren bisa berbagai macam bahasa" puji Rana. "Aku baru bisa bahasa Inggris dan Korea saja karena nonton drama".
"Bagus itu bisa bahasa asing lainnya tapi kebanyakan bisa berbagai bahasa malah suka ngawur kalau ngomong. Aku pernah dalam satu kalimat semua kata aku campur kan walaupun maksudnya sama." Ketiga wanita itu tertawa.
"Eh kita malah ga konsen nonton Park Seojoon keasyikan ngobrol ini" ucap Fyneen.
"Yuk ke dapur. Kita bikin camilan buat sore ini" ajak Rana.
"Jahe sachet yang dibawa mas Rudy masih ada kan dik?" tanya Fyneen kepada calon adik iparnya.
"Masih banyak kok mbak. Mas Rudy bawa kayak mau kulakan" kekeh Rana.
"Mau gimana? Kita orangnya juga banyak!" sahut Kiko.
***
Malam harinya semua penghuni villa menikmati makan malam yang dibuat oleh para pelayan dibantu Shanum, Fyneen, Kiko, Miki dan Rana. Menu makan malam adalah bubur lemu khas Solo.
Mama Raina tidak menyangka kelima wanita muda itu sangat mahir memasak. Semua orang di villa memuji masakan khas Solo yang dibuat mereka.
Ketika para anggota keluarga inti sedang bercengkrama di ruang tengah villa, Ahmed mendatangi mereka.
"Tuan besar, mereka sudah datang" lapornya.
"Oke. Yuk kita sambut tamu agung".
Shanum melirik Hiro yang hanya mengedikkan bahunya tanda tak tahu siapa.
Semua orang yang di ruang tengah berjalan menuju depan rumah dimana dua buah mobil Alphard putih memasuki halaman villa. Ketika kedua mobil itu berhenti, turunlah sepasang suami-istri yang sangat dikenali Shanum.
"Mom? Dad? Ngapain pada kesini? Bukannya kalian di Sydney?" tanya Shanum bingung.
"Surprise?" jawab mama Niken sambil nyengir.
***
akhirnya doubel Up.
Thanks a lot atas dukungannya.
Yuk support author biar semangat nulisnya.