You're The Only One

You're The Only One
Appa - Season 2



Pagi ini Joshua dikejutkan dengan pengakuan Miki bahwa dirinya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di Alila.


"Kenapa kamu mau berhenti kerja sayang?" tanya Joshua ketika keduanya sedang sarapan di meja makan.


"Aku sama Abang tidak pacaran dulu langsung menikah. Sejujurnya aku ingin pacaran bareng Abang, anggap ajah pacaran legal" kekeh Miki.


"Hhmmm. Jadi kamu pengen tahu rasanya pacaran dulu kah?" tanya Joshua sambil mengelus kepala istrinya.


Miki mengangguk.


"Abang sih nggak papa kamu nggak bekerja karena penghasilan Abang bisa memenuhi keinginan kamu."


"Bang, kan Abang tahu sendiri aku dari keluarga seperti apa. Soal baju, tas atau sepatu aku sudah punya banyak. Aku hanya khilaf kalau ada alat masak baru dan keren" gelaknya.


"Jadi kamu tetap mau mengundurkan diri?"


"Iya bang."


"Abang mendukung keputusanmu. Boleh dibilang Abang termasuk pria kuno yang menginginkan istri di rumah saja, biar Abang yang mencari uang. Abang sangat berterimakasih kamu mau berhenti kerja karena memang keinginanmu."


"Jadi? Kita bisa ke rumah appa besok sekalian mengetahui hasil tes DNA nya" seru Miki.


"Hhhmmm. Oke besok ke rumah pak Yudhi."


***


Hari Sabtu pagi ini Joshua dan Miki bersiap untuk pergi ke Delanggu menemui Yudhi. Edward, Bryan dan pengawal lainnya sudah kembali ke London, sedangkan Sofyan dan Ricky disuruhnya tinggal di rumah sewaan untuk menjaga Yudhi. Bagi kedua pengawal yang aslinya berdarah Indonesia tapi sejak remaja sudah terdampar di London dan direkrut oleh Bryan Smith menjadi pegawainya, tinggal di Indonesia sekarang adalah suatu berkah tersendiri.


Miki telah membuat banyak panganan untuk dibawakan ke tempat mertuanya yang lain. Joshua hanya mengerenyitkan dahinya melihat banyaknya makanan yang dibuat istrinya.



"Kamu bikin berapa bento?" tanya Joshua yang melihat banyaknya kotak bento.


"Aku bikin lima kotak bento bang. Kan ada appa, Abang, aku, kak Sofyan dan Kak Ricky."


Joshua mencium pipi istrinya. "Baiklah sayang. Ayo jangan lama, biar kita nggak kesiangan."


***


Joshua dan Miki sudah sampai di daerah rumah Yudhi. Tampak Sofyan berada di depan rumah sembari membaca koran. Begitu melihat mobil Joshua, Sofyan segera menyingkirkan korannya dan menyambut keponakan bossnya.


"Tuan Joshua" sapanya yang membuat pria tampan itu cemberut ketika turun dari mobil.


"Jangan panggil saya seperti itu mas" cebiknya. "Usia kita nggak beda jauh kok."


"Panggil mas saja gimana?" ucap Miki.


"Kedengarannya lebih enak." Joshua menyetujui ucapan istrinya.


"Oke lah mas Joshua" kekeh Sofyan.


"Ohya, ini buat kak Sofyan dan kak Ricky." Miki menyerahkan sebuah paper bag ke Sofyan.


"Terimakasih mbak Miki. Ohya mas, ini hasil test DNA nya." Sofyan menyerahkan sebuah amplop putih yang masih bersegel berlogo sebuah rumah sakit di Solo.


"Terimakasih. Aku ke rumah pak Yudhi dulu."


"Monggo mas, mbak."


Joshua dan Miki pun berjalan bersama menuju rumah Yudhi yang hanya berjarak beberapa meter. Mobil Joshua sengaja diparkir di halaman rumah sewa Sofyan.


Joshua mengetuk pintu rumah Yudhi yang langsung membukanya dengan sumringah.


"Masuk nak. Kamu pasti menantuku, Miki bukan?" sapa Yudhi ramah.


Miki pun mencium tangan Yudhi seperti biasa dia lakukan kepada orang tua dan diikuti oleh Joshua.


"Silahkan duduk, maaf rumah appa cuma seperti ini."


"Dapurnya dimana appa?" tanya Miki.


"Kamu mau masak nduk?" Yudhi balik bertanya.


