You're The Only One

You're The Only One
Mommy Serem



Hiro dan Shanum pun mulai mengurus kepindahan mereka. Bukan saja sekolah anak-anak tapi juga paspor mereka. Hiro sendiri memegang dua paspor UAE dan Jepang, Shanum memegang paspor Indonesia. Anak-anak sendiri ikut Shanum dan sekarang Hiro memutuskan anak-anak memiliki tiga kewarganegaraan, Indonesia, Jepang dan UAE. Memiliki kakek dan orang tua yang berpengaruh, memudahkan pemberian paspor mereka.


Untuk sekolah di Tokyo, keduanya meminta Alexa dan Alex Reeves, sepupu mereka, untuk mencarikan sekolah yang terbaik dan Alexa menyarankan ke almamater duo K. Hiro pun setuju karena sekolah dasar yang dipilih Alexa memang sekolah yang bagus dan keamanan terjamin.


Usai urusan paspor dan sekolah anak-anak, Hiro memikirkan rumah karena dia sudah menjual rumah lama mereka yang di Tokyo setelah Shanum pergi dan selama itu dia tinggal di apartemennya. Sebulan sebelum Ameer pergi ke Australia, Hiro memintanya mencarikan rumah yang dekat dengan sekolah anak-anak, kantor dan apartemen keluarga Pratomo. Hiro tidak mau tinggal di apartemen milik Shanum karena sebagai laki-laki, dia mau memberikan rumah dari uangnya sendiri.


Rumah Manahan yang sudah rampung 80% tetap dilanjutkan dan tetap diawasi oleh Rudy yang kembali menjabat General manager AJ Corp Solo. Rumah solo baru tetap dibersihkan berkala karena itu milik Miki dan Mamoru. Suatu saat jika mereka pulang ke Solo, bisa tinggal disana sebab rumah Manahan untuk pensiun kedua orangtuanya.


"Lha rumah Manahan kenapa kita nggak boleh tinggal disana Dad?" protes Mamoru.


"Nggak bisa lah, itu rumah khusus punya mommy dan Daddy. Kan kamu dah ada rumah solo baru." Hiro mendelik ke Mamoru.


"Dih, segitunya Daddy bucin ke mommy" decih Mamoru. "Mpe tua dikekepin melulu tuh mommy!"


"Besok kalau sudah menikah, kamu akan tahu rasanya" cengir Hiro.


"Awas kalau Daddy bikin perkara di Tokyo. Aku yang maju ngehajar Daddy duluan" ancam Mamoru.


"Woooiiii, anak nakal!" Hiro pun memeting leher Mamoru yang tergelak. "Kamu bener-bener ketularan bar-barnya mommymu!"


Mamoru ketawa terbahak-bahak. "Ya iyalah, kan aku anak mommy... Wek!"


Kedua ayah dan anak itu masih asyik bercanda ketika merasa ada yang berdiri di belakang mereka.


"Katanya mau beresin barang, kok malah smack down itu gimana?" Shanum berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang.


"Eh iya mom"


"Baik sayangkuuuu"


Shanum pun pergi meninggalkan kedua pria kesayangannya untuk kembali membereskan barang-barangnya di kamar utama.


"Dad sih!"


"Kamu juga sih! Tapi mommy mu memang serem kalau dah keluar aura judesnya" ucap Hiro sambil berpura-pura bergidik.


"Dad tahu, waktu kita awal pindah sini, ada ibu-ibu ibunya temenku meledek kita karena nggak ada Daddy. Mom tahu itu dan Dad tahu apa yang dilakukan mommy?" Hiro menggeleng.


"Mom memeriksa si ibu itu, diselediki sampai detail. Terus pas mommy jemput kita, si ibu itu nyindir lagi ke mommy eh mommy dengan tenangnya bilang 'setidaknya anak-anak saya lahir dari pernikahan resmi walaupun ayahnya masih bekerja di luar negeri, tidak seperti anda yang punya anak lahir di luar nikah tidak hanya satu tetapi dua! Dan suami anda sekarang adalah suami yang menurut saya suami hebat karena mau menerima anda yang punya dua anak di luar nikah dengan dua pria berbeda. Bersyukur Bu, punya suami kayak gitu bukan anda makin julid! Orang yang tidak pernah bersyukur akan keberkahan Tuhan baru menyadari setelah dia merasakan kehilangan'" papar Mamoru.


Hiro tercengang. Istrinya memang bar-bar.


"Mommy berbicara seperti itu di depan orang banyak kah?" tanya Hiro.


"Hu um karena mommy melihat sendiri kami dipermalukan di depan orang banyak. Jadi sekalian dia juga harus merasakan hal yang sama" ucap Mamoru.


"Mommy mu benar-benar menyelidiki sendiri?" tanya Hiro penasaran.


