You're The Only One

You're The Only One
Rencana Ke Swiss - Season 2



Joshua sampai di mansion Al Jordan dengan perasaan bingung. Tidak ada angin atau hujan, Brad memintanya datang ke Swiss. Joshua tidak mau membuat Miki yang sedang hamil menjadi kepikiran tapi dia juga tidak bisa menutupi istrinya.


"Abang sudah pulang?" sapa Miki melihat suaminya masih termangu di ruang tamu.


"Iya sayang. Maaf Abang lupa salam karena banyak pikiran."


"Kenapa? Bahasa Jepang Abang kacau tadi?" kekeh Miki mengingat bahasa Jepang suaminya masih suk campur aduk dengan bahasa Inggris.


"Nggak sih. Eh Abang mau bicara serius. Kita ke kamar yuk!" ajak Joshua sembari mengelus perut buncit Miki. Karena hamil kembar, otomatis perutnya pun lebih besar dibanding hamil satu bayi.


Miki hanya mengerenyitkan alisnya.


"Abang nggak macem-macem kan?" selidiknya.


"Nggak, cuma semacam saja kok" kerlingnya jahil.


"Abaaaannnggg" rengek bumil cantik itu.


***


Joshua masih mengusap-usap bahu mulus istrinya setelah tadi melakukan acara tengok si kembar. Modus terselubung tapi Joshua melihat tubuh istrinya makin seksih semenjak hamil, membuatnya kecanduan.


"Sayang" ucapnya.


"Apa bang?" tanya Miki agak mengantuk.


"Apakah kamu tahu Brad ada di Swiss?"


Miki membuka matanya lalu menatap suaminya.


"Ngapain Brad di Swiss?"


"Entah. Abang tahu karena dia telpon Abang tadi" jawab Joshua.


"Ada apa dia telepon Abang?"


"Itu Abang juga nggak tahu. Malah tadi dia meminta Abang untuk pergi ke Swiss."


"Haaaahhhh?" seru Miki.


"Abang sih nggak mau gegabah kesana, harus bicara denganmu dan Dad."


"Aku sih lebih penasarannya daripada bingungnya" ujar Miki.


"Jadi, kamu mengijinkan Abang ke Swiss?"


"Mi-chan ijinkan tapi Abang nggak boleh sendiri kesana, harus ditemani pengawal."


"Nanti kita bicarakan dengan Dad dan mommy."


***


Acara makan malam di kediaman Al Jordan akhirnya bertambah Yuki yang pulang setelah ditegur oleh kakak iparnya tadi. Topik pembicaraan malam ini adalah hari pertama Joshua mengajar di Tokyo University.


"Gimana tadi acara ngajarnya Josh?" tanya Hiro antusias.


"Pada nggak percaya aku dosennya dad" kekeh Joshua.


"Gimana mau percaya, dandanan bang Joshua kayak anak kuliahan" timpal Yuki.


"Besok Abang dandan serius deh biar dipercaya" sahut Joshua.


"Pakai kumis cakep kayaknya" goda Yuki.


"Ogah! Mbak ga suka cowok berkumis!" protes Miki.


Shanum hanya tersenyum mendengar percakapan di meja makan.


Usai acara makan malam, keenam orang itu duduk santai di sofa ruang tengah. Miki dengan manjanya menaruh kepalanya di paha Joshua yang langsung mengusap perutnya.


"Dad, Mom, Opa, Joshua mau bicara."


Ketiga orang tua itu memfokuskan kepada menantu tampannya mereka.


"Jangan bilang kamu mau pindah Josh!" celetuk Hiro.


"Kamu disini saja, kasihan Miki kalau sendirian di apartemen atau di rumah" sambung Shanum.


Joshua hanya melongo.


"Yang mau pindah tuh siapa?" sahut Miki yang mulai mengantuk karena usapan suaminya di perutnya.


"Oh? Jadi kalian nggak pindah?" tanya Hiro polos.


"Nggak lah! Tahu kalo calon kakek satu ini bisa kebingungan nggak ada teman debat unfaedah!" balas Miki.


"Princess, kamu berencana membahasakan twins ke Daddy itu kakek?" selidik Hiro.


"Hu um. Kakek keberatan?" cengir Miki jahil.


"Nggak mau! Kesannya dad udah tua!" protes Hiro.


"Memang Dad sudah tua!"


"Kamu tuh emang sudah tua!"


Yuki dan Opa Akira berkata bersamaan. Lalu keduanya saling berpandangan dan nyengir bersama lalu saling tos.


