
Shanum menemani Mamoru untuk latihan olimpiade matematika di Semarang selama dua Minggu jadi di rumah hanya ada Hiro dan Miki. Selama liburan kenaikan kelas, Miki lebih sering pergi ke rumah eyang Naning untuk belajar membuat camilan dan masakan lainnya.
Hiro sendiri yang sering jadi korban percobaan masakan putrinya. Seperti hari ini Miki mencoba membuat sayur tumpang dengan dibantu bik Sum. Selama tinggal di Solo, pola makan Hiro menjadi pola makan Indonesia walau kadang mereka memasak masakan Jepang, western dan timur tengah.
"Masak apa ini princess untuk makan siang?" Hiro mengerenyitkan hidungnya dengan bau yang aneh.
"Sambal goreng krecek Dad" sahut Miki yang berkutat mengupas telur puyuh.
"Jangan pedas-pedas ya. Tahu sendiri Dad nggak bisa makan pedas" ucap Hiro sambil duduk di kursi makan menyesap kopi hitam dan membuka iPad.
"Nggak pedes kok Dad".
Hiro sendiri pagi tadi sudah pergi bersama Rudy untuk mengecek proses pembuatan batik pesanan klien dari Australia. Terkadang Hiro sendiri suka melihat pekerjaan anak buahnya langsung.
Bahkan karena itu dia bertemu dengan Shanum sembilan tahun lalu di mall milik AJ Corp di Shibuya Jepang.
POV Hiro sembilan tahun lalu
Hiroshi Al Jordan, siapa yang tidak tahu pria tampan incaran kaum hawa berusia 26 tahun. The most illegible bachelor. Putra Akira Al Jordan, pengusaha keturunan Arab Jepang yang memiliki perusahaan AJ Corp berusia puluhan tahun. Kakek buyut Hiro yang memulai bisnis properti di Arab Saudi lalu pindah ke Dubai dan melebarkan sayap bisnisnya ke Jepang. Hingga perusahaan dipegang Akira menjadi lebih sukses dan sekarang Hiro yang dipercaya memegang kantor pusat AJ Corp Jepang yang membawahi semua cabang di kawasan Asia.
Papa Akira sendiri lebih memilih memegang kantor pusat Dubai yang memegang pengawasan area Eropa, Afrika, timur tengah dan Amerika. Dibantu oleh putra bungsunya Keiji yang usianya enam tahun di bawah Hiro.
Kini Hiro berada di ruangannya di sebuah mall terbesar di Shibuya untuk memeriksa semua pekerjaan setelah dia berlibur dua Minggu ke Dubai untuk merayakan idul Fitri.
Ameer, sekretarisnya, selalu mendampingi kemana Hiro pergi berada di ruangan yang sama bekerja di balik laptopnya.
"Ameer" panggil Hiro pada pria yang lebih tua empat tahun darinya.
"Ya bro?" jawab Ameer tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop.
"Aku bosan!" keluh Hiro.
Ameer menoleh ke tuannya. "Seriously bro, kamu bis liburan bisa bilang bosan? Apa kabar saya?"
Hiro mendelik. "Dasar sekretaris lucknut! Tugas mu lah berada disini selama aku tidak ada!"
Ameer terkekeh. "Iya deh. Sekarang kamu mau ngapain bro?"
Ameer sendiri adalah putra sekretaris papa Akira yang sekarang menjadi sekretaris Hiro. Keduanya sudah berteman sejak kecil dan Ameer selalu menganggap Hiro adiknya karena dia adalah anak tunggal.
"Jalan-jalan yuk. Tapi aku ganti baju dulu biar nggak mencolok". Hiro pun masuk ke dalam kamar yang ada di ruangannya untuk melepas jas dan pantolannya.
"Bro, kamu pakai baju apapun tetap saja mencolok. Lebih-lebih nggak pakai baju!" kekeh Ameer.
Hiro melongokkan kepalanya dari dalam kamar.
"Astaghfirullah! Elu belok bro? Amit-amit!" seru Hiro.
"Eh nggak yaaa, aku masih normal bro! Ingat nggak pas kita liburan ke Bali. Bener-bener deh semua cewek disana pengen makan kamu."
Hiro keluar dari kamarnya. Dia kali ini mengenakan kemeja yang digulung hingga ke siku, rompi hitam dan celana jeans hitam. Tidak ada kesan CEO di dirinya hanya seorang pria santai.
"Yuk jalan-jalan ke mall. Eh, bro lepas dasimu, biar nggak kelihatan resmi."
Ameer pun melepaskan dasinya dan membuka kancing atas kemejanya.
Bang Ameer Al Husain, sekretaris bang Hiro.
"Nah, gitu kan cocok!" Hiro pun segera keluar ruang kerjanya diikuti oleh Ameer. Semua pegawai yang berada disana terkejut melihat CEO mereka keluar dengan baju santai.
