You're The Only One

You're The Only One
Somasi



Tak terasa kini sudah sebulan Shanum dan Hiro menjalani kehidupan sebagai suami istri. Hiro pun memilih pindah dari Manahan selama rumah disana dalam proses renovasi. Hiro benar-benar ingin menyatukan dua rumah yang bersebelahan menjadi rumah impian keduanya untuk nanti pensiun.


Selama rumah Manahan masih dibongkar, keluarga Al Jordan membeli sebuah rumah yang cukup besar di daerah Solo Baru yang letaknya lebih dekat dengan sekolah si kembar. Rudy pun sudah melangsungkan pernikahan dengan Fyneen dan menjadikan Joshua pun pindah di sekolah yang berbarengan si kembar.


Hiro sendiri lebih memilih bekerja dari Solo dibantu oleh Rudy. Kantor cabang AJ Corp menjadi kantor Hiro sekarang yang membuat para pegawainya heboh karena big bossnya lebih suka tinggal di Solo.


Kehidupan mereka pun layaknya kehidupan rumah tangga lainnya. Ribut tiap pagi hendak berangkat kantor dan sekolah, pertengkaran kecil antara si kembar dan level kebucinan Hiro yang naik sekian level ke istrinya.


"Sayaaannggg, lihat ponsel aku nggak?" teriak Hiro dari dalam kamar.


Shanum yang sedang membuat sarapan dengan bik Sum hanya menghela nafas panjang. Tanpa menjawab teriakan suaminya, Shanum mendial nomor suaminya melalui ponselnya yang selalu dia bawa karena entah suaminya atau anak-anaknya suka lupa menaruh gadget itu.


"Sudah ketemu sayang!" teriak Hiro lagi.


Bik Sum cekikikan mendengar kehebohan yang hampir tiap hari terjadi.


"Nyonya, kayaknya dulu waktu tuan Hiro belum disini, semua serba teratur, nyaman ya. Tapi setelah tuan Hiro tinggal disini, kenapa den Miki dan den Moru jadi ikutan kayak Daddynya?" komentar bik Sum.


"Tauk deh bik. Hasil didikan ku jadi berantakan gara-gara Daddynya selengekan gitu!" omel Shanum kesal.


"Tapi kata mas Rudy, di kantor tuan berbeda lho. Dingin banget sampai-sampai pada sungkan ma tuan."


"Dulu mas Hiro nggak seperti ini lho bik, kaku kayak Moru kalau ketemu orang asing. Aku nggak tahu dia kesambit apa".


"Enak ajah bilang aku kesambit!" omel sebuah suara bariton yang terdengar di dapur.


Shanum hanya melengos sambil membawa piring besar nasi goreng seafood kesukaan si kembar. Hiro pun mengekor di belakang istrinya.


"Mas, anak-anak dipanggil dulu deh buat sarapan bareng."


Hiro tak bergeming namun malah memeluk Shanum dari belakang.


"Eh lepasin. Aku mau mandi bentar bau masakan ini" Shanum berusaha melepaskan dari pelukan suaminya.


"Nggak usah mandi, aku suka baumu yang bercampur bau masakan karena kamu memasak penuh cinta buat suamimu ini dan anak-anak kita." gombal Hiro yang membuat Shanum jengah.


"Daddy ngapain peluk-peluk mommy melulu!" suara Miki terdengar sebal melihat kedua orang tuanya malah berpelukan di meja makan.


"Nggak puas apa Dad, udah tiap malam kekepin mommy, pagi-pagi pun?" kali ini Mamoru yang protes.


Si kembar pun duduk di kursi sambil menatap dua orang dewasa yang menyusul mereka untuk duduk.


"Kan Daddy lama nggak sama mommymu jadi wajar dong kalau nggak puas-puas" cengir Hiro.


"Haaaiissshhhh!" umpat Shanum malas.


"Ampun deh ortuku" gerutu Mamoru.


"Maem yuk! Mi-chan dah lapar ini!"


Shanum pun mengambilkan nasi goreng untuk suami dan anak-anaknya.


***


Shanum mengerenyitkan alisnya. Ferdi memberikan kabar kurang menyenangkan pagi ini. Ridwan Satria memberikan somasi kepada Shanum secara pribadi karena melalaikan perjanjian untuk renovasi ruang kerjanya.


Padahal selama Shanum tidak kembali ke Jakarta, Ferdi dan tim yang menyelesaikan semua pekerjaan seusai dengan permintaan Ridwan, bahkan sudah selesai seminggu lalu. Ferdi memberikan alasan jika Shanum harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di luar negeri yang sudah terikat kontrak sebelum menerima pekerjaan dari Ridwan namun pria itu tampaknya enggan menerima alasan itu yang akhirnya memberikan somasi.


