You're The Only One

You're The Only One
Gotcha!



Shanum dan ketiga anak di hadapannya sibuk membaca menu. Seperti biasa, Miki selalu minta makan sepulang sekolah dengan alasan otaknya capek harus belajar matematika. Berbeda dengan Mamoru yang suka pelajaran eksakta, Miki lebih suka pelajaran menghapal.


"Ya mommy, makan di adem ayem yaaaa" Rayunya sepanjang perjalanan membuat semua yang berada di dalam mobil merasa jengah.


"Iyain ajah mom, biar nggak ngroweng kayak tawon!" umpat Mamoru kesal.


"Joshua, nggak papa kan kita makan dulu sebelum antar kamu pulang?" tanya Shanum.


"Nggak papa kok mama Shanum" jawab Joshua tersenyum. Sejak Rudy menikah dengan Fyneen, lalu Joshua satu sekolah dengan si kembar, panggilan ke Shanum dan Hiro pun berganti atas permintaan kedua pasangan Al Jordan itu.


"Yes! Aku mau gudeg ayamnya!" seru Miki.


Sekarang keempatnya pun berada di restoran favorit Miki. Shanum dan Miki memesan nasi gudeg istimewa, Mamoru lebih memilih nasi langgi sedangkan Joshua memilih nasi rames. Untuk minuman, kompak memesan soda gembira.


Sembari menunggu pesanan datang, Shanum berinteraksi dengan ketiga anaknya. Mamoru bercerita bahwa dia terpilih ikut seleksi olimpiade tingkat SD se kota Solo. Joshua bercerita tentang dirinya mendapat surat cinta yang tentu saja menjadi obyek Bullyan si kembar.


"Bang Joshua cakep sih jadinya ditaksir banyak cewek" kekeh Miki.


"Gaya kali kau bang" ledek Mamoru.


Joshua hanya tersipu.


Padahal yang aku suka sudah ada di hadapan ku.


"Ya ampun Josh. Papa ma mama kamu kalau tahu bakalan heboh deh". Shanum tertawa.


"Padahal Josh kan baru kelas lima." Setelah pindah dari Jogja, Joshua mengikuti kelas akselerasi dan loncat ke kelas lima.


"Nggak papa Josh. Berarti cewek-cewek di kelasmu matanya bagus" ucapan Shanum diikuti oleh tawa si kembar.


"Mama Shanum ih..." gerutu Joshua kesal.


Shanum hanya tersenyum. Dalam hatinya dia bersyukur punya anak-anak yang selalu bercerita apapun di sekolah jadi dia tahu bagaimana mereka.


Seorang pelayan membawakan pesanan mereka dan wajah Miki tampak berbinar-binar melihat makanan favoritnya.



"Itadakimasu!" serunya setelah membaca doa makan.


Mamoru dan Joshua hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perilaku Miki yang selalu excited saban menemukan makanan favoritnya.


Shanum pun hendak menyantap pesanannya ketika suara ponselnya berbunyi.


Dilihatnya nama Hiro disana.


"Assalamualaikum sayang".


" ... "


"Iya kita sekarang di adem ayem."


" ... "


"Oke. Mau dipesankan apa?"


" ... "


"Oke. Wa'alaikum salam."


Shanum pun memanggil seorang pelayan untuk menyampaikan pesanan dari suaminya.


"Daddy mau kesini kah mom?" tanya Miki.


"Iya, tadi meeting dengan Oom Kei sudah selesai terus nyusul kita deh."


Sudah dua Minggu ini Kiko memang tidak mengawal Shanum karena dia ada acara keluarga di Jepang. Menurut rencana Minggu depan dia kembali ke solo untuk mengawal Shanum.


Tak berapa lama, Hiro pun datang bersama Rudy dan dua pengawalnya.


"Halo. Yuk maem. Sudah datang semua nih pesanannya" ajak Shanum.


***


Ridwan tadinya hendak mendekati Shanum namun ia urungkan begitu dia melihat dua anak lelakinya seperti mengintai sekeliling meja walaupun tidak ketara namun Ridwan tahu mereka bukan anak sembarangan.


Ditambah tak lama Hiro datang bersama tiga orang masuk ke dalam restoran dan menghampiri Shanum dan memberikan ciuman di kening wanita itu.


Emosi Ridwan memuncak, meyakini bahwa kini Shanum tidak bisa ia gapai karena dia harus berhadapan tidak hanya dengan Adrian Pratomo tapi juga salah satu anak Akira Al Jordan.


