
Tak terasa sekarang anak-anak ujian kenaikan kelas. Shanum semakin ketat mengawasi si kembar belajar. Apalagi Mamoru lolos olimpiade matematika tingkat propinsi mewakili Jawa Tengah maka dirinya harus lebih konsentrasi untuk ujian semester.
Miki sendiri lebih santai karena dia memang tidak tertarik dengan olimpiade matematika.
"Kalau ada olimpiade masak, nah baru Mi-chan ikut!" selorohnya yang mendapat pelototan kakaknya.
"Mana ada adikku yang lebay" desis Mamoru gemas karena Miki tidak pernah jauh-jauh dari makanan.
Shanum hanya tersenyum mendengar keributan si kembar.
"Sudah, sudah. Miki mana yang masih belum ngerti? Sini mommy ajarin". Shanum lalu membuka buku pelajaran Miki dan putrinya langsung menunjuk bab yang dia belum paham.
Dengan telaten Shanum mengajari Miki seperti biasanya. Putrinya sendiri sebenarnya cerdas cuma kadang suka meleng kalau ada makanan.
"Assalamualaikum" sebuah suara mengejutkan ketiganya yang sedang belajar di ruang tengah.
"Wa'alaikum salam" balas mereka kompak.
Tampak Joshua datang dengan ransel di pundak kanan, dan paper bag di tangan kiri. Anak laki-laki itu tampak tampan dengan kemeja hitam motif dan celana jeans. Sejak kecil, Joshua memang selalu diajari mama Fyneen untuk tetap rapi dan gaya.
"Bang Joshua!!!" seru Miki sedangkan Mamoru hanya tersenyum smirk ke arah Joshua.
"Lho tumben Josh kesini?" tanya Shanum.
"Iya mama Shanum. Mau belajar bareng" senyum Joshua.
"Lho bang Joshua kan kelas lima, kita kelas tiga" protes Miki.
"Biar enak kan belajar bareng jadi kalau dik Miki ada kesulitan, bang Josh bisa ajarin." Joshua kemudian duduk dekat Mamoru tapi agak menjauh dari Miki.
"Modus!" bisik Mamoru ke arah Abang angkatnya.
"Hah?" Joshua melongo.
"Jangan dikira aku ga tahu motif Abang". Mamoru menatap Joshua dengan tatapan dingin. "Buktikan Abang pantas buat Miki dan bisa melewati aku, Daddy, Oom Rudy dan Oom Kei untuk minta ijin."
Joshua semakin melongo. "Kok kamu tahu?" akhirnya keluar juga kalimat itu.
"You're so obvious, bang!" Mamoru memberikan senyum smirknya.
Joshua menunduk.
Menghadapi Mamoru dan papa Hiro masih bisa tapi kalau sudah ke papa Rudy dan Oom Kei, itu yang sulit.
"Ohya masih ada pakdhe Mike dan pakdhe Reza ditambah mas Panji" kekeh Mamoru. "Selamat berjuang!" sebuah tepukan mendarat di punggung Joshua dari si kulkas.
"Kalian pada ngapain sih bisik-bisik gitu?" tanya Miki kepo.
"Gak usah kepo dek, urusan laki-laki!" jawab Mamoru.
"Ih gak jelas bangets!" cebik Miki.
Berbeda dengan putrinya, Shanum yang mampu membaca bahasa bibir hanya terdiam mengetahui anak angkat kepercayaan suaminya menaruh hati pada Miki bahkan sejak dini.
Dalam hatinya dia bersyukur sangat mengenal Joshua tapi namanya perasaan bisa berubah seiring perjalanan waktu apalagi keduanya masih kecil.
Ternyata anak-anak ku sudah besar.
***
Kini Hiro dan Shanum sudah berada di kamar usai acara makan malam dan mengurus si kembar. Seperti biasa sebelum ujian, Shanum selalu mengecek dan memberikan nasihat dan clue menghadapi setiap mata pelajaran.
Dia juga mengadakan sesi tanya jawab pada keduanya untuk mengingat kembali. Shanum tahu kedua anaknya cerdas-cerdas semua namun tak ada salahnya membuat mereka semakin mengingat.
Shanum sedang mengoleskan krim malam di wajahnya ketika Hiro keluar dari kamar mandi dan seperti biasa dia hanya mengenakan celana piyama tanpa mengenakan baju.
"Shan" panggil Hiro yang sudah merebahkan tubuhnya.
"Iya mas" jawab Shanum sembari menyelesaikan ritualnya sebelum tidur.
"Akhir Juni nanti aku tambahkan perhiasan koleksimu" sahut Hiro yang sedang memilih channel tv.
Shanum mengerenyitkan alisnya. Setelah selesai ritual mengolesi krim malam dan menyemprotkan sedikit parfum ke titik leher, dada dan pergelangan tangannya, Shanum menyusul suaminya ke tempat tidur.
