You're The Only One

You're The Only One
Bertemu Ridwan



Shanum sudah sampai di kantor pusat PRC group dan langsung meminta Ferdi dan Sasha sekretaris ayahnya untuk membahas permintaan Ridwan Satria. Pagi tadi Shanum terbang ke Jakarta menggunakan pesawat pribadi milik Hiro dengan seorang pengawal perempuan yang bernama Kiko.


Kiko sendiri diminta Hiro terbang dari Jepang pada hari Sabtu. Minggu malam Hiro memperkenalkan gadis berwajah dingin itu kepada Shanum usai mereka mengantarkan Mike dan Nabila yang kembali ke Boston.


Shanum sendiri sebenarnya keberatan dengan adanya pengawal pribadi tapi Hiro memaksa apalagi yang dihadapi adalah salah satu orang terbrengsek ( menurut Hiro ) dan pria itu tidak mau terjadi sesuatu dengan istrinya.


Kini di sebuah ruangan pertemuan, tampak hadir Ridwan dengan sekretarisnya Magda yang mengenakan pakaian seksi dan Hugo asistennya. Shanum sendiri berada di seberang meja dengan diapit Sasha, Kiko dan Ferdi. Berkas, blue print, tab, laptop sudah berada di meja.


"Selamat pagi pak Ridwan, selamat datang di kantor PRC group." sapa Ferdi dengan nada resmi.


"Selamat pagi Ferdi." balas Ridwan dengan nada sedikit angkuh yang membuat telinga Shanum risih.


Memang seberapa sih kekayaanmu hingga sombongnya amit-amit begini? batin Shanum.


"Perkenalkan ini ibu Shanum, manajer utama divisi desain interior, ibu Sasha serta nona Kiko sekretaris dan asisten Bu Shanum." Ferdi memperkenalkan mereka.


Mata Ridwan tidak lepas dari wajah Shanum yang memasang raut datar dan dingin. Bahkan wanita itu hanya mengangguk tanpa senyum.


Cewek ini berbeda dari yang lain. Aku harus bisa menaklukannya. Ridwan tersenyum smirk yang tidak terlepas dari pandangan tajam Kiko.


Kiko memberikan catatan menggunakan huruf Jepang ke arah Shanum yang meliriknya paham.


Hugo lalu memperkenalkan boss dan sekretarisnya.


"Jadi pak Ridwan, desain mana yang membuat bapak tidak cocok? Bapak bisa mendiskusikan dengan kami, kebetulan ibu Shanum bisa hadir di sela-sela kesibukannya". Ferdi lalu membuka slide dari laptopnya ke arah layar sisi kanan.


"Saya hanya mau tahu siapa desainer ruangan kerja saya dan ternyata desainernya cantik sekali." rayu Ridwan tanpa melepaskan pandangannya ke Shanum yang mengacuhkannya.


"Ehem, pak Ridwan. Bisa kah fokus ke desainnya? Karena Bu Shanum masih ada janji lagi." kali ini Sasha yang berbicara. Dia merasa jengah melihat bossnya dipandangi seperti itu.


Ridwan melirik ke arah Sasha dengan pandangan tidak suka.


"Saya mau merubah semuanya dan saya mau nona Shanum yang langsung terjun mengurus semuanya!"


ucapnya santai.


Shanum mendelik, begitu juga Kiko dan Sasha.


"Maap pak Ridwan. Saya masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Klien saya bukan hanya anda. Bukankah selama ini anda biasa berkonsultasi dengan pak Ferdi?" akhirnya Shanum membuka suara. Hatinya merasa dongkol dengan permintaan yang semua orang tahu ada niatan terselubung itu.


"Saya tidak peduli akan hal itu bahkan jika perlu saya minta kontrak eksklusif hanya dengan anda yang mengurus semuanya. Saya berani membayar jasa anda tiga kali lipat dari tarif yang anda pasang!" Ridwan merasa penasaran dengan wanita dingin di depannya.


Kiko yang mendengar kalimat sedikit melecehkan nyonyanya sudah hampir tak tahan ingin menghajar pria sok tampan di depannya, namun ditahan Shanum.


"Walaupun bapak membayar jasa saya sepuluh kali lipat pun, saya tetap menolaknya karena sebelum bapak sudah ada banyak klien yang sudah membuat kontrak kerja dengan kami. Jika anda ingin kontrak eksklusif hanya saya yang terjun, maaf tidak bisa."


"Anda terlalu sombong nona Shanum!" maki Ridwan.


"Saya hanya bersikap profesional. Saya harus menyelesaikan pekerjaan saya yang sudah ada sebelumnya dan semua itu tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Semua pegawai di divisi desain interior adalah tenaga-tenaga ahli yang kompeten. Anda sudah tahu bagaimana kinerja pak Ferdi dan jangan khawatir saya tetap memeriksa kinerja anak buah saya di lapangan tapi jika bapak meminta saya full hanya untuk perusahaan bapak, maafkan saya tidak bisa."


Ridwan menatap Shanum geram namun berubah ketika mendengar Shanum tetap mengecek langsung ke lapangan walaupun tidak seharian. Setidaknya ada kesempatan untuk mendekati wanita cantik itu.


