
Miki bersiap untuk menuju hotel Alila untuk wawancara pekerjaan sebagai chef disana. Berkat CV dan surat rekomendasi dari restauran di Tokyo, Miki langsung wawancara yang sebenarnya hanya formalitas. Pihak hotel atau restauran mana yang begitu bodohnya menolak chef pastry keturunan Al Jordan dan Pratomo?
Miki menghela nafas panjang. Dua mobil yang terdapat di garasi adalah mobil mahal semua.
Yang benar saja aku wawancara kerja memakai Lamborghini atau Porsche? Ini pasti mobilnya Moru dan Daddy!
Pak Tarman, penjaga rumah Solo Baru memandang majikan cantiknya dengan tatapan bingung.
"Nona Miki kenapa? Mobilnya selalu dipanasi dan servis rutin kok. Tuan Rudy sendiri yang mengecek keadaan mobil disini."
Miki menatap pak Tarman. "Bukan masalah mobilnya tokcer atau nggak, tapi saya yang nggak nyaman. Masa mau wawancara kerja bawanya Lambo atau Porsche? Dikira saya meremehkan nanti."
"Tapi kan tempat nona kerja tahu nona anaknya siapa?" kekeh pak Tarman yang sangat menyukai majikannya yang low profile biarpun kekayaannya nggak bakalan habis tujuh turunan.
"Ya tahu tapi nggak gini juga! Udahlah aku naik ojek online saja. Nanti sepulang wawancara, ke dealer mobil beli mobil yang masuk akal harganya" gerutu Miki.
Pak Tarman tertawa.
Nona Miki beli mobil seperti beli kacang rebus.
***
Akhirnya Miki naik ojek online untuk sampai ke Alila. Bahkan sang manajer yang tidak sengaja melihat Miki turun dari pak ojek hanya melongo. Bahkan ketika wawancara tadi, manajer itu tidak dapat menahan untuk bertanya.
"Tadi saya melihat anda turun dari ojek online. Apa anda tidak malu, nona Miki?"
"Ini bagian dari wawancara atau?" Miki menjeda ucapannya.
"Menjawab rasa penasaran saya" jawab manager yang berusia 40 tahun itu.
"Saya orangnya simpel, pak. Karena saya tadi terburu buru, jadi naik ojol itu adalah hal yang masuk akal. Praktis ga capek." Miki tersenyum. "Ada yang lain pak?"
"Err, tidak ada nona Miki. Mari saya antar ke kitchen dan saya perkenalkan dengan para staff disana."
Manajer dan Miki pun berjalan keluar menuju dapur. Sesampainya disana, Miki diperkenalkan sebagai chef bagian pantry dan semua orang pun menyambutnya dengan senang hati.
Hari ini pun Miki langsung mulai bekerja dan dia segera membuat banyak pastry yang lezat-lezat.
***
Jam enam sore Miki keluar dari hotel dan hendak memesan ojek online. Namun ketika ia menunduk melihat ponselnya, seseorang sudah berdiri di hadapannya. Tampak Joshua dengan gaya santainya menatap gadis itu.
"Yuk pulang" ucapnya.
"Hah?" Miki bengong melihat kakak angkatnya.
"Ayo pulang. Aku tahu kamu nggak mau bawa mobil yang di garasi kan?" cengir Joshua.
"Iya sih. Ya udah, ayok bang" senyum Miki.
Joshua berhenti tiba-tiba yang membuat Miki berjalan di belakangnya menubruk punggungnya.
"Astaga Bang! Kalau mau berhenti bilang dong! Hidung Miki jadi minimalis ini! Mana tuh punggung keras banget sih!" omel Miki sambil mengusap-usap hidungnya.
Joshua tidak menjawab namun ia berbalik dan dengan lembut mengusap pipi Miki.
"Masih ada sisa tepungnya" ucap pria tampan itu.
Miki terperangah. Jantungnya langsung berdetak kencang.
Perasaan apa ini? Dulu berdekatan dengan Brad,
jantung ku nggak seperti ini.
"Kamu tuh dari dulu nggak pernah berubah saban bikin kue. Pasti ada yang cemong." Joshua pun melanjutkan jalannya menuju mobil hitamnya.
