You're The Only One

You're The Only One
Ke Delanggu



Semalam Joshua dan Miki memutuskan menginap di rumah mama Fyneen atas permintaan mama cantik itu. Beruntung Miki masih meninggalkan beberapa bajunya di lemari Joshua yang memang disengaja dia letakkan disana jika mereka menginap.


Pagi ini mama Fyneen dan Miki membuat banyak makanan buat dibawa ke rumah Yudhi. Sabrina sendiri hanya membantu mencomot sana sini yang tentu saja mendapatkan keplakan tangan dari sang mama.


Di meja makan sudah banyak makanan termasuk jajanan pasar yang dibeli dari toko kue dan brownies buatan mama Fyneen dan Miki dari subuh.


"Kamu tuh Yaaaa! Mbok bantuin mama sama mbak Miki!" omel mama Fyneen.


"Lho, bantuin kok. Bantuin nyicip" elak Sabrina ketika mama Fyneen hendak mengeplak tangannya lagi.


"Sabrina Putri Akandra!" suara mama Fyneen sudah naik dua oktaf.


Miki hanya tersenyum mendengar keributan keduanya mengingatkan dirinya dengan mommy Shanum.


"Kamu kenapa senyum-senyum?" bisik Joshua sambil memeluk Miki dari belakang dan meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya. Miki tahu suaminya baru saja mandi. Harum shampoo dan sabun tercium di hidungnya.


"Melihat mama dan Brina bertengkar mengingatkan aku dan mommy. Kami sering bertengkar hal-hal receh" kekeh Miki.


"Kamu kangen mommy?" tanya Joshua yang dengan santainya mencium pipi Miki.


"Kangen tapi kita selesaikan dulu disini."


"Kalian bisa nggak sih ga usah uwu-uwu depan mama?" keluh mama Fyneen.


"Kamu iri sayang?" tanya papa Rudy yang baru saja masuk ruang makan sambil mencium pipi istrinya.


"Aaahhh kalian semua menyebalkan! Masih ada jomblowati disini!" teriak Sabrina sambil pergi dari ruang makan.


"Awas kalau kamu mulai pacaran! Papa potong uang jajanmu 80%!" ancam