You're The Only One

You're The Only One
What a Relief



Joshua dan Miki berpamitan dengan Yudhi untuk kembali ke Solo. Sebelum pergi, Joshua meminta Ricky dan Sofyan menjaga appanya yang tentu saja disanggupi oleh kedua orang itu.


Kini mereka sampai di daerah perumahan sekitar jalan raya Adi Sucipto tempat tinggal Rudy dan Fyneen. Seorang penjaga mengenali Joshua lalu mempersilahkan masuk.


Joshua turun dengan menggandeng Miki masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya di depan garasi rumah. Pintu rumah tampak terbuka dan tampak mama Fyneen sedang membaca majalah fashion.


"Assalamualaikum ma" sapa Joshua.


Mama Fyneen mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara anak sulungnya dan langsung berdiri menyambut putra tampannya.


"Halo sayangku" seru Mama Fyneen sembari memeluk Joshua.


"Halo ma" Joshua mencium pipi mamanya.


Mama Fyneen mencium putranya lalu menuju ke Miki yang berada di belakang suaminya. Miki mencium tangan Fyneen yang dibalas pelukan hangat mama mertuanya.


"Ayo duduk. Kalian habis dari mana?"


"Delanggu ma" jawab Miki.


"Borong beras?"


"Iya. Itu udah aku minta tolong turunin beras buat mama" ucap Miki.


"Memang kamu beli berapa banyak?"


"Setengah kwintal ma."


Mama Fyneen melihat Joshua yang dari tadi hanya diam tidak menjawab apapun.


"Abang kenapa?" tanya mama Fyneen.


"Papa pulang jam berapa ma?" tanya Joshua.


"Paling sebentar lagi bang. Papa sampai rumah biasanya sih jam enam sore."


Miki mengelus tangan Joshua. "Sebentar lagi bang, sabar ya."


"Kalian kenapa? Jangan bilang kalian mau kasih mama cucu?" kerling mama Fyneen.


Kedua pasutri muda itu terperangah.


"Nggak ma. Aku belum hamil kok!" seru Miki.


"Mama nih gimana? Aku sama Miki baru mau dua bulan nikah juga" sahut Joshua cemberut.


"Kami masih mau pacaran dulu ma" sambung Miki.


"Kan kalau kamu hamil, mama sama mommymu jadi Oma keren dong!" kekeh mama Fyneen.


"Haaaiissshhhh!" umpat Joshua yang langsung kena keplak mama Fyneen.


"Kamu tuh kok sukanya gitu, ga suka lihat mamamu hepi" cebik mama Fyneen. Joshua dan Miki tertawa melihat mama Fyneen masih cantik di usia pertengahan 50 tahun.


Suara mobil berhenti dekat pintu masuk terdengar oleh ketiga orang yang sedang duduk santai di sofa. Suara ribut-ribut pun mulai menghampiri ruang tamu.


"Kan papa sudah bilang kalau mau pergi cek dulu semuanya!"


"Brina ganti tas pa makanya lupa masukin dompet!"


Suara keduanya terhenti melihat siapa yang berada di ruang tengah. Sabrina langsung menjerit heboh melihat Abang dan kakak iparnya berada di rumah. Langsung saja rumah besar itu ramai dengan kehebohan gadis SMA itu.


"Kok Abang nggak bilang kalau mau datang?" seru Sabrina.


"Kalau bilang, ga surprise dong!" jawab Joshua sembari memeluk adik semata wayangnya.


"Anak Lanang" sapa papa Rudy sambil memeluk Joshua, lalu memeluk Miki.


"Gimana? Aku sudah ada tanda-tanda menjadi Tante keren?" goda Sabrina sambil melirik-lirik Miki.


"Belum sayangku" jawab Miki sambil merangkul Sabrina.


"Iisshhhh, padahal aku mau pamer di sekolah kalau aku bakalan jadi Tante yang keren" manyun Sabrina.


"Tante keren apaan? Dompet ajah sampai ketinggalan!" sahut papa Rudy sambil melepas sepatunya dan mengganti sandal rumah yang disediakan mama Fyneen.


"Ih papa itu kan gegara aku ganti tas, pa. Kukira udah kebawa tuh dompet ternyata belum. Untung hp aku bawa jadi masih bisa lah pesan ojek online sama jajan pake aplikasi" cengir gadis centil itu.