"Perhiasan yang mas kasih waktu ijab saja aku simpan di safe deposit box di bank. Aku jarang pakai perhiasan juga, walaupun disini aku simpan juga. Bahkan yang kamu hadiahkan padaku waktu kita awal menikah yang sering aku pakai."
Hiro berbaring miring menatap istrinya sambil menyangga kepalanya dengan tangan kirinya.
"Perhiasan awal menikah yang aku kasih kan kamu tinggal semua?"
Hiroshi teringat anting yang dipakai istrinya waktu ijab seperti ia kenali. Rupanya mom yang mengurusnya.
"Kamu tahu kenapa aku memberikan perhiasan senilai USD$ 3,1jt?" Hiro menulusuri wajah cantik Shanum dengan telunjuknya.
Shanum menggeleng. "Jujur aku tidak terlalu memperhatikan nominalnya".
Hiro hanya mendengus sebal.
Istriku keterlaluan! gemasnya.
"Aku kasih tahu ya sayangku, jumlah itu adalah jumlah usia mu istriku" Hiro langsung menarik tubuh langsing Shanum ke dalam pelukannya.
"Oh, jadi karena aku berusia 31 sekarang, kamu berikan mahar sesuai dengan usiaku?" Shanum menghirup bau musk Hiro yang membuatnya selalu mabuk kepayang.
"Aku sudah berjanji setiap tahun akan aku tambah satu juta agar sesuai dengan usiamu" Hiro mulai mencium kepala Shanum.
"Aku ada cerita" Shanum berusaha mengalihkan perhatian suaminya yang sekarang mulai mencium lehernya.
"Apa?" gumamnya tidak jelas di lekukan leher Shanum.
"Ada seorang pria yang menyukai putrimu".
Hiro menghentikan aksinya lalu menatap Shanum dengan wajah serius.
"Miki baru tujuh tahun!" Hiro langsung terduduk dan meraup wajahnya kasar.
Shanum terkikik.
"Siapa?"
"Joshua."
Hiro melongo. "Joshua baru sepuluh tahun!"
"Apakah usia dini tidak boleh menyukai lawan jenis? Tandanya normal itu pak" kekeh Shanum.
Hiro melotot ke arah istrinya yang santai aja.
"Mas, boleh jadi ini baru cinta monyet, mungkin juga tidak di sisi Joshua. Tapi tadi aku ngobrol dengan Mamoru banyak soal Abang mereka. Jadi di sekolah pun Joshua dikenal dingin sama sepertinya. Bahkan Mamoru sempat melihat Joshua membentak seorang anak perempuan yang sukanya nempel ke dia."
"Miki tahu?" jujur Hiro merasa takut putrinya sudah ada yang suka dan suatu hari nanti akan membawanya pergi.
"Pumpkin mana mudeng kayak gitu mas. Yang di otaknya hanya makanan dan resep saja" senyum Shanum.
"Kita mengenal Joshua. Fyneen dan Rudy mendidiknya dengan baik tapi tetap saja kita tidak tahu latar belakang dia karena sejak bayi sudah dibuang ke panti." Hiro mengusap rahangnya yang sudah mulai tumbuh bulu-bulu halus.
"Mamoru tadi malah membuat benteng untuk Joshua kalau memang dewasa nanti dia masih menginginkan Miki, harus bisa membuktikan pada dirinya, mas, dik Rudy, Kei, mas Mike, mas Reza dan Panji bahwa dia memang serius, sayang, cinta dan mampu membahagiakan Miki."
Hiro terkejut putranya cerdas mengambil langkah.
"Jalan Joshua untuk bisa mengambil Miki akan sulit" kekehnya. Membayangkan kedua kakak iparnya yang Gesrek itu bakalan semakin durjana ngerjain.
"Kita keep silent dulu mas, jangan sampai dik Rudy dan Fyneen tahu. Kasian mereka nanti menyimpan beban tentang perasaan putranya" bujuk Shanum.
"Tadinya mau aku ajak jodohkan saja sejak dini namun aku tidak mau egois sebagai ayah. Kalau memang Joshua jodohnya Miki, mau bagaimana caranya pun pasti akan bersatu. Kita sebagai orang tua mengawasi saja agar perasaan Joshua murni cinta dan sayang bukan obsesi".
Shanum menganggukkan kepalanya menyetujui keputusan suaminya karena dia sendiri tidak mau keduanya nanti menikah karena terpaksa akibat dijodohkan. Mengingat di keluarganya juga tidak ada yang menikah karena perjodohan, semua murni karena memang cinta.
"Udah yuk Shan, sekarang giliran jodohmu" wajah Hiro berubah jahil.
"Eh?"
"Jodoh juniorku di rumah yang enak di bawah itu" mata Hiro melirik ke area inti Shanum yang masih tertutup daster.
"Suamiku mesuuuummm!!!"
***
Yuhuuu
Good morning.
Maaf baru up.
Thank you for your support ❤️🙂❤️