"Minta bantuan oom Bryan sih" cengir Mamoru. Bryan adalah hacker bekas pengawal Nabila, anak buah Edward Blair tangan kanan ayah mertua kakak Shanum itu.


"Haaaiissshhhh, susah kalau punya channel mafia!" umpat Hiro sambil mengacak-acak rambutnya. "Terus ibu itu gimana bang?"


"Biasa Dad, dia mengelak tapi mommy membawa semua bukti hingga ke akta lahir kedua anak sebelum yang ketiga teman sekolahku termasuk sosial media dan semua catatan percakapan si ibu itu dengan dua ayah anak sebelumnya. Dan si ibu itu hanya bisa melongo. Mommy cuma bilang 'anda tidak tahu berhadapan dengan siapa.' Kalem sih Dad tapi menohok."


Hiro melongo. "Mommymu serem!"


***


Joshua termenung di kamarnya. Hatinya sedih ketika mendengar keluarga Al Jordan semuanya pindah ke Tokyo Jepang.


Haaaahhhh makin jauh saja dirimu dik. Mau minta papa liburan ke Jepang tiap tahun pun nggak mungkin.


"Joshua!" panggil mama Fyneen.


"Iya maaa." Joshua pun keluar dari kamarnya.


"Ada apa ma?" tanya anak tampan itu ke mamanya yang sedang duduk di kursi makan tampak sibuk membungkus macam-macam.


"Tolong kamu ke rumah mama Shanum bawain ini. Kan lusa mereka sudah pada pindah ke Tokyo, tapi tadi Miki minta dibuatin brownies buatan mama jadi tolong kesana ya. Kan kamu tahu sendiri mama sekarang cepat capek bawa adikmu ini" pinta mama Fyneen sambil menunjuk perutnya yang membuncit. Fyneen memang sedang hamil masuk lima bulan tapi entah kenapa kehamilannya ini membuatnya mudah lelah.


"Oke ma. Pak Yudho ada kan ma?" Pak Yudho sopir keluarga Al Jordan sekarang memang dipindahkan ke tempat Rudy karena Fyneen memang butuh sopir.


"Debay, jangan bikin Mama capek-capek ya. Abang pergi bentar" pesan Joshua ke perut mamanya.


"Debay manut kok bang" goda Fyneen.


"Assalamualaikum ma" pamit Joshua sambil membawa paper bag berisikan brownies untuk Miki.


"Wa'alaikum salam."


***


Mobil yang disupiri oleh pak Yudho sampai ke gerbang rumah keluarga Al Jordan dan langsung dibukakan oleh penjaga karena sudah hapal siapa yang datang.


Sesampainya di pintu utama, Joshua pun turun sambil membawa paper bagnya.


"Den Joshua lama nggak kira-kira?" tanya pak Yudho.


"Pak Yudho ada acara pergi sama mama atau eyang?" Joshua balik bertanya.


"Nggak den, saya mau ngobrol sama beberapa penjaga disana" Pak Yudho menunjukkan para penjaga di depan.


"Ngobrol aja pak, nggak papa" ucap Joshua.


"Baik den" pak Yudho kemudian memarkirkan mobil Alphard yang dihibahkan Hiro kepada Fyneen itu.


Joshua lalu memencet bel karena pintu utama tertutup.


Pintu pun terbuka dan tampak wajah Mamoru disana.


"Yah si Abang. Dapha bang?" tanya Mamoru malas.


"Idih si adik mah gitu. Nih mo antar brownies buat dik Miki."


"Hah? Tuh bocah sempat-sempatnya minta dibuatin brownies ma Tante Fyneen. Nggak tahu apa Tante Fyneen lagi gimana kondisinya?" omel Mamoru sambil masuk ke dalam rumah diikuti Joshua.


Tampak Shanum masih membungkus beberapa barang yang hendak dimasukkan ke dalam kardus.


"Lho Joshua? Bawa apa itu?" tanya Shanum yang melihat putra sahabatnya datang.


"Ini mama titip brownies buat dik Miki, katanya minta tolong dibuatin" jawab Joshua.


"Ya ampun anak itu!" Shanum pun memanggil Miki yang berada di dapur.


"Apa mommy?" tanyanya polos.


"Kamu minta Tante Fyneen buatin brownies buat kamu?" selidik Shanum.


"Iya. Kan nanti lama Mi-chan nggak ngerasain brownies nya Tante."


"Kamu kan tahu Tante Fyneen gampang capek selama hamil?" tegur Shanum.


"Tante Fyneen bilang nggak papa kok."


Mamoru langsung menepok jidatnya.


"Emang salah ya?" cengirnya.


"Salah!" seru Shanum dan Mamoru dengan suara keras.


"Hiks! Daddy! Abang! Tolongin Mi-chan!"


***


Yuhuuu


Sorry baru up.


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️