Tentu saja menjadi trending topik di kalangan para pegawai perempuan apalagi semua tahu, Hiro dan Ameer sama-sama lajang.
Di dalam lift, Hiro memilih lantai enam tempat penjualan dekorasi rumah yang sebelumnya termasuk penjualan yang kurang memuaskan.
"Apa barang-barang kita kurang menarik, Meer?" tanya Hiro sambil menatap angka-angka di lift.
"Penjualan bulan lalu hanya naik 5%, pertengahan bulan ini baru 7% ada kenaikan sih bro".
Hiro hanya diam. Otaknya masih berpikir cara apa lagi yang harus digunakan.
Ting!
Suara pintu lift terbuka dan Hiro menuju area dekorasi rumah.
Dengan santai dia memeriksa barang-barang yang didisplay untuk mensortir mana-mana saja yang sudah harus diturunkan dari rak penjualan.
Gadis itu tampak polos tanpa makeup yang berlebihan dan cocok di wajahnya. Blus yang dipakai bewarna putih tanpa lengan dan celana jeans model boot cut disertai sandal wedges.
Ketika gadis itu berdiri, tampak dirinya termasuk tinggi untuk ukuran perempuan. Hiro sendiri bertinggi 188cm dan gadis itu sepertinya mempunyai tinggi 170cm jika ditambah wedges 5 centimeter.
Hiro benar-benar terpesona melihat gadis itu hingga mulutnya terbuka.
"Bro, itu mulut jangan seperti itu. Kau tampak bloon" goda Ameer.
Hiro seketika menutup mulutnya. "Brengsek kau!" umpatnya ke Ameer. "Apakah dia pegawai sini?"
"Tampaknya bukan. Dia seperti pengunjung biasa".
Hiro pun mendatangi gadis yang masih mengecek hasil penataannya. Wajahnya tampak puas setelah penampilan di meja Konsul itu menjadi menarik.
"Ehem"
Mendengar suara deheman itu membuat gadis itu menoleh. Hiro semakin terpana melihat wajah itu dengan jelas.
"Cantik" bisiknya.
"Sumimasen. Watashi wa nani ka machigatta koto o shimashita? ( maaf, apakah saya melakukan kesalahan? )" tanya gadis itu.
"Ie. Nihonjindesu ka ( apakah kamu orang Jepang )?"
"Ie. Sayaoran'indoneshia ( saya orang Indonesia )."
"Bagaimana bisa fasih berbahasa Jepang?" Hiro mengganti dengan bahasa Inggris.
"Saya memang menyukai bahasa dan saya bisa beberapa bahasa asing" senyum gadis itu yang membuat jantung Hiro berdetak kencang.
Ya Tuhan jantungku kenapa ini?
"Kenapa anda mengubah setting penampilan display?" tanya Hiro dengan wajah datar.
Gadis itu terkesiap. "Oh maafkan. Saya memang agak sedikit tidak nyaman dengan cara penataan yang agak... kuno" bisiknya.
Hiro tersenyum dan mengakui bahwa setelah ditata gadis itu menjadi menarik dan tampak lebih menjanjikan untuk segera laku.
"Mbak Shanum!" suara seorang gadis membuat keduanya menoleh. Tampak seorang gadis cantik berusia sekitar belasan tahun berambut coklat dan bermata biru bersama dengan seorang pria Asia berwajah tampan menghampiri mereka.
"Ya ampun mba, kita cariin!" omel gadis bermata biru itu.
"Eh maaf yaaa, tadi mbak asyik lihat-lihat."
"Yuk pulang, mas Alex dah ribut saja!" gadis bermata biru itu menarik tangan gadis yang bernama Shanum.
"Nona Vivienne, tangan nona Shanum jangan ditarik gitu dong!" protes pria tampan yang sedari tadi mengikuti gadis bermata biru itu dengan wajah jengah.
"Ga usah ribut kau Jammie!" Shanum pun ditarik oleh Vivienne dan Jammie membungkuk kepada Hiro dan Ameer untuk meminta maaf.
Sebelum pria bernama Jammie itu pergi, Hiro menahannya.
"Siapa gadis itu?" tanya Hiro kepada Jammie.
"Nona Shanum Putri Pratomo, tuan dan satunya nona Vivienne Lee Neville, adik sepupu nona Shanum" jawab Jammie. "Permisi tuan-tuan".
Hiro mengerenyitkan alisnya. Shanum Putri Pratomo?
"Pratomo? Ameer, apakah keluarga Pratomo yang itu?" tanya Hiro. Ameer pun segera melacak lewat iPad nya.
"Benar bro, dia putri bungsu keluarga Adrian Pratomo, saudara sepupu Alex dan Alexa Reeves salah satu rekan kerja kita."
Hiro tersenyum smirk.
You're the only one for me, Shan!
***
Yuhuuu
Akhirnya up juga
Jumat penuh barokah yaaaa
Tararengkyu ❤️🙂❤️