
Malam ini menjadi malam penuh kebahagiaan bagi dua keluarga yang memiliki kekayaan yang luar biasa namun memilih merayakan pergantian tahun dengan sederhana. Berada di sebuah villa daerah Kaliurang Jogjakarta, bersama keluarga inti dan sahabat beserta pengawal dan pelayan kepercayaan yang sudah seperti keluarga sendiri, keluarga Al Jordan dan Pratomo mengadakan pesta barbeque.
Para pria semua sibuk grill daging diatas pemanggang yang entah darimana sudah disiapkan di villa itu walaupun Shanum tahu mereka sudah merencanakan sebelumnya termasuk daging dan bumbu sausnya.
Hiro akhirnya menceritakan bahwa kedua orangtuanya sudah memesan villa itu sebelum datang ke Solo. Rencana dadakan yang harus berhasil menurut motto mama Raina. Tak heran jika semua perlengkapan dan peralatan masak untuk acara malam tahun baru sudah tersedia.
Anak-anak bahagia bermain kembang api dan petasan didampingi Opa dan Grandpa mereka. Para wanita memilih menyiapkan salad, mashed potatoes Dan kelengkapan lainnya untuk acara makan-makan.
Kiko dan Rana memilih membuat onigiri yang dibentuk dengan berbagai model. Selain segitiga, kedua gadis itu juga membuat model beruang, hati, hello Kitty ( yang membuat Miki enggan memakannya ), dan bulat.
Andhira sibuk membuat minuman sirup buah dibantu oleh Nur sembari mengawasi Savitri yang duduk di kursi bayinya sambil mengoceh tidak jelas melihat kakak dan sepupunya bermain kembang api. Mata bulatnya tampak senang melihat saudara-saudaranya berlari sana kemari. Kaki-kaki mungilnya bergerak lincah ingin ikut lari.
"Nyonya, nona Savitri tampaknya ingin ikutan lari" ucap Nur sambil tertawa melihat bayi cantik berusia enam bulan itu.
"Dia lupa kalau masih bayi belum bisa lari. Gemas lihat kakaknya heboh main jadi pengen ikut" sahut Andhira seraya tersenyum melihat putrinya yang heboh berceloteh dengan bahasa bayinya.
Kehadiran bayi Savitri membuat para pelayan wanita disana jadi gemas dan hiburan tersendiri. Para pengawal dan pelayan baik dari dua keluarga itu sangat menyayangi para majikannya yang tidak sombong walaupun mereka kaya raya.
Dedek Savitri lagi takjub melihat kembang api.
Andhira memanggil putranya Panji.
"Ada apa ma?" tanya Panji menghampiri mamanya.
"Tolong ajak adikmu ikut lihat kembang api, heboh dia dari tadi" senyum Andhira.
"Oke ma." Panji mulai mendorong stroller adik perempuannya yang beda usia sepuluh tahun.
"Ati-ati yaaa, bilang ma duo M dan Joshua jagain adiknya juga".
"Oke ma".
Bukan tanpa alasan Andhira meminta Panji membawa putrinya pergi dari situ tetapi asap dari pemanggang mulai menuju ke tempat mereka duduk. Andhira tidak mau Savitri terkena asap.
"Andhira, ini Savitri memang dibawa kemari?" tanya papa Adrian yang melihat Panji mendorong kereta bayi adiknya ke tempat mereka bermain.
"Iya pa. Dhira titip Savitri disitu ya, takut kena asap" jawab Andhira.
"Okelah kalau begitu". Papa Adrian menowel-nowel pipi chubby cucunya.
***
Hiro sedang memotong zucchini ketika ponselnya berbunyi. Lekas-lekas dia melap tangannya dengan tissue basah lalu mengambil ponselnya yang terdapat di dalam saku celana jeans-nya. Nama Keiji muncul di layar. Hiro kemudian berjalan agak menjauh dari tempat masak dimana semua keluarga berkumpul.
"Assalamualaikum Kei"
"Wa'alaikum salam bro" jawab Keiji.
"Gimana kabar Kei?"
"Kakak yang seharusnya apa kabar" kekeh Keiji.
"Aku bahagia akhirnya"
"Syukurlah kak. Maaf aku nggak bisa kesana, tahu sendiri kan malam tahun baru pasti sibuk disini."
"Tak apa Kei, doanya saja agar kakak dan Shanum tidak mengalami hal seperti dulu."
"Kakak harus ekstra waspada. Semakin tahu siapa dan apa kelemahan kakak, musuh akan menyerang titik itu. Aku dengar kakak perempuanku itu juga dikejar-kejar seorang pria di Jakarta."