"Maafkan saya nona Shanum. Mungkin saya terlalu semangat bisa bertemu dengan anda setelah sekian Minggu belum bisa bertemu desainer utama." Merendah sedikit Wan, jangan sampai dia lepas!


Shanum hanya mengangguk dengan muka datarnya.


"Baik pak Ridwan, bisa dijelaskan mana layout desain yang harus dirubah?" tanya Ferdi mencairkan suasana.


Lalu Ridwan menunjukkan mana yang ingin dirubah dan diskusi diantara kedua kubu pun berlangsung hingga mendekati makan siang.


"Saya kira cukup jelas ya nona Shanum dengan apa yang saya minta." Ridwan menutup diskusinya.


"Baik pak Ridwan, saya akan segera selesaikan sesuai permintaan bapak." Shanum berdiri diikuti oleh semuanya. "Selamat siang pak Ridwan, pak Hugo dan Bu Magda". ucapnya sambil menyalami ketiga tamunya. Ketika tangannya digenggam lama oleh Ridwan, lekas-lekas Shanum mencoba melepaskan namun sulit karena genggaman itu makin erat.


"Makan siang denganku nona Shanum" pinta Ridwan merayu.


Tanpa berucap apa-apa, Shanum berhasil melepaskan genggaman tangan Ridwan dengan teknik krav maganya yang membuat pria itu terkejut.


Ternyata wanita ini sangat menggemaskan!


"Terima kasih pak Ridwan tapi saya sudah ada janji. Permisi". Shanum membalikkan tubuhnya tanpa peduli tamu-tamunya diikuti oleh Kiko.


Setelah Shanum menghilang dari ruang pertemuan, Ridwan terkekeh. Harum parfum yang dipakai Shanum memabukkan dirinya.


"Boss kalian sangat menarik! Jangan salahkan aku jika hendak mendekati bossmu!" tawa Ridwan sambil keluar ruangan diikuti dua asistennya. "Kontrak kerjasama kita akan saya berikan pada bossmu besok!"


Ferdi dan Sasha saling menatap.


Bagaimana kalau tuan Hiro tahu istrinya diincar pria buaya macam Ridwan Satria ini! batin Sasha.


Tuan Hiro harus tahu! Ferdi segera melaporkan kejadian ini kepada Hiro yang sudah memintanya menjaga Shanum selama di perusahaan walaupun sudah ada Kiko.


***


Ruangan Shanum.


Shanum mencuci tangannya berkali-kali dengan sabun disinfektan seakan-akan tangannya kena kuman penyakit yang mematikan. Dirinya kesal bertemu dengan pria macam Ridwan. Memang bukan sekali ini klien-klien prianya menatap kagum pada dirinya namun mereka masih bersikap sopan padanya.


Rasanya dia ingin memukul samsak melampiaskan emosinya.


"Nyonya? Nyonya tidak apa-apa?" tanya Kiko setelah melihat Shanum keluar dari kamar mandi dengan muka kesal.


"Haaaahhhh rasanya aku ingin membatalkan kontrak dengan pria brengsek itu! Tapi nanti nama baik perusahaan jadi tercemar mengingat perusahaannya juga punya nama di negeri ini" geram Shanum.


"Tapi setelah saya selidiki nyonya, perusahaannya tidak lebih kaya dari perusahaan keluarga anda. Bahkan jauh jika dibandingkan dengan milik tuan Hiro". sahut Kiko.


"Jika aku mau bisa saja kita hancurkan cuma aku ingin mengikuti permainan orang licik itu. Mas Hiro sendiri sudah memperingatkan siapa dia." tanpa sadar Shanum membahasakan panggilan suaminya. Kiko tersenyum tipis. Kalau tuan tahu dipanggil seperti ini lagi, bahagianya.


"Kita harus hati-hati nyonya" jawab Kiko.


"Sudahlah, kita makan siang dulu. Memikirkan orang unfaedah itu membuatku lapar. Bagaimana kalau kita makan sushi?" Shanum mengambil tas, ponsel dan kunci mobilnya.


"Saya ikut saja nyonya" Kiko mengekor Shanum yang sudah keluar ruangan.


***


Kota Solo.


Hiro geram mendapatkan laporan baik dari Ferdi dan Kiko walaupun dirinya bangga istrinya bisa menjaga dirinya namun tetap saja ada perasaan bersalah tidak berada disana menjaga istrinya.


Hari ini dia di rumah bersama kedua anak kembarnya yang asyik melihat Daddynya bekerja dan mulai belajar bisnis keluarga Daddynya. Miki yang semula tidak terlalu menyukai bisnis, mulai tertarik ketika tahu perusahaan Daddynya bukan hanya di properti, mall dan minyak melainkan bidang restoran pun dijabah. Miki yang bercita-cita menjadi chef dan memiliki restauran seperti Oomnya Ryu, mulai belajar dari Daddynya.


Besok kedua grandparents dari pihak ayahnya datang ke Solo dan duo M tidak sabar bertemu pertama kalinya. Hiro sendiri sudah menyusun rencana akan segera menyusul istrinya jika kedua orangtuanya sudah datang. Hatinya tak tenang memikirkan pria brengsek yang berani mendekati istrinya.


***


Halo, maap author baru up.


Author banyak pekerjaan di dunia nyata sampai-sampai tidak sempat up.


**Terimakasih yang sudah like novel perdana author.


❤️❤️❤️**