
Joshua berangkat menuju kampus fakultas matematika Tokyo University menggunakan Vespa bewarna hitam. Menurutnya, naik scooter lebih menyenangkan dibanding naik mobil yang susah nyalip kalau macet.
Pagi ini Joshua berdandan santai menuju kampus dan setibanya di ruang administrasi untuk melapor kehadiran dirinya. Setelah proses administrasi selesai, salah seorang pegawai mengantar Joshua menuju ruang dosen.
Ternyata disana sudah ada Oomnya Alex Reeves dan sepupunya Kenzo dan adik iparnya Yuki. Joshua tersenyum melihat keluarga istrinya pada berkumpul. Kenzo mirip dengan ayahnya yang lebih suka mengajar dibandingkan mengurus perusahaan keluarga yang sekarang diambil alih oleh Keanu.
"Assalamualaikum semua" sapanya ramah.
"Wa'alaikum salam" balas keluarganya.
"Ayo Josh, Oom perkenalkan ke rekan-rekan dosen. Ohya, Kenzo akan jadi partnerku terus Yuki sekarang sudah menjadi asisten dosen" papar Alex.
"Ini nggak nepotisme kan Oom?" bisik Joshua.
"Hei, disini itu pemilihan dosen itu butuh banyak step by step nya Josh. Kamu bisa masuk sini bukan hanya karena rekomendasi Oom tapi dilihat juga jam terbang dan kemampuan akademismu. Dan Oom lihat kamu qualified semua itu" sahut Alex.
"Bang, Opa di mansion ya?" tanya Yuki sembari masuk ke ruang dosen mengambil beberapa berkas untuk mengajar Alex nanti.
"Hu um. Kamu pulang deh! Jangan nginep di SQE" kekeh Joshua.
"Haaaiissshhhh, pasti opa ribut cari penerus di Dubai. Kan ada Senna dan Kai, kok masih rusuhi bang Moru sih" omel remaja berusia 14 tahun itu.
Joshua tertawa.
"Joshua, ayo kita berkenalan dengan rekan kerjamu" ajak Alex.
Joshua pun mengikuti Oomnya untuk berkenalan dengan rekan-rekan kerja barunya sedangkan Kenzo menuju ruang kelas untuk memulai acara mengajarnya.
***
Joshua masuk ke ruang kelasnya dengan santai. Baju yang dipakainya pun hanya kaus berkerah, celana jeans dan tas selempang. Stylenya lebih mirip menjadi mahasiswa dibandingkan dosen.
Ketika ruang kelas itu sudah dipenuhi para mahasiswa, Joshua pun duduk di depan.
"Sumimasen, tapi itu kursi tempat sensei" celetuk salah seorang mahasiswa kepada Joshua.
"Tapi saya adalah dosen anda sekarang" jawab Joshua tenang.
"Oh please, kamu cuma mengada-ada!" sahut mahasiswa yang lain.
Joshua hanya tersenyum ketika melihat Alex masuk ke ruangan dan semua mahasiswa disana pun berdiri memberi hormat kepada dosen senior itu.
"Selamat pagi semua. Hari ini jadwalnya mata kuliah aljabar linier bukan?" tanya Alex.
"Iya sensei."
"Kali ini yang mengajar bukan saya melainkan pria ini, namanya Joshua Akandra, sekarang akan menjadi dosen kalian." Alex menatap Joshua dan memberi kode untuknya memperkenalkan diri.
"EEEEHHHHH???"
"Selamat pagi semua, perkenalkan saya Joshua Akandra yang akan menjadi dosen anda di semester dua ini" senyum Joshua.
"Alex Sensei! Apa nggak salah?" celetuk seorang mahasiswi yang tidak percaya melihat pria tampan yang seumuran dengannya menjadi dosennya.
"Nope. Dia lulusan MIT dan sudah setahun menjadi dosen disana dan sekarang akan mengajar disini."
Ruang kelas pun langsung riuh.
"Kalau dosennya seperti Alex Sensei atau Joshua sensei, betahlah kita!"
"Asal kalian jangan jadi mahasiswa abadi saja" komentar Joshua.
"Aaaahhhh Joshua sensei nggak asyik!" seru para mahasiswanya.
Suasana kelas Joshua ketika mengawasi mahasiswanya mengerjakan tugas.
***
Miki dan opa Akira sedang asyik mengobrol di gazebo belakang mansion Al Jordan sembari menikmati Snack serta teh mint untuk bumil dan teh oolong untuk opa.
"Kira-kira cicit opa cowok atau cewek atau Kris Kross kayak kamu" komentar Opa Akira cuek.
"Ya Allah, opa tega banget dibilang kita Kriss Kross" sungut Miki cemberut.
"Itu bukannya grup hip hop jaman papamu remaja ya" celetuk Opa Akira lagi.
"Aku nggak tahu opa, cari ajah di YouTube" kekeh Miki.
"Kamu tahu, princess. Opa tahu apa yang terjadi ketika kamu belum ketemu dengan Joshua lagi. Bagaimana kamu mengejar-ngejar Brad."
Miki hanya tersenyum kikuk jika diingatkan masa lalunya.
"Sekarang sudah berbeda opa, aku sayang dan cinta bang Joshua."
Miki meletakkan kepalanya di bahu opanya.
"Miki hanya ingin jadi istri dan ibu yang baik opa seperti mommy. Miki ingat bagaimana mommy membesarkan kami berdua tanpa Dad, dan Miki banyak belajar bagaimana cara mendidik mommy."
"Karena itulah kamu tidak apa suamimu menjadi seorang dosen?"
"Opa, bang Joshua itu kaya" kekeh Miki.
"Hah? Maksudnya gimana? Opa nggak paham."
"Bang Joshua itu sudah main saham sejak usia 12 tahun lalu membangun bisnis IT bersama Abian dan menjadi programmer yang bekerja sama dengan SQE. Menjadi dosen adalah passionnya tapi cari duit tetap dari perusahaannya sekarang" papar Miki.
"Opa tidak tahu kalau suamimu sudah menyiapkan semuanya. Berarti dia pria yang pantas untukmu" sahut Opa Akira.
"Iya opa, aku yang bersyukur mendapatkan bang Joshua."
"Semoga Joshua tidak tertarik dengan mahasiswi di Tokyo University" gumam Opa Akira yang langsung mendapat pelototan Miki.
"Opa tuh ya! Sekarang Miki tambah paham dari mana Daddy dapat mulut lemes gitu, ternyata dari Opa!" cemberut Miki.
Opa Akira tertawa terbahak-bahak.
"Kan sesuai pepatah, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya" kekeh opa Akira.
"Iisshhhh, opa tuh!"
"Kalian kenapa lagi?" tanya Shanum yang datang menghampiri ayah mertua dan putrinya.
"Ini lho mom, Daddy tuh rusuh ternyata diturunkan dari Opa!" Miki mengadu ke mommynya.
"Kalau itu mah, mommy dah tahu, sayang" senyum Shanum.
"Ya jelas mommy tahu kan hampir dua puluh lima tahun sama Daddy didiskon tujuh tahun" kekeh Miki.
"Tapi kalau Joshua, mommy yakin dia tidak akan seperti Daddy. Tidak sesuai dengan kepribadiannya, sayang. Joshua itu lebih dewasa dibandingkan Daddymu" ucap Shanum.
"Kapan kalian mau kontrol si kembar?" tanya Opa Akira.
"Kenapa Opa? Mau ikut?" tanya Miki.
"Iya, biar opamu bisa pamer sama omamu kalau opa yang tahu duluan jenis kelamin cicit opa" kekeh Opa Akira.
"Astaga, Dad!" Shanum menghela nafas panjang.
***
Joshua sedang bersiap-siap pulang ketika sebuah nomor telepon masuk ke ponselnya. Nomor yang tidak dikenal yang dengan tenangnya dia menerimanya.
"Joshua Akandra?" sapa pria disana.
"Iya. Siapa ini?"
"Brad McGregor."
Joshua pun membeku kemudian mengecek nomor yang masuk terdapat kode negara +41.
"Itu kode negara Swiss, Josh."
"Kamu di Swiss?"
"Iya. Apa kamu ada waktu luang ke Swiss? Aku ingin bertemu dengan mu."
Joshua tercenung. Ada apa Brad hendak berbicara dengan ku?
"Aku lihat jadwalku dulu, Brad. Aku baru saja masuk Tokyo University sebagai dosen baru. Tidak bisa begitu saja pergi ke Swiss sesuka hati."
"Usahakan ya secepatnya."
"Akan aku coba."
"Kabari aku secepatnya. Thanks Josh."
Brad pun menutup panggilannya meninggalkan Joshua yang masih menatap layar ponselnya dengan wajah bingung.
What's going on?
***
Yuhuuu
Up pagi dulu Yaaaa
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️