You're The Only One

You're The Only One
It's A ... - Season 2



Tak terasa Miki dan Joshua sudah tinggal di Cambridge Massachusetts selama tiga bulan. Keduanya memilih tinggal di apartemen milik Joshua yang memang dekat dengan kampus Massachusetts Institute Technology atau MIT tempat pria itu mengajar.


Miki sendiri menikmati kehidupannya sebagai ibu rumah tangga dengan memasak makanan kesukaan Joshua, membersihkan rumah dan ngobrol dengan mommy dan mamanya. Hingga saat ini, Miki dan Joshua tidak memikirkan soal keturunan karena mereka masih menikmati kehidupan menjadi suami istri.


Hari ini Joshua pulang lebih cepat dari jam biasanya karena dia mendapatkan berita yang harus dibicarakan dengan istrinya.


"Assalamualaikum sayang" sapanya ketika dirinya masuk ke dalam apartemen.



"Wa'alaikum salam. Di dapur bang" jawab Miki.


Joshua memeluk dan mencium pipi istrinya.


"Aku mandi dulu ya."


"Iya bang, aku selesaikan masaknya dulu. Tanggung" sahut Miki sembari masih mengaduk-aduk fettuccini.


***


Joshua dan Miki menikmati makan malam setelah mereka melaksanakan ibadah sholat Maghrib berjamaah. Malam ini Miki sengaja memasak dengan tema pasta. Entah kenapa dia beberapa hari ini inginnya makan pasta berbagai model.



"Pasta lagi sayang?" tanya Joshua.


"Hu um. Nggak tahu aku dah beberapa hari ini pengennya makan pasta berbagai macam resep" ucap Miki sembari memasukkan suapan lasagna.


Joshua menatap intens istrinya. Ada yang nggak beres ini! Jangan-jangan...


"Jangan-jangan kamu hamil sayang."


Miki menghentikan menggulung fettuccini nya. "Hah? Nggak mungkin bang! Wong aku dapet kemarin..." Miki terdiam.


Bulan ini aku belum dapat. Bulan kemarin hanya dua hari itu pun sedikit.


"Kamu apa nggak ingat? Semenjak kita tinggal disini, kita hampir tiap hari berhubungan lho sayang."


Ucapan Joshua membuat Miki terhenyak.


"Apakah aku ... hamil bang?"


Joshua tersenyum. "Kalau hamil, Abang akan tanggung jawab" ucapnya ambigu yang langsung bahunya dipukul Miki.


"Abang tuh! Benar kita pacaran tapi kan sudah legal dan Abang wajib tanggung jawab kan ini Abang yang menanam benih!" omel Miki yang dibalas tawa Joshua.


"Kalau kamu hamil, Abang malah bahagia karena waktunya pas."


"Maksud Abang apa?"


"Abang mendapatkan tawaran untuk mengajar di Tokyo University. Sebenarnya yang menawarkan Oom Alex sih karena Oom ingin pensiun menikmati masa tua dengan Tante Midori."


"Kita pindah ke Jepang?" seru Miki bahagia.


"Kalau kamu tidak keberatan sih" jawab Joshua.


"Jelas tidak! Kan mommy dan Daddy di Tokyo. Kalau aku hamil lebih ayem kalau dekat mommy!" wajah Miki tampak sumringah.


"Berarti Abang terima saja ya tawaran dari Oom Alex? Kamu juga tidak sendirian disana. Ada adikmu Yuki, Kenzo dan Keanu juga."


"Besok aku akan coba test pack bang. Kalau aku hamil, nanti kita konsultasi ke dokter boleh nggak perjalanan jauh ke Jepang."


Joshua mencium pipi Miki. "Abang sih yakin kamu hamil, sayang."


***


Pagi-pagi Miki sudah menggunakan alat test pack yang dibelikan Joshua semalam. Gadis cantik itu harap-harap cemas dengan hasilnya.


Bagaimana kalau negatif? Abang bisa kecewa dong!


Miki memang selama ini tidak pernah menggunakan test pack karena mereka sendiri masih menikmati acara pengantin baru.


Dilihatnya hasil dari alat test pack nya.


"Sayang? Gimana?" tanya Joshua dari balik pintu kamar mandi.


"Masuklah bang" ucap Miki pelan.


Joshua pun membuka pintu kamar mandi dan melihat hasil test pack yang tergeletak di wastafel. Matanya melebar dan bibirnya berubah menjadi senyuman lebar.



"Positif?" tanya Joshua bahagia.


Miki mengangguk dengan wajah menahan tangis bahagia. Joshua langsung memeluk istrinya yang masih terduduk di kloset.


"Kita ke dokter saja sekarang!" seru Joshua.


"Telpon budhe Nabila dulu. Kan sekarang dia kerja lagi di Massachusetts General Hospital."


"Terserah padamu! Abang mau mandi dulu terus kita ke rumah sakit bersama-sama."