Miki masih tertegun dengan perbuatan Joshua.
"Dik, mau pulang nggak?" panggil Joshua yang malah bingung melihat Miki masih mematung.
"Eh iya iya bang!" Miki pun bergegas menuju mobil.
***
Keduanya sedang berada dalam mobil Joshua ketika suara ponsel Miki berbunyi. Tampak nama 'Mommy' di layar ponselnya.
"Wa'alaikum salam. Gimana hari pertama kerja?"
"Alhamdulillah lancar mom."
"Kamu pulang sama siapa?"
"Sama bang Joshua mom."
"Kok ga naik mobil yang di rumah?" Shanum sendiri sudah tahu ceritanya dari pak Tarman.
"Ish mommy tuh gimana, masa aku hari pertama baru mau wawancara udah naik Lambo atau Porsche? Yang bener ajah mom!" omel Miki. "Bisa nggak sih kalian ada mobil yang sederhana di rumah? FIAT kek, Toyota kek, Honda kek asal yang simpel."
Joshua tertawa mendengar Omelan Miki. Gadis itu memang tidak suka berlebihan.
"Ya sudah, besok Dad kirim mobil yang biasa" sahut Hiro yang ternyata ikut mendengarkan keluhan putrinya.
"No Dad, besok biar Miki beli sendiri ke dealer. Dad kalau membelikan suka yang over lebay" potong Miki.
"Mini Cooper ajah kok princess" rayu Hiro.
"No Dad! Biar aku cari dan beli sendiri pakai uangku sendiri hasil kerja selama ini."
"Besok saya temani dik Miki kok papa Hiro" potong Joshua menengahi keributan antara papa Hiro dan putrinya.
"Ah Joshua, tolong besok bantu Carikan mobil yang bagus buat princess papa ya" pinta Hiro.
"Beres pa" jawab Joshua.
***
Sesampainya di rumah solo baru, Joshua baru melihat garasi milik keluarga Al Jordan. Senyum geli terbit di wajahnya.
"Bener kan bang? Gimana aku mau pakai kalau mobil di rumah cuma ada ini?" omel Miki sambil masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang nona Miki, den Joshua" sapa Bik Yuni, istri pak Tarman yang bertugas memasak dan membersihkan rumah rutin sejak Miki pulang ke solo. Sebelumnya, Bik Yuni hanya membersihkan seminggu tiga kali dan sekarang dia ikut tinggal di rumah itu untuk menemani Miki.
"Malam bik. Saya tak mandi dulu ya. Tolong buatkan minum buat bang Joshua." Miki pun langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya.
"Den Joshua mau minum apa?" tanya Bik Yuni.
"Teh boleh bik," jawabnya sambil melihat-lihat rumah yang sudah lama tidak ia tengok. Tidak banyak yang berubah.
"Baik den." Bik Yuni pun berjalan menuju dapur.
Joshua melihat foto-foto keluarga Al Jordan yang tertata rapi. Foto Miki dan Mamoru wisuda pun ada. Miki memang mengambil kuliah jurusan culinary spesialis pastry sedangkan Mamoru memilih Harvard Medical School sesuai keinginannya walaupun sekarang dia belajar bisnis perusahaan keluarganya di waktu liburan semester.
"Bang."
Joshua menoleh ke arah suara Miki yang tampak mengenakan kaos rumah dan celana legging hitam.
"Kenapa dik?"
"Ini isinya apa?" Miki menunjukkan kotak yang diberikan Joshua 15 tahun lalu.
"Bukalah besok tepat kamu berulang tahun dan kamu akan tahu apa isinya" senyum Joshua misterius.
"Abang nggak kasih Miki bom kan?" mata coklat Miki memincing ke wajah Joshua yang tergelak.
"Masa Abang Setega itu sih?"
"Awas kalau isinya macem-macem!" ancam Miki.
Nggak macem-macem kok sayang. Cuma semacam saja.
***
Yuhuuu
Sorry baru up.
Sinyal lagi ngajak berantem plus cuaca jelek jadi sering mati lampu.
Don't forget to like vote n gift yaaaa
Tararengkyu ❤️🙂❤️