You're The Only One

You're The Only One
Mundur dan Berkah Lembur



"Selamat siang Pak Ridwan. Angin apa yang membawa anda ke Solo hari ini?"


Hiro mengucapkan kalimat itu dengan nada riang namun Shanum bisa merasakan hawa dingin disana.


"Eh... Pak Hiroshi. Saya ada perlu di... Solo" jawab Ridwan pelan.


"Apakah urusan di Solo dengan istri saya?" tanya Hiro mengintimidasi.


"Is.. istri?" Ridwan tergagap.


"Iya, wanita ini adalah istri sah saya yang anda kirimkan surat somasi" sahut Hiro lagi.


Tanpa diduga, Hiro dan Shanum duduk di hadapan Ridwan dan pengawalnya, sedangkan dua pengawal Hiro duduk tidak jauh dari tuannya.


"Sekarang kami sudah disini. Silahkan anda hendak berbicara apa dengan istri saya. Soal isi somasi karena istri saya melanggar perjanjian tidak mengawasi pekerjaan di kantor anda? Bukankah istri saya selalu mengawasi melalui video call asistennya Ferdi? Jangan salah pak Ridwan, istri saya selalu mengawasi pekerjaannya. Kenapa Shanum tidak ke Jakarta? Karena saya sebagai suaminya melarang dia pergi." Hiro menatap dalam Ridwan. "Dan sebagai istri, Shanum menurut apa permintaan suaminya."


"Apa masih ada yang kurang puas dengan hasil kerja Ferdi, pak Ridwan?" Shanum berusaha meredam kemarahan suaminya.


Ridwan menatap wajah cantik Shanum yang selalu menghantuinya selama ini.


Sayang kamu mulai tidak tergapai dan aku tidak mau berbuat bodoh lagi jika berhubungan dengan keluarga Al Jordan.


"Tidak, Bu Shanum. Semua sesuai dengan permintaan saya."


"Bagus. Kalau begitu, saya minta keprofesionalan anda pak Ridwan, cabut somasi anda dan selesaikan pembayarannya walaupun mungkin istri saya tidak terlalu memikirkan akan hal itu." Hiro pun berdiri sambil menggandeng tangan Shanum.


"Yuk kita pulang" ajak Hiro.


"Selamat siang pak Ridwan." Shanum mengangguk kemudian berjalan bersama suaminya menuju mobil Alphard nya.


Sial! Lagi-lagi aku berurusan dengan keluarga Al Jordan! Kalau sampai papa tahu, bisa habis aku!


Ridwan berdiri bersama pengawalnya menuju mobilnya.


"Kita kemana tuan?" tanya si pengawal.


"Bandara. Urusan kita sudah selesai disini!" ucapnya kesal.


***


Di dalam mobil, Shanum menatap suaminya yang masih tersenyum penuh kemenangan.


"Mas, kok kamu tahu kalau Ridwan disini?" tanyanya penasaran.


"Aku tahu dia datang ke Solo karena Dad sudah memasang mata-mata untuk mengawasinya. Kamu tahu, ketika Kiko bercerita tentang apa yang terjadi di Jakarta, kami semua sudah membuat rencana termasuk mendiskon tiga bulanmu." Hiro menyeringai jahil yang membuat Shanum semakin sebal.


"Oh jadi karena itu? Makanya kamu main diskon?" cebik Shanum.


"Tapi kan enak didiskon jadi aku bisa mengejar ketertinggalanku selama tujuh tahun" kekehnya.


"Iya, sampai anak-anak sebal melihat Daddynya bucin sama mommynya. Bahkan mereka tidak bisa tidur bareng Mommynya setiap malam Minggu karena Daddynya terlalu posesif!"


Miki dan Mamoru terbiasa setiap malam Minggu tidur bersama Shanum sambil nonton film anime atau kartun namun setelah Hiro datang, kebiasaan itu jadi hilang.


Bahkan Miki protes pun tidak digubris Hiro.


Dasar daddy bucin! Shanum terkikik mengingat umpatan putrinya.


Hiro yang mendengar Shanum cekikikan, menoleh..


Istriku kesambit apa?


"Kamu kenapa Shan?"


"Nggak papa" cengirnya.


"Kamu nyebelin kalau begini!"


"Kok mau sama cewek nyebelin gini?"


"Lha gimana? Kamu enak kok!" jawab Hiro asal.


Shanum memukul bahu Hiro keras.


"Mesum!"


Hiro tertawa terbahak-bahak.


Sedangkan dua pengawal yang bertugas menyetir dan mengawal hanya bisa mengelus dada.


Nasib jones banget kita!


