You're The Only One

You're The Only One
Musibah



Shanum dan Kiko sekarang menuju kota Bandung setelah tadi akhirnya kembali ke mansion Pratomo untuk mengambil handphonenya yang tertinggal karena sedang dia charge usai menerima telepon dari putri dan mama mertuanya. Akibat terburu buru hendak bertemu klien ayahnya, dia melupakan handphonenya.


Mereka berdua ke Bandung menggunakan salah satu mobil milik Adrian Pratomo dengan pak Darno sebagai supirnya. Shanum mengecek layar ponselnya, selain keluarganya tampak banyaknya panggilan dari Ridwan termasuk pesan masuk yang mengatakan hendak mengajak makan siang.


Shanum menghela nafas panjang. Pria itu memang tidak kenal lelah mengejarnya. Ketika hendak menghapus pesan-pesan tidak penting, Hiro menelponnya.


"Assalamualaikum" sapanya


"Wa'alaikum salam sayangku" suara Hiro terdengar mesra yang sempat membuat Shanum merona.


"Maaf tadi hpku tertinggal di kamar karena aku terburu-buru menemui klien papa"


"Tidak apa sayang. Kiko masih bersamamu?"


"Iya, dia di sebelahku." Shanum melirik pengawalnya yang menikmati pemandangan di luar.


"Hati-hati ya di Bandung nya, aku yakin butik mommy baik-baik saja".


Memang tadi usai menemui kliennya, Shanum mendapatkan kabar butik mamanya mengalami masalah. Salah satu pegawai butik, Tania, berusaha menelpon Shanum namun tidak diangkat lalu dia menelpon Ferdi yang menyampaikan via handphone Kiko. Karena itu Shanum tersadar ponselnya tertinggal.


"Aku sudah bilang ma mom dan Dad kalau aku akan menyusul ke Jakarta jika kamu tidak pulang Minggu ini."lanjut Hiro.


"Hah? Anak-anak gimana?"


"Anak-anak ya sama Oma opanya lah. Mereka malah ngajarin kedua orangtuaku makan makanan khas solo. Dad malah sekarang menggerutu beratnya naik dua kilo" kekeh Hiro yang sekarang harus menemani ayahnya bersepeda setiap hari.


"Makanya aku betah di Solo. Kulinernya enak-enak. Bahkan kalau bosan bisa ke Semarang atau Jogja juga dekat".


"Iya, anak-anak juga mengajak Oma opanya ke Jogja namun menunggu dirimu pulang. Mereka ingin tahun baruan di Jogja. Aku sudah membooking villa di Kaliurang besok tanggal 30".


Shanum menghela nafas panjang. Lagi-lagi sudah berbuat seenaknya.


"Sekarang tanggal 28 Desember, aku usahakan pulang besok dari Bandung ya" akhirnya Shanum membuat keputusan harus pulang besok. Pula, perusahaan juga mulai tutup tanggal 30 Desember hingga tanggal 4 Januari.


"Oke sayang, hati-hati ya. Kalau tidak dapat pesawat, bilang biar pesawat dad menjemput di Bandung."


"Iya, nanti kukabari."


Tak berapa lama, mobil Alphard hitam itu memasuki kota Bandung dan segera menuju butik mama Niken yang berada di daerah Dago.


***


Tania menyambut Shanum dengan wajah panik. Pasalnya butik yang lumayan besar ini terkena imbas kebakaran yang terjadi dari sebuah restoran sebelah butik persis. Walaupun tidak ada korban jiwa dan kebakaran sudah bisa ditangani, namun si jago merah sempat melalap bagian belakang butik yang menyimpan stok baju meski sebagian bisa terselamatkan namun tetap saja kerugian tidak dapat dihindarkan. Apalagi menjelang tahun baru tutup buku tahunan.


"Mbak Shanum" seru Tania sambil memeluk anak bossnya. Air mata masih mengalir dari wajah manis gadis berusia dua puluh lima tahun itu.


Shanum memeluk Tania menenangkan.


"Sudah, nggak papa. Kalian baik-baik saja kan?" tanya Shanum sambil mengedarkan pandangan ke arah pegawai mamanya yang berjumlah lima orang.


"Kami baik-baik saja mba. Cuma ya gudang belakang bolong dan masih ada bara api dikit" jawab Iin salah satu kasir disana.


"Ya sudah, ini juga musibah. Sudah aman kan jadi saya bisa mengecek semua" Kelima pegawainya mengangguk. Tania masih memeluk Shanum. Bagaimanapun sebagai manajer di butik milik Niken, ini menjadi tanggung jawabnya.


"Tania, mau sampai kapan kamu jadi koala begini? Sudah nggak papa" kekeh Shanum. Tania segera melepaskan pelukannya.


"Apa kata Bu Niken nanti mba? Aku nggak bisa nyelamatin stok." air mata Tania mengalir deras lagi.


