
Shanum menatap tumpukan baju-baju yang sudah diselamatkan dari butik di ruang tengah rumah orangtuanya di Bandung. Ayahnya memang membeli rumah ini untuk disewakan dan tiga bulan lalu si penyewa tidak memperpanjangnya jadi sekarang rumah itu dalam kondisi kosong.
Shanum merasa beruntung rumah di dekat butik itu kosong disaat seperti ini jadi semua yang ada di butik bisa disimpan sementara. Tidak perlu menyewa tempat untuk meletakkan barang-barang yang bisa diselamatkan.
Kini kelima pegawai butik itu segera melakukan pengecekan dari buku besar stok karena komputer mengalami kerusakan akibat tersiram alat penyiram api. Beruntung buku stok disimpan oleh Iin di sebuah lemari besi jadi terselamatkan dari air.
"Tania, dicek yang benar ya" ucap Shanum sambil mengawasi pekerjaan mereka. Shanum sendiri tidak hapal isi butik di Bandung dan kelima pegawainya memiliki teknik kerja tersendiri.
"Siap mba" sahut Tania sambil tetap mencatat.
Ponsel Shanum berbunyi dan dia melirik nama yang muncul.
Ridwan Satria.
Shanum mengacuhkan panggilan itu.
Kiko datang membawa makanan untuk mereka semua bersama pak Darno. Hari ini hari yang melelahkan bagi mereka semua tapi semua harus makan.
Ponsel Shanum terus berbunyi dan wanita itu tetap mengacuhkannya.
"Nyonya? Tidak diangkat?" tanya Kiko yang tidak tahu siapa yang menelepon.
Shanum hanya menatap Kiko sambil menunjukkan ponselnya dan gadis Jepang itu memakluminya. Shanum kemudian merubah setting ponselnya menjadi silent kecuali keluarganya yang tetap bisa berdering.
"Ayo kita makan dulu" Shanum mengajak semuanya untuk makan bento yang sudah dibawa oleh Kiko.
Tak lama semuanya pun makan sambil mengobrol macam-macam namun semuanya didominasi kelima pegawai butik yang bercerita tentang butik mama Niken. Shanum mendengarkan cerita mereka dengan antusias. Jujur selama ini dirinya tidak terlalu ikut terjun di bisnis butik mamanya yang bertebaran di kota besar Indonesia. Karena mama Niken lebih banyak dibantu oleh Mutiara istri Reza tapi karena mereka sekarang sedang berada di Sydney.
Shanum melihat bagaimana Tania, Iin dan lainnya sangat mencintai tempat mereka mencari nafkah karena mama Niken memperlakukan mereka dengan baik. Semuanya sudah seperti keluarga sendiri di mata mama Niken.
Usai makan, semuanya membereskan tempat bento untuk dimasukkan di kantong sampah besar yang memang sengaja dibeli Kiko. Pak Darno meletakkan sampah itu diluar rumah. Shanum mengajak semuanya untuk shalat asar berjamaah di rumah itu dengan pak Darno sebagai imamnya kecuali Kiko yang memang memiliki keyakinan berbeda.
Kiko melangkahkan kakinya menuju teras rumah untuk menikmati pemandangan lalu lintas. Rumah milik Adrian memang berada di pinggir jalan.
Ternyata kota Bandung lebih ribet dari Tokyo.
Suara ponsel Kiko berbunyi. Tampak nama Nyonya Raina disana.
"Selamat sore nyonya besar" sapanya setelah menggeser tombol hijau.
"Sore Kiko. Mana menantuku? Kok tidak diangkat telponnya?"
"Nyonya muda sedang sholat asar berjamaah nyonya besar".
"Oh baiklah. Bagaimana butik besanku? Apakah parah?"
"Untungnya tidak nyonya besar hanya memang stok yang tersimpan di gudang belakang hampir ludes dan kondisi gudang lumayan parah tapi tadi nyonya muda dengan nyonya Niken sudah mendapatkan solusinya. Jadi tinggal membenahi kekacauan yang ada".
"Syukurlah. Kau temani menantuku ya Ko, seperti kau menemaniku dulu. Aku telpon besanku dulu."
"Baik nyonya besar."
Kiko kembali menikmati kemacetan di depannya karena ini sudah masuk jam pulang kantor. Shanum yang mencari asistennya, datang menemani Kiko, membiarkan pegawai butik mamanya bekerja.
"Mama mertuaku menelpon dirimu ya Ko?" tanya Shanum sambil melihat ponselnya. Pada saat dia sholat tadi memang mendengar dering ponselnya yang berada di dalam tas.
"Iya nyonya, beliau bertanya keadaan nyonya dan butik nyonya Niken."
Shanum mengangguk. "Paling habis ini kedua mamaku sibuk bergosip". Kiko tersenyum. Dia memang belum pernah bertemu dengan nyonya Niken tapi dari cerita tadi para pegawai butik, paling tidak ada gambaran bahwa nyonya Niken memiliki sifat mirip nyonya Raina.
"Tampaknya kita tidak bisa pulang malam ini Ko. Kita pesan hotel dekat sini saja untuk istirahat malam ini." Shanum kemudian membuka aplikasi untuk mencari hotel terdekat dan membookingnya.
"Bu Shanum".
Shanum menoleh. Tampak Ujang, satu-satunya pegawai butik pria yang menjadi security datang menghampiri Shanum.