"Maka dari itu, mom dad dan kakak memutuskan melakukan ijab ulang agar Shanum kakak ikat dan kakak bisa melindunginya dan anak-anak."
Hiro menghela nafas panjang mengingat anak buahnya memergoki Ridwan ada di bandara ketika dirinya hendak pulang bersama Shanum ke solo. Papa Akira memang tidak main-main untuk mengawal putra dan menantunya. Setelah tahu Shanum dan anak-anak di Solo, dia meminta Rudy untuk memberikan pengawal bayangan di luar Kiko.
"Tenang kak, kami semua akan melindungi kalian. Bilang sama kakak ipar, berhati-hati dengan orang bernama Ridwan itu. Dia orang yang berbahaya."
"Aku akan mengatakannya."
"Baik kakakku, nikmati acara malam tahun barunya. Salam buat mom dan Dad, serta semua keluarga Pratomo." pamit Keiji.
***
Shanum yang tidak melihat suaminya, bingung mencari sosok Hiro di seputaran halaman belakang dan menemukan Hiro dekat rimbunan pohon.
"Aku cari kemana-mana tadi" ucap Shanum.
"Kenapa? Apa kamu mau melakukan sesuatu denganku" Hiro menaikkan alisnya dengan muka menggoda Shanum.
"Iisshhhh kamu tuh!" Shanum memukul pelan bahu suaminya. "Ngapain kamu disitu mas?"
Entah kenapa, saban Shanum memanggilnya dengan sebutan 'mas' hatinya selalu berdesir.
"Tadi Keiji telpon, ucapin selamat untuk kita" jawab Hiro sambil menggandeng tangan Shanum berjalan menuju tempat keluarganya memasak barbeque.
"Oh ternyata Kei. Kangen juga aku ma anak itu" kekeh Shanum.
"Heeeiii" protes Hiro.
"Lho kenapa?"
"Kamu hanya boleh kangen padaku..." Hiro lalu berbisik di telinga Shanum "dan juniorku".
Shanum memukul bahu Hiro keras.
"Mesum!" umpatnya sambil meninggalkan Hiro yang masih terbahak-bahak.
Istriku ternyata masih malu-malu sampai sekarang.
***
Panji mengawasi adik perempuannya dan sepupunya. Sebagai anak tertua dari kelima anak disana, Panji merasa bertanggung jawab. Adik bayinya masih berceloteh tidak jelas tampak heboh bahagia melihat Miki bermain kembang apinya.
"Dik Sav pengen main ya? Sayangnya belum bisa ya dik..." Panji mengajak ngobrol adiknya sambil menowel hidung Savitri yang mancung. Tetiba Panji merasa ingin ke toilet, sedangkan kedua opanya sedang mengambil minuman hangat.
"Joshua!" panggilnya. Joshua pun menghampiri Panji.
"Ya mas Panji?" wajah tampan Joshua menatap bertanya.
"Tolong jagain Savitri, aku pengen ke belakang."
"Siap mas". Panji segera berlari menuju dalam villa utama.
Mamoru yang melihat kakak sepupunya pergi, kemudian mengajak Miki menemani Joshua yang duduk di sebelah kereta Savitri.
"Lho mas Panji kemana?" tanya Miki kepada Joshua.
"Katanya mau ke belakang" jawab anak laki-laki yang memiliki wajah oval itu.
"Owalaahhh kebelet Thow" sahut Miki sambil tertawa.
Mamoru pun tak lama merasakan ingin pipis.
"Bang, titip Miki ya, aku juga kebelet pipis" mamoru pun berlari ke villa menyusul Panji.
Kini tinggal Joshua, Miki dan Savitri yang sudah mulai mengantuk.
Joshua menatap wajah cantik Miki yang sedang menepuk-nepuk paha Savitri agar segera bobok. Melihat sikap Miki yang lembut pada bayi itu membuat hati Joshua berdebar.
Aku memang baru sembilan tahun tapi aku tahu, nona Miki akan menjadi ibu yang hebat.
Joshua semakin lekat menatap Miki yang kemudian mendongakkan wajahnya ke arah anak tampan itu.
"Bang Joshua? Ada apa?" tanya Miki dengan wajah polos.
"Tidak apa-apa nona Miki".
"Hah? Kamu kadang nggak jelas deh" cekikik Miki.
Joshua hanya tersenyum tipis.
Tunggu aku lima belas tahun lagi nona Miki Jasmine Al Jordan, akan kujadikan dirimu menjadi istriku.
***
Akhirnya dobel up ya hari ini.
Tararengkyu ❤️🙂❤️