"Kita sehati ya Opa" kekeh Yuki bahagia bisa meledek Daddynya.


"Memang kamu cucu durjana kebanggaan opa" timpal Opa Akira.


Hiro yang merasa dinistakan oleh putra dan ayahnya, langsung mode merajuk ke istrinya.


"Astaga, suamiku! Tapi kamu kan memang sudah tua sayang, sudah 50 tahun" kekeh Shanum.


"Biarpun sudah 50 tahun tapi masih oke kan di ranjang" godanya ke Shanum yang langsung membuang muka malas.


"DAAADDD!" Kali ini Miki dan Yuki yang kompak.


"Apaan sih? Tanpa itu, nggak ada kalian tahu!" cebik Hiro nggak mau kalah.


"Mas! Miki! Yuki! Bisa diam nggak?" hardik Shanum jengah yang sukses membuat suami dan anak-anaknya diam.


"So, Joshua, kamu mau bilang apa tadi?" tanya Shanum lembut.


"Aku tadi ditelpon Brad."


Empat kata yang diucapkan Joshua sukses membuat orang-orang disitu terkejut kecuali Miki.


"Ngapain anak tukang celup sana sini telpon kamu?" tanya Hiro tidak suka.


"Aku tidak tahu Dad tapi sekarang dia berada di Swiss" jawab Joshua.


"Apa Brad ada acara pameran disana?" tanya Yuki yang lebih menjurus bertanya pada dirinya sendiri.


"Entahlah" sahut Hiro.


"Brad minta bertemu denganku di Swiss" ucap Joshua.


"Mau apa dia?" tanya opa Akira.


"Aku tidak tahu Opa tapi jujur aku penasaran."


"Joshua, kamu baru saja masuk jadi dosen, tidak mungkin langsung pergi begitu saja tanpa alasan jelas" sahut Shanum.


"Aku juga tadi sudah bilang begitu pada Brad tapi dia tetap mau menungguku."


"Bang, akhir bulan di Jepang ada libur empat hari. Abang bisa manfaatkan hari libur itu" usul Yuki.


"Benarkah itu dik?" tanya Miki.


"Iya mbak."


"Oke. Dad juga penasaran kenapa Brad ingin bertemu dengan mu."


"Apa perlu bertanya pada kak Mario, mas?" tanya Shanum.


"Tampaknya tidak perlu bertanya pada Mario karena pasti akan ramai nanti. Cukup kita saja yang tahu. Oke, akhir bulan kamu dan Dad pergi ke Swiss menemui si Brad" putus Hiro.


"Oke Dad" jawab Joshua.


***


Miki dan Joshua sudah berada di tempat tidur saling berpelukan. Tangan Joshua selalu menempel di perut buncit Miki, seolah ingin memberitahu twins kalau appanya berada dekat dengan mereka.


Joshua dan Miki sudah sepakat membuat panggilan appa dan eomma sesuai dengan darah Korea yang mengalir di Joshua.


"Bang, aku kok merasakan sesuatu yang disembunyikan Brad deh" ucap Miki.


"Abang juga berpikiran yang sama. Setahu Abang, kita semua nggak ada punya bisnis di Swiss."


Miki terkejut mendengar ucapan Joshua.


"Apa yang Abang ketahui tentang keluarga kami?"


"Kalian hanya punya tabungan di bank of Swiss tapi nggak ada bisnis disana."


"Whoah! Susah kalau punya suami punya perusahaan IT" kekeh Miki.


"Sayang, di Swiss apakah ada rumah sakit Private?" Tiba-tiba Joshua seperti mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sendiri.


Diambilnya ponselnya dan mulai searching.


"Kenapa Abang merasa Brad ada di rumah sakit?"


"Karena Abang tadi seperti mendengar suara mesin jantung atau apapun yang ada di rumah sakit."


"Kalau dia sakit, kenapa Oom Mario tidak cerita?" Miki pun mencubit bibir bawahnya dengan jempol dan telunjuknya disertai kening berkerut.


"Sayang..." suara Joshua berubah menjadi parau.


"Kena...pa?" tanya Miki sudah curiga.


"Jangan mencubit bibirmu seperti itu."


"Eh?"


"Bibir itu enaknya dicium, bukan dicubit" bisik Joshua parau.


"Abang mesum!" kikik Miki.


***


Yuhuuu


Up sore dulu Yaaaa


Semoga bisa Up malam...kalau nggak ketiduran


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️