Ridwan sudah cukup kenyang berhadapan dengan Keiji Al Jordan, dia tidak mau berhadapan dengan Hiroshi Al Jordan.


Setidaknya tidak hari ini.


Ridwan tetap berada di sana melihat interaksi keluarga itu.


***


Hiro menatap putranya yang bercerita bahwa dia akan ikut seleksi olimpiade matematika dengan perasaan kagum.


"Keren kamu son! Berjuang ya, jangan meremehkan lawanmu. Daddy tahu kamu mampu tapi jangan sampai itu menjadikan bumerang buatmu. Masih banyak orang yang lebih darimu tapi mereka tidak memperlihatkan."


Mamoru mengangguk. Dia tahu bahwa dia memiliki otak cerdas, apalagi saingannya di sekolahnya tidak sebanding dengan dirinya namun dia tidak tahu apakah nanti pada saat di propinsi saingannya di bawahnya atau diatas nya. Membuat dirinya semakin semangat untuk belajarnya.


"Okelah di sekolah kamu paling pintar tapi kamu belum bertemu dengan peserta dari sekolah lain. Pesan daddy, don't judge book from it's cover. Orang yang kamu lihat dan anggap lemah, bisa jadi dia melebihi kamu. Begitu juga sebaliknya, yang kuat belum tentu sesuai dengan fisiknya." Hiro memberi nasihat pada putra kesayangannya.


"Dan yang pasti, kamu harus belajar membaca bahasa tubuh seseorang. Kalian kan juga sudah belajar bela diri jadi sedikit banyak kalian bisa mengira-ngira serangannya kemana." Shanum ikut menimbrung.


"Nanti Daddy ajarkan bagaimana bisa membaca bahasa tubuh seseorang karena dari situ Daddy bisa menjadi seperti ini. Saingan bisnis banyak, yang ingin menjatuhkan kita banyak. Oleh karena itu, kalian harus belajar hal kecil-kecil tapi penting sejak dini."


Ketiga anak disana mendengarkan ucapan Hiro dan Shanum. Apalagi Joshua yang sangat antusias. Dia merasa sebagai anak yatim-piatu yang diangkat anak, dia membutuhkan self defense mechanism lebih karena dia sendiri meskipun papa Rudy dan mama Fyneen sangat menyayanginya.


Aku harus bisa membuktikan pada papa Hiro bahwa aku pantas menjadi pasangan Miki suatu hari nanti. Semua trik bisnis papa Hiro dan papa Rudy akan aku pelajari sungguh-sungguh.


"Sepertinya ada yang memandangiku dari tadi" bisik Shanum ke Hiro.


"Aku tahu" jawab Hiro dengan berbisik juga. "Hanya saja aku tidak mau anak-anak tahu."


"Kalian masih mau nambah makan lagi nggak?" tanya Shanum seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Sudah cukup mommy" jawab Miki.


"Kalau gitu, kalian bertiga pulang dengan Oom Rudy ya. Daddy dan Mommy ada urusan bentar." Hiro menatap Rudy seperti memberikan kode yang dijawab dengan anggukan. Shanum kemudian menyerahkan kunci mobilnya lalu pergi membayar makanan mereka.


Mamoru dan Joshua tahu ada yang disembunyikan oleh orang tua mereka hanya terdiam. Mereka tahu bahwa keduanya bisa menjaga diri.


"Ayo kita pulang. Tuan muda, nona muda, Joshua" ajak Rudy yang menerima kunci dari nyonyanya.


Ketiga anak itu menurut untuk menunggu Shanum datang lalu masing-masing mencium pipi Hiro dan Shanum bergantian setelah wanita itu kembali ke meja mereka.


"Hati-hati Mom" bisik Mamoru yang dibalas kedipan sebelah mata mommynya.


Setelah Rudy dan tiga bocah itu benar-benar pergi dari restoran, Hiro dan Shanum saling menatap.


"Ready?" tanya Hiro kepada Shanum yang dijawab dengan senyuman.


Keduanya kemudian berjalan saling menggenggam tangan masing-masing diikuti dua pengawal di belakang. Berlagak hendak keluar restoran, namun keduanya berbelok menuju meja Ridwan yang tidak sempat pergi.


Hiro tersenyum namun setiap orang yang melihatnya tahu itu bukan senyuman tulus.


"Selamat siang Pak Ridwan. Angin apa yang membawa anda ke Solo hari ini?"


Ridwan hanya menatap Hiro dan Shanum terkejut.


***