"Sudah-sudah, kita pikirkan lagi. Sekarang mbak mau liat kondisi butik." Shanum, Kiko, Tania dan Iin berjalan menuju butik yang basah akibat tersiram air otomatis yang memang terpasang jika ada asap kebakaran. Kerugian ini memang lumayan apalagi butik sang mama termasuk ekslusif dengan harga lumayan per baju.


"Baik mbak".


Shanum mengerenyitkan keningnya melihat kondisi belakang butik yang sudah porak poranda. Bau asap dengan air menyeruak. Sebagian stok sudah menghitam terbakar dan atap pun bolong sedikit.


"Ibu Shanum" suara bariton membuat keempat wanita itu menoleh. Tampak salah seorang petugas pemadam kebakaran itu menghampiri mereka.


"Iya pak?" tanya Shanum.


"Saya minta hati-hati Bu, karena kondisi masih belum stabil. Mari kita keluar dulu" sang petugas mempersilahkan keempatnya kembali keluar.


"Baik pak. Terimakasih atas bantuannya hingga butik mama saya tidak sampai parah keadaannya. Dan yang penting tidak ada korban jiwa" ucap Shanum.


BRAAAAKKK!!!


Pada saat kelimanya hendak mencapai pintu masuk, suara gemuruh itu terdengar.


"Astaghfirullah!!!" seru keempatnya.


"Untung bapak tadi langsung menghampiri kami, kalau tidak..." Iin menatap horor ruang belakang yang atapnya baru saja roboh.


Nyaris mereka semua menjadi korban tertimpa palang atap.


"Sebaiknya ibu-ibu ini keluar dulu, masih belum aman." Shanum dan para pegawainya langsung keluar dari butik itu.


***


Sydney, Australia


Niken termenung mendengar musibah yang terjadi di salah satu butiknya di Bandung. Kerugian bisa dicover dengan asuransi, namun yang membuatnya sedih adalah dia tidak bisa berada disana.


Tadi putrinya Shanum sudah menceritakan kondisi butik tanpa mengatakan dirinya hampir jadi korban tertimpa palang atap butik.


Keputusan yang diambil sementara semua barang di butik diangkut seluruhnya dan dibawa ke rumah milik keluarga Pratomo di Bandung yang kosong. Semua pakaian yang masih baik semuanya di laundry yang mungkin baru selesai usai tahun baru.


Para pegawai sementara dirumahkan hingga laundry selesai lalu mulai menstock ulang jumlah pakaian yang masih layak dijual dengan diskon via online.


Adrian yang melihat istrinya termenung menatap pemandangan kota Sydney dari apartemen nya langsung menghampiri sambil mengusap-usap punggungnya.


"Sudahlah sayang, namanya juga musibah. Kita masih lebih baik daripada restoran sebelah yang hampir separuh ludes." kata Adrian.


"Iya mas. Untung ada Shanum disana jadi Tania dan yang lainnya lebih tenang. Kau tahu sendiri kan mas, Tania itu anaknya sangat mencintai butik itu"


Tania adalah seorang gadis yatim piatu. Kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan pada saat dia baru lulus SMA. Untuk menghidupi dirinya, Tania melamar kerja di butik Niken tanpa ada pengalaman sama sekali. Niken melihat gadis itu sangat bersemangat bekerja disamping itu sangat polos dan jujur. Tania mengambil kuliah akhir pekan khusus karyawan yang sangat didukung Niken hingga saat wisuda pun yang hadir Niken dan Adrian. Sejak dua tahun lalu, Tania diangkat sebagai manajer butik Niken di Bandung menggantikan posisi manajer sebelumya yang pindah mengikuti kerja suaminya.


"Mungkin musibah ini menjadi teguran buat kita sayang, agar lebih banyak berbuat baik. Bisa jadi kita kurang beramal atau menyinggung orang lain tanpa kita sadari. So, ikhlas kan apa yang terjadi hari ini. Alhamdulillah semua karyawan selamat, itu yang penting". Ucap Adrian sambil memeluk istrinya.


"Iya mas. Aku sudah kalkulasi sementara. Cover asuransi cukup kok untuk merenovasi butik dan masih ada sisa untuk mengganti kerugian stok pakaian yang hangus."


"Kalau masih kurang, kan masih ada banyak dana cadangan yang kita simpan"


Niken mengangguk. Sejak awal dia menjadi desainer, semua urusan finansial, Adrian tidak pernah ikut campur walaupun dia tahu nominal yang dimiliki istrinya. Dan selama ini istrinya tidak pernah meminta dirinya untuk membantu karena Adrian tahu Niken mengelola bisnisnya dengan baik hingga memiliki cabang di 15 kota besar di Indonesia dan beberapa di luar negeri.


"Sudah yuk, percayakan pada Shanum. Dia bisa mengurusnya".


Niken mengangguk. Lalu keduanya memutuskan untuk keluar dari ruang kerja Adrian menuju ruang makan untuk bersiap-siap makan malam.


***