Tuan kalau ketemu nyonya bisa begini yak. Coba di kantor... Syerem.


***


Ya, Joshua sudah jatuh cinta di usianya yang mau sepuluh tahun dengan anak cantik yang cerewet, tukang makan tapi hobi masak.


Joshua merasa dirinya yang anak yatim-piatu, menjadi berharga setelah diangkat anak oleh mama Fyneen dan resmi diadopsi setelah mama Fyneen menikah dengan papa Rudy. Ditambah keluarga Al Jordan menerimanya dengan tangan terbuka.


Usai membersihkan diri, Joshua bersiap mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah. Diam-diam dia mengambil foto Miki yang sedang tersenyum ketika malam tahun baru kemarin.


Senyummu membuat aku semangat untuk bisa seperti papa Hiro dan papa Rudy. Akan aku buktikan bahwa hanya aku yang pantas bersanding denganmu.


***


Miki semangat menyelesaikan semua tugas sekolahnya karena dia akan dijemput oleh Tante Rana untuk belajar memasak dengan eyang Naning. Tadi mommynya memberi ijin untuk ke rumah Mojosongo.


"Ni-chan, bantuin bikin pe-er matematika dong!" serunya dari kamarnya.


Mamoru yang mendengar teriakan adik kembarnya hanya menghela nafas panjang.


Selalu begini kalau soal matematika.


Dengan langkah ogah-ogahan, Mamoru membawa buku tugasnya ke kamar Miki yang bernuansa pink. Di rumah baru mereka ini, keduanya memilih kamar di bawah yang bersebelahan, sedangkan kedua orangtuanya berada di lantai dua.


"Apalagi sih dik?" wajah malas Mamoru muncul di pintu kamar Miki.


"Bantuin" Miki menyerahkan buku tugasnya untuk minta bantuan kakaknya.


"Haaaiissshhhh kamu tuh!"


***


Tante Rana tiba di rumah keluarga Al Jordan pada pukul setengah lima sore yang disambut oleh Miki dengan antusias.


"Yuk Tante, kita berangkat!" ajak gadis kecil itu semangat.


"Ayuk. Abang, Tante pergi dulu ya" Rana memang ikutan memanggil Mamoru dengan sebutan 'abang'.


"Jangan mpe lecet lho Tan" sahut Mamoru dengan muka datar yang membuat Rana gemas.


"Ih kamu tuh bang! Gemesin!" kekeh Tante Rana.


"Apaan sih Tan, suka gak jelas deh!" omel Mamoru cemberut.


"Tan, ayok! Tante Rana suka banget godain Abang" teriak Miki dari dalam mobil Rana.


Rana tertawa lalu melambaikan tangannya karena Miki sudah ngomel.


***


Joshua masuk ke rumah eyangnya sambil menuntun sepedanya. Mama Fyneen tadi mengabari bahwa dirinya dan papa Rudy harus lembur jadi daripada Joshua sendiri di rumah, lebih aman di rumah eyangnya. Pula rumah Bu Naning hanya berbeda beberapa rumah saja.


"Assalamualaikum eyang" serunya.


"Wa'alaikum salam" sahut Bu Naning yang baru saja keluar dari dapur. "Cucu eyang sudah datang. Naik sepeda kah?"


"Iya eyang. Papa dan mama lembur jadi aku disini dulu." Joshua meletakkan ranselnya yang berisi baju dan perlengkapan mandi. Dia memang berencana untuk mandi disini.


"Iya, kamu lebih baik disini daripada di rumah sendiri." Bu Naning menyiapkan beberapa bahan makanan di meja makan.


Joshua yang melihat itu sudah biasa karena Bu Naning memang biasa membuat camilan sore.


"Eyang mau buat apa sore ini?" tanyanya sambil duduk di kursi makan.


"Mau buat klepon. Ada yang minta diajarin."


"Siapa Eyang?"


Belum sempat menjawab, suara cempreng Miki sudah terdengar di depan pintu.


"Assalamualaikum eyang! Miki dah sampai!" serunya.


Joshua menatap tidak percaya, gadis cantiknya berada di rumah eyangnya.


"Lho ada bang Joshua. Mau ikut bikin kelpon juga?" tanya Miki polos.


"Nggak... eh iya" jawab Joshua kikuk.


"Ayo Miki cuci tangan dulu terus pakai apron, kita bersiap membuat klepon" ucap Bu Naning.


"Siap eyang!" Miki memberikan sikap hormat ke eyangnya yang tertawa melihat gaya gadis kecil itu.


Joshua bersyukur kedua orangtuanya lembur karena dia bisa menghabiskan sore ini dengan gadis kecila idamannya.


***