
"Mommy!!!"
Shanum reflek melepaskan pelukan suaminya dan segera menjauhi tubuh kekar itu. Hiro mengusap wajahnya kasar dan mengumpat semua bahasa kasar yang dia kuasai dalam hati. Niat mencium bibir indah didepannya gagal total akibat suara cempreng putrinya sendiri.
"Apa sayang?" teriak Shanum.
"Mommy dimana?" suara Miki disertai langkah lari-lari dan suara koper ditarik mencari mommynya.
"Mommy di kamar nomor 3 sayang".
Miki pun segera muncul. Wajah cantiknya terkejut melihat Daddynya berada di kamar dengan mommynya sedang melihat pemandangan dari jendela kamar, sedangkan mommynya sibuk membongkar koper.
"Daddy disini juga?" tanyanya bingung.
Hiro berbalik. Wajahnya masih ditekuk kesal dan bertambah jengkel ketika melihat Shanum tersenyum simpul sambil mengeluarkan baju-bajunya dari koper.
Awas kalau aku sudah mengijabmu lagi! Kubuat kau tidak keluar kamar seminggu!
"Kenapa princess?"
"Daddy dicari opa"
"Haiissshh, ngapain lagi itu pak tua!" omelnya yang langsung kena keplakan di bahunya oleh Shanum.
"Bahasanya dikondisikan!"
Miki terkikik. Hiro langsung lemas mendapat pelototan horor dari Shanum.
"Iya iya. Sudah, Daddy keluar dulu ketemu Opa!" Hiro pun keluar dari kamar Shanum menuju halaman villa.
"Miki, jangan ditiru ya cara daddymu berbicara seperti itu. Tidak sopan namanya." nasehat Shanum.
"Miki tahu mom. Tenang saja, Miki kan hasil didikan mommy bukan Daddy" cengir gadis mungil itu.
"Ini baru anak mommy" Shanum memeluk putrinya hangat.
***
Hiro berjalan gontai menuju halaman villa. Mobil-mobil mereka sudah terparkir rapi. Tampak ayahnya Akira sedang berbicara serius dengan Rudy, sedangkan Fyneen, Rana dan Kiko tidak nampak, begitu juga putranya Mamoru dan Joshua.
"Papa manggil aku?" tanya Hiro tidak semangat.
Papa Akira dan Rudy menoleh ke arah Hiro yang wajahnya tampak mendung.
"Kamu kenapa son?" tanya ayahnya.
"Nggak papa" jawab nya dengan nada malas.
Papa Akira dan Rudy hanya saling pandang tahu apa yang terjadi.
"Shanum!"
"Nyonya muda!"
Keduanya berbicara bebarengan lalu tertawa terbahak-bahak. Bener-bener satu server.
Hiro mendengus kesal. "Kalau kalian tidak ada urusan denganku, mending aku kembali ke dalam villa!"
"Eits son, kamu kok sekarang tukang ngambek? Mana Hiroshi Al Jordan yang biasanya dingin, tegas dan aura mau makan orang ke semua rival bisnisnya? Kenapa kau jadi lembek begini?" ledek papa Akira.
"Tuan muda masih belum lepas dari jangka waktu yang dibuat nyonya muda. Masih kurang 2,5 bulan lagi." Rudy pun ikut nimbrung.
Hiro menatap Rudy dengan tatapan tajam, tapi yang ditatap hanya nyengir.
"Nyesel aku kasih bonus kemarin Rud!" umpat Hiro.
"Sudah. Son, papa ada kabar untukmu".
Hiro mendengarkan sang ayah dan Rudy pun menimpali ucapan boss besarnya. Wajahnya yang semula cemberut menjadi sumringah dan berbinar binar.
"Yes! Thanks Dad!" seru Hiro sambil memeluk ayahnya.
"Sama-sama son. Dijaga ya."
"Seumur hidupku!"
***
Mamoru yang melihat Daddy, oom Rudy dan opanya sedang berbincang lalu melihat perubahan wajah Hiro dari lesu langsung semangat hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pria kecil tampan itu sudah bisa menebak apa yang akan terjadi besok.
Semoga mommy tidak mengacaukan semuanya.
"Dek!" panggil Joshua.
"Dapha bang?" jawab Mamoru tanpa menoleh.
"Kamu kenapa?" Joshua melihat Mamoru sedang menatap tiga orang pria dewasa yang berada di halaman. "Oh tuan besar dan Opa ngapain sama papa ya?"
"Paling bicara bisnis" sahut Mamoru cuek.
"Oh." Joshua pun celingak-celinguk.
"Kamu cari siapa? Adikku?" tanya Mamoru.
"Iya. Kok dek Miki ga kelihatan."
"Katanya tadi mo beberes koper dulu". Joshua ber 'oh' lagi.
"Ada apa pak Ahmed?" tanya Mamoru.