Setelah menikah, Shanum memang memutuskan untuk menikmati kehidupan menjadi istri dan ibu rumah tangga. Beberapa pekerjaan dia selesaikan di rumah dan asisten nya yang melaksanakan di lokasi. Hiro sendiri tidak mau Shanum pergi jauh-jauh darinya, bahkan dia mengorbankan pekerjaannya di Tokyo demi bersama Shanum karena anak-anak lebih betah di Solo.


Shanum mengambil ponselnya lalu menelpon Ferdi.


"wa'alaikum salam Fer" setelah asistennya menyapanya. "Bagaimana bisa saya diberi somasi?"


"Karena selama renovasi, Bu Shanum tidak pernah datang jadi itu yang menjadi alasan somasi pak Ridwan."


"Apakah papa tahu?"


"Pak Adrian belum tahu Bu. Surat somasi saja saya baru mendapatkan pagi ini setelah Bu Sasha menginfo saya duluan. Mungkin sebentar lagi pak Adrian tahu."


"Aku akan menghubungi Oom Hotman, pengacara papa untuk berkonsultasi langkah apa yang sebaiknya kita ambil. Apa pak Ridwan sudah menyelesaikan pembayarannya?"


"Pak Ridwan baru membayar separuh dari semua biaya dan beliau tidak mau membayar jika Bu Shanum tidak mau hadir ke Jakarta dan memenuhi surat somasi".


Sebenarnya tanpa harus meminta sisa pembayaran, Shanum tidak merasa terlalu rugi karena perusahaan keluarganya stabil di keuangan. Hanya saja surat somasi itu bisa merusak kredibilitas perusahaan dan nama baiknya.


"Baik Fer. Kabari update lebih lanjut."


***


Shanum berjalan mondar mandir di ruang kerjanya bersama Hiro. Nama baik dirinya benar-benar dipertaruhkan.


Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke AJ Corp untuk bertemu Hiro dan sekalian melakukan telepon dengan pengacara Hotman di kantor suaminya.


"Bik Sum, aku ke kantor mas Hiro dulu ya" pamit Shanum.


"Hati-hati nyonya".


Penjaga di depan melihat nyonyanya hendak pergi lalu membuka gerbang. Shanum menstater HR-V nya lalu keluar dari rumah mewah itu menuju kantor cabang AJ Corp.


***


Shanum tiba di kantor Hiro yang disambut oleh beberapa karyawan yang memberikan hormat kepada istri bossnya. Fyneen yang baru saja keluar dari ruangannya terkejut melihat mbakyunya datang tiba-tiba.


"Bu Shanum" sapa Fyneen. Di kantor, Fyneen memang memanggil Shanum dengan panggilan formal.


"Halo Fy".


"Ibu mau ketemu bapak?" tanya Fyneen. "Mari saya antar". Keduanya lalu masuk lift menuju lantai lima, tampak Fyneen membawakan sebuah paper bag kecil.


"Thanks dik" jika hanya berdua tanpa ada orang lain, Shanum dan Fyneen merubah panggilan menjadi informal.


"Mbak keliatan kusut" komentar Fyneen.


"Kelihatan ya? Mbak lagi bete" jawab Shanum.


"Sabar mbak, semua pasti ada jalan keluarnya." Fyneen tersenyum yang menular ke Shanum.


"Kau benar dik."


TING !


Suara lift berhenti dan tak lama pintu lift terbuka. Tampak Rudy baru saja keluar dari ruangan Hiro dan wajahnya terkejut melihat istrinya dan istri bossnya keluar bersama dari lift.


"Lho sayang? Bu Shanum? Ada apa kemari?" tanya Rudy bingung.


"Aku hanya mengantarkan mbak Shanum kok sekalian membawakan camilan buat mas" jawab Fyneen seraya memberikan paper bag kecil yang berisikan kotak makan.


"Lho kalian tadi nggak berangkat bareng?" tanya Shanum heran.


"Nggak Bu, saya berangkat duluan untuk mengecek ekspedisi dan bea cukai jadi tadi Fy berangkat sendiri" jawab Rudy.


"Oh begitu. Bapak ada dik Rudy?" tanya Shanum.


"Ada Bu, masuk saja."


Shanum pun mengetuk pintu ruang kerja Hiro dan terdengar suara yang menyuruhnya masuk. Wanita itu pun membuka pintu dan Hiro mendongak tersenyum melihat istrinya datang.


"Sayang!" panggilnya.


Shanum pun menutup pintu dan berjalan mendekati Hiro.


Hiro menatap Shanum sambil tersenyum namun sedetik kemudian wajahnya berubah serius.


"Kenapa si Ridwan Bangs***at itu mengirim somasi kepadamu?"


***