Miki tertawa. "Tidak appa, mau membuka bento yang sudah aku siapkan."


"Lorong situ belok kanan."


Miki pun menuju tempat yang ditunjuk Yudhi.


Joshua duduk berhadapan dengan Yudhi.


"Hasil test DNA sudah keluar pak." Joshua menyerahkan amplop yang diberikan oleh Sofyan diatas meja tamu.


"Bukalah" pinta Yudhi.


Yudhi hanya mengangguk menatap Joshua mengerti.


Tak lama Miki datang dengan tiga bento dan meletakkan diatas meja. Lalu dia menuju dapur lagi dan kembali dengan membawa poci teh serta cangkir untuk tiga orang.


"Apa nak Sofyan dan nak Ricky sudah mendapatkan bentomu nduk?" tanya Yudhi.


"Sampun appa" jawab Miki.


Yudhi tersenyum mendengar jawaban Miki.


"Kamu tidak salah memilih istri, nak" ucap Yudhi yang dibalas dengan senyuman Joshua.


"Aku mencintainya sejak aku berusia sepuluh tahun hingga sekarang. Sudah pasti aku tidak salah pilih pak" jawab pria berkulit putih itu.


"Ayo dimakan. Nanti setelah kenyang, baru kita buka sama-sama suratnya" bujuk Miki.


"Wah, sudah lama appa tidak makan ini nduk. Terimakasih sudah membuatnya" puji Yudhi yang membuat pipi Miki merona.


"Syukurlah kalau appa suka" jawab Miki. Joshua hanya menatap bangga kepada istrinya karena masakannya memang enak.


***


Usai makan, Miki pun membersihkan peralatan makan mereka di dapur sedangkan kedua pria itu malah memilih merokok bersama.


"Apakah kamu perokok aktif nak?" tanya Yudhi sembari menghembuskan nafasnya.


"Tidak pak. Hanya sesekali jika aku gugup."


Tak lama Miki pun datang dan bergabung dengan kedua pria berbeda usia itu yang segera mematikan rokoknya.


"Well, dibuka sekarang suratnya?" tanya Miki penasaran.


"Appa serahkan padamu untuk membukanya, nak."


Joshua pun mengambil surat itu dan dengan pelan menyobek pinggirannya. Lalu satu lembar kertas pun diambilnya.


Pria itu kemudian menggenggam tangan Miki tanda dirinya butuh kekuatan untuk membaca surat tersebut. Tiba-tiba Joshua menitikkan air mata. Yudhi segera mengambil kertas itu dan dia pun sama dengan Joshua.


Tingkat Kecocokan 99,9%.


Joshua berdiri dan berjalan menuju Yudhi.


"Ya ampun, anakku. nae adeul, my son" bisik Yudhi yang langsung berdiri memeluk Joshua.


Kedua pria beda usia yang terpisah selama 25 tahun itu saling menangis bersama. Miki pun tak mampu membendung air matanya melihat pemandangan mengharukan di hadapannya.


"Maafkan appa nak, maafkan appa" bisik Yudhi berulang-ulang.


Joshua hanya menggeleng dalam pelukan ayah kandungnya.


"Appa tidak bersalah. Joshua hanya bersyukur bisa bertemu dengan orang tua kandung Joshua." Pria itu memeluk erat ayah kandungnya.


"Appa sangat bahagia, di usia senja masih diberi kesempatan bertemu denganmu dan menantuku." Yudhi melerai pelukannya lalu memeluk Miki yang ikut berdiri. "Terimakasih sudah mau bersama dengan anak appa."


"Aku yang beruntung mendapatkan anak appa" ucap Miki.


Joshua menatap interaksi istri dan ayahnya dengan perasaan terharu.


"Ohya, kapan appa kamu kenalkan ke orang tua kamu nak? Siapa namanya, Rudy dan Fyneen?" tanya Yudhi usai mereka selesai berpelukan.


"Sejujurnya aku belum bercerita kepada papa dan mama. Sepulang dari sini, aku dan Miki akan menemui mereka."


"Apakah mereka memiliki anak selain kamu?"


"Aku memiliki seorang adik tiri bernama Sabrina. Dia berusia 15 tahun."


"Appa akan senang bertemu dengan kedua orangtuamu yang sudah merawat mu sedari kecil."


"Aku rasa mereka pun akan merasakan hal yang sama" senyum Joshua.



***


Yuhuuu


Udah up ya part agak melow


Thank you readersku


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️