Miki hanya terdiam. Joshua yang melihat perubahan istrinya menjadi bingung.


Apa dia tidak mau punya anak?


"Kamu kenapa sayang?"


"Mandi bareng... Mau?" bisik Miki.


Joshua nyaris tergelak melihat wajah istrinya malu-malu.


"Hayuk lah mandi bareng biar cepat ke rumah sakitnya" kekeh Joshua yang langsung membuat Miki sumringah.


Bumil itu emang aneh-aneh.


***


Nabila menyambut keponakannya dengan wajah bahagia. Mereka terakhir bertemu ketika Miki dan Joshua menikah dan sejak itu mereka hanya bertemu via zoom keluarga.


"Miki sayang" serunya sambil memeluk keponakannya lalu beralih ke Joshua.


"Budhe" senyum Miki. "Eh pakdhe ku yang lebay tralala dimana?"


"Pakdhemu lagi melakukan operasi. Yuk budhe antar ke teman budhe."


Nabila menggandeng kedua keponakannya dan berasa memiliki dua orang anak besar-besar.


"Tunggu sini ya" ucap Nabila.


Miki dan Joshua pun duduk di kursi ruang tunggu. Keduanya saling menggenggam tangan masing-masing.


"Yuk masuk!" Nabila menjulurkan badannya meminta kedua keponakannya masuk.


Joshua dan Miki pun masuk yang ternyata adalah ruangan dokter kandungan.


"Perkenalkan ini keponakan ku, Miki dan Joshua Akandra. Miki dan Joshua, ini dokter Alicia Lee sahabat budhe dan dia seorang dokter kandungan."


"Halo. Salam kenal Miki dan Joshua. Okay, apa keluhan kalian?" tanya dokter berwajah oriental itu ramah. Dilihat dari usianya tidak berbeda jauh dengan budhe Nabilanya, sekitar lima puluhan.


"Tadi pagi kami eh Miki melakukan test pack. Hasilnya positif dan kami ingin mengetahui benar atau tidaknya Miki hamil karena menyangkut situasi yang akan terjadi dalam sebulan ini" papar Joshua.


"Situasi apa Josh?" tanya Nabila panik.


"Kami hendak pindah ke Jepang, budhe" jawab Miki.


"Ya ampun, baru saja ketemu dah mau pindah lagi? Josh, omonganmu nggak lucu! Ini situasi wajar bukan situasi gawat!" omel Nabila.


Dokter Alicia hanya tertawa melihat keributan di depannya.


"Ya udah, yuk kita periksa calon bumilnya."


Miki pun tiduran diatas brankar dan dengan lembut dokter Alicia membuka kaos yang dipakainya dan mengoleskan gel di perutnya yang sedikit membuncit. Kemudian dokter itu menggerakkan transduser diatas perut Miki.


"Nab, lihat ini. Sudah ada kelihatan di dinding rahim keponakanmu." Dokter Alicia memperlihatkan di monitor.


"Selamat Miki, kamu hamil anak kembar dan usianya sudah berjalan 8 Minggu."



Miki dan Joshua tidak menyangka bahwa mereka akan memiliki anak kembar. Bersama dengan Nabila, ketiganya mengucapkan Alhamdulillah.


"Apakah kalian ada keturunan kembar?" tanya dokter Alicia.


"Aku kembar dok" jawab Miki dengan wajah masih takjub melihat gambar kedua baby-nya yang masih di dalam perut.


"Wow, sebenarnya jarang sih anak kembar bisa hamil kembar walau kemungkinan itu ada" ucap dokter Alicia.


"Apa jenis kelaminnya bisa diketahui dok?" tanya Joshua penasaran.


"Ini belum kelihatan sih Josh. Eh kalian tidak apa kan aku panggil nama seperti Nabila? Soalnya kalian seperti anak-anakku karena umurnya sepantaran."


"It's okay dok" senyum Miki.


"Kalau Miki terbang ke Tokyo, tidak ada masalah?" tanya Joshua lagi.


"Tenang saja Josh, kandungan Miki kuat kok. Nanti aku kasih obat penguat kandungan dan vitamin. Ada keluhan makan atau mual-mual?"


"Aku sekarang sukanya makan pasta sih" jawab Miki.


"Pasta boleh asal tetap makan sayur ya. Ohya jangan sering-sering ditengok ya anaknya, tunggu tri semester kedua apalagi menjelang kelahiran itu malah dianjurkan" kedip Dokter Alicia.


Nabila terbahak. "Belum ditanya sudah kau jawab Lis."


"Aku kan juga pernah muda, Nab jadi tahu lah apa yang di otak anak muda" kekehnya.


Joshua dan Miki hanya tersenyum mendengar ucapan dokter Alicia.


***


Yuhuuu


Up brunch dulu Yaaaa


Eniwaiii author lagi ga enak bodi


Jadi kalau oke tar sore atau malam up lagi insyaallah


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️