"Ada apa Ujang?"
"Bu, saya mau minta ijin untuk tidur malam ini disini sekalian menjaga barang-barang butik. Mungkin buat orang lain bukan barang berharga tapi ini tanggung jawab saya Bu."
"Apa ada tempat tidur disini?" Shanum belum mengecek kelengkapan perabot karena biasanya rumah ini disewa sebagai kantor bukan sebagai tempat tinggal.
"Saya lihat ada dipan kecil di belakang yang mungkin perabot tertinggal dari penyewa lama. Tinggal dibersihkan sebentar sudah nyaman. Pula listrik dan air aman Bu dan kalau mau makan juga banyak warung sekitar sini." jawab Ujang.
"Saya sudah mengirimkan pesan pada istri saya Bu dan dia mengerti. Biar saya disini dulu, istri sama anak saya tidak apa saya tinggal semalam."
"Baiklah Jang kalau itu memang maumu." ucap Shanum.
"Saya juga biar menemani Ujang disini nona Shanum" timpal pak Darno tiba-tiba.
"Lho pak Darno jadi ikutan nemani Ujang?" tanya Shanum kaget.
"Iya non. Tadi bapak dengar dari mbak Tania dan lainnya kalau mereka harus lembur membenahi semua stok disini. Kasian juga kalau Ujang sendirian menjaga semua barang."
"Padahal saya sudah pesan kamar hotel untuk bapak juga." ucap Shanum.
"Dibatalkan saja gimana non? Kasian Ujang sendirian."
Shanum melihat dua orang pria berbeda usia itu dengan tatapan mengerti.
"Baiklah, pak Darno sama Ujang disini sekalian mobilnya masuk ke garasi nanti. Saya dan Kiko bisa naik ojol. Santai saja lah" putus Shanum.
"Maaf nyonya Shanum, tadi nyonya pesan kamar berapa?" tanya Kiko.
"Aku pesan dua kamar double bed semua karena tadinya aku pikir sekamar denganmu Ko."
"Bagaimana kalau kamar satunya kita tawarkan kepada Tania dan yang lainnya. Hotel depan sana kan nyonya?" tawar Kiko.
"Oh iya, mereka kan mau lembur daripada pulang malam-malam ke rumah masing-masing yang jaraknya lumayan. Pula bahaya anak gadis jalan malam hari."
"Nanti biar saya antar ke hotel non kalau mereka mau istirahat".
"Boleh pak Darno. Mereka biar istirahat nanti malam setelah sehari ini kita disibukkan dengan berbagai peristiwa." Shanum setuju dengan ide asistennya.
Setelahnya Shanum menjelaskan rencananya malam ini dan semua menyambut senang ide anak bossnya. Mereka sendiri sebenarnya tidak masalah jika harus tidur di rumah itu tapi bisa istirahat di hotel berbintang pun lebih baik walaupun harus berbagi tempat tidur. Keempat pegawainya menolak ketika Shanum menawarkan untuk menambah kamar lagi.
"Nggak usah mbak Shanum, boros!" sahut Iin.
"Lagian cuma semalam mbak, mending duitnya buat makan enak" timpal Indah yang memang punya bodi lebyar sambil nyengir.
"Kamu tuh pikirannya makan melulu!" omel Tania geli.
"Tania, nanti kamu tidur bersama saya dan Kiko. Indah biar di kasur sendiri, kasian nanti yang tidur bareng Indah bisa jatuh kena senggol bumpernya yang aduhai" goda Shanum.
"Aih mbak Shanum, jangan nistakan diriku dong. Ini tuh nggak gemuk tapi montok" Rajuk Indah dramatis tanpa tersinggung.
Semua orang tertawa mendengar celoteh gadis manis itu. Mottonya Indah adalah biarkan montok yang penting sehat dan energik.
"Saya tinggal dulu ya, nanti kalian diantar pak Darno ke hotel. Nanti saya kirimkan nomor kamar kalian."
"Waduh!" seru Indah.
"Kenapa Ndah?" tanya Tania kaget.
"Kalian sadar nggak sih, kita-kita kalau diantar pak Darno ke hotel kok rasanya kayak dianterin bapak ger**mo yaaaa" celepos Indah tanpa dosa.
Tak ayal tubuh montoknya jadi korban keplakan dari teman-temannya.
"Kalau ngomong tuh pakai otak, dodol!" maki Iin.
"Kamu tuh kebanyakan baca novel plus plus sih!" omel Tania.
"Lho lho lho, kok bodiku yang aduhai ini jadi korban pukulan kalian? Ini bodi anak perawan bukan samsak!" keluhnya sambil mengusap-usap lengannya yang jadi korban keplakan pedas. "Tapi bener kan mba Shanum, orang kan bisa saja kepikiran begitu?" Indah menatap Shanum minta pembelaan.
"Otakmu ajah yang kebanyakan traveling Ndah!" kekeh Shanum.
"Pak Darno nanti ga usah anterin turun ke lobby ya. Runtuh Marwah aku nanti" pinta Indah ke pak Darno yang hanya melongo mendengar ucapan gak jelas gadis gemuk itu.
"INDAAAHHH!"
"Apaan sih pada teriak-teriak? Biasa aja keles". sahut Indah cuek. "Yuk, nyetok lagi".
***