"Jadi memancing di sungai belakang?" Ahmed sudah membawa beberapa alat pancing. Tadi memang Mamoru minta dicarikan alat pancing karena dia dan Joshua ingin memancing ikan setelah mengetahui ada sungai di belakang.
"Jadilah! Ayo!" ajak Mamoru semangat.
"Pak Ahmed sudah laporan dan minta ijin sama Opa dan tuan besar?" tanya Joshua.
"Sudah tuan Joshua".
"Aku sudah minta ijin Opa tadi dan diijinkan asal sama pengawal" ucap Mamoru sambil berjalan menuju belakang sungai.
Joshua pun merasa lega kalau Mamoru sudah meminta ijin. Walaupun villa ini sudah disterilkan, tapi Joshua merasa dia punya tanggung jawab besar melindungi kedua anak boss papa angkatnya.
***
Mama Raina masuk ke kamar Shanum dan Miki. Tampak ibu dan anak itu sedang menata baju yang mereka keluarkan dari koper.
"Kalian masih sibuk urus baju?" tanya Mama Raina.
"Iya ma. Biar ga kusut di koper" jawab Shanum.
"Lho, anak nakal ku kemana?" Mama Raina mengedarkan pandangannya di kamar Shanum.
"Daddy tadi dipanggil Opa. Kata Opa ada urusan bisnis" jawab Miki.
"Iya sih, opa ma daddymu kalau sudah urusan bisnis bisa lama." Mama Raina kemudian duduk di sofa.
"Mama capek?" tanya Shanum setelah menutup kopernya.
"Lumayan, tapi seneng. Bisa kumpul bareng".
Seorang pelayan membawakan tiga cangkir minuman jahe panas ke kamar Shanum.
"Yang lain sudah kamu bagi Nur?" tanya mama Raina kepada pelayanannya.
"Sudah nyonya. Semua pengawal juga sudah dapat minuman jahe yang dibawakan oleh pak Rudy. Ohya nyonya besar, nyonya muda, tadi ada pesan dari pak Ameer kalau tuan muda kecil dan tuan Joshua pergi memancing di sungai belakang."
"Lhoooo! Abang ma bang Joshua jahat nggak ajak Mi-chan!" Miki menghentak-hentakkan kakinya marah.
"Pumpkin kan tadi di kamar sama mommy. Abang kan nggak tahu" bujuk Shanum.
"Kan Abang bisa telpon Mi-chan!" sungut gadis kecil itu.
"Kamu tahu sendiri abangmu kalau sudah di tempat seperti ini paling malas pegang hp".
Mamoru memang punya kebiasaan kalau sudah berlibur di alam terbuka lebih suka meninggalkan gadgetnya.
"Bang Joshua juga sama saja!"
Mama Raina terkekeh melihat cucunya marah-marah.
"Nur, tolong kamu antar nona mudamu ini ke tempat abangnya. Tahu tempatnya kah?" titah mama Raina.
"Tahu nyonya besar. Mari nona muda". Nur mengajak Miki ke sungai belakang villa.
"Mi-chan pergi dulu mommy, Oma." pamitnya sambil mencium pipi mommy dan Omanya.
"Hati-hati. Tolong ya Nur." pesan Shanum.
"Siap nyonya muda."
Nur dan Miki keluar kamar. Tinggallah Shanum dan mertuanya di kamar.
"Num"
"Iyaaa ma?"
"Gimana kalau batas waktu yang kamu berikan ma Hiro, diskon 95%?"
Shanum melongo. "Maksudnya gimana ya ma?"
"Mama kok pengen kalian segera rujuk tanpa harus menunggu batas waktu yang kamu berikan ke Hiro."
"Memangnya kenapa ma? Apa papa dan mama ada sesuatu?" selidik Shanum.
"Tidak ada apa-apa sih Num, cuma mama kok pengennya kamu ada yang melindungi dan statusnya jelas."
"Secara hukum, Shanum masih istri mas Hiro. Kan mas Hiro tidak mau tanda tangan surat cerai. Pula mas Hiro tidak pernah mengucapkan 'talak' ke Shanum."
Bahkan surat cerai kami mau disobek-sobek katanya kalau sudah tiga bulan.
"Apa kamu masih mau berpisah dengan anak nakal mama?" Mama Raina memandang Shanum lekat lekat.
Shanum menggeleng. "Semarah-marahnya Shanum, sudah mulai luntur ma. Apalagi mas Hiro benar-benar sudah berubah, mau ikut Shanum yang seperti ini. Shanum juga memikirkan perasaan anak-anak yang baru saja bertemu dengan Daddynya. Shanum nggak boleh egois ma, mas Hiro sudah cukup hukumannya."
Mama Raina menghembuskan nafas lega. "Alhamdulillah. Berarti kamu sudah memaafkan anak nakal ku?"
Shanum tersenyum. "Shanum sudah memaafkan mas Hiro."
"Terimakasih sayang" mama Raina memeluk Shanum yang dibalas Shanum penuh sayang.
***