"Kebiasaan!" ucap mama Fyneen dan Joshua bersamaan.


"Aaaiiihhh kalian jahat!" Sabrina pun bergaya mewek.


***


"So, Joshua, ada cerita apa?" tanya papa Rudy.


"Josh ketemu ayah kandung Joshua" jawab pria itu kalem.


Klontang!


Sendok mama Fyneen terjatuh di piringnya.


"Ka...kamu sudah ketemu...ayah kandungmu?" tanya mama Fyneen terbata-bata.


"Iya ma. Maaf Joshua lancang mencari tahu."


"Dimana dia tinggal Josh?" tanya papa Rudy.


Joshua hanya tersenyum smirk melihat akting papanya yang sebenarnya sudah tahu dari Oom Edward dan Oom Bryan.


"Delanggu."


Mama Fyneen menatap kedua anak dan menantunya. "Jadi kalian tadi itu dari sana? Terus langsung kemari? Pantas bawa beras buat mama."


"Papa dan mama kalau mau marah sama Joshua nggak apa kok."


"Papa nggak bakalan marah karena papa juga yang minta bantuan Edward." papa Rudy menatap putranya dengan maklum.


"Papa minta tolong mas Edward dan mas Bryan?" seru mama Fyneen. "Kok nggak bilang sama aku tho, pa?"


"Karena nanti kamu panik, ma. Makanya aku diam-diam saja" kekeh papa Rudy.


Mama Fyneen langsung cemberut.


"Memang orang tua kandung Abang siapa?" tanya Sabrina.


Joshua pun menceritakan bagaimana dia mengetahui bahwa dirinya ada keturunan Korea. Dia berusaha mencari tahu asal usul nya namun tidak berhasil karena data imigrasi yang dicarinya adalah orang Korea Selatan yang masuk dari sana bukan dari Hongkong sedangkan Yudhi masuk dari sana.


"Lalu bisa menemukan pak Yudhi ini?" tanya mama Fyneen penasaran.


Joshua bercerita bagaimana dia menghack semua data imigrasi termasuk database McGregor bahkan dia meminta Abian memberikan kode rahasia ponsel Oom Bryan.


"Laptop yang di rumahku sekarang tidak mampu menghack semuanya jadi aku minta Abian memberikan kode dan akhirnya aku bisa mencari tahu dimana Oom Bryan."


Joshua melanjutkan ceritanya tentang siapa ayahnya, bagaimana ibunya meninggal begitu juga kakek nenek dari pihak ibunya.


"Bagaimana rasanya bertemu dengan ayahmu?" tanya papa Rudy yang sebenarnya merasa sedih mengetahui putra kebanggaannya akan berbagi perhatian.


"Lega. Aku juga tahu nama Koreanya, Kim Hyun-ji dan disini dia dikenal sebagai Yudhi Hakim. Aku juga tahu nama lengkap eomma, Josephine Marisa Darsono."


"Apa kamu akan ke Seoul mengambil kekuasaan ayahmu?" tanya Papa Rudy lagi.


Joshua menggeleng. "Appa sudah tidak berminat lagi dan aku pun tidak tertarik bidang itu. Aku tidak mau mempertaruhkan sesuatu yang masih gelap kedepannya karena apa yang aku pertaruhkan disini jauh lebih berharga daripada silver shining. Aku sudah membangun perusahaan IT ku dari nol, aku sudah menunggu selama 15 tahun untuk bisa memiliki wanita yang aku sangat cintai, aku memiliki orang tua dan adik yang sangat aku sayangi dan hormati dan karena dendam aku harus kehilangan itu semua? Berarti aku tidak bersyukur akan segala berkah yang diberikan Allah padaku."


Semua orang yang berada di meja makan menahan nafas mendengar penjelasan Joshua. Akhirnya Fyneen bangun dan memeluk putranya.


"Terimakasih sayang. Mama sangat bersyukur kamu membuat keputusan yang benar dan terbaik!" Air mata Fyneen mengalir di pipinya.


"Bagaimana kalau besok kita ke Delanggu?" usul papa Rudy.


***




***


Yuhuuu


Up sore hujan-hujan Yaaaa


Thank you for reading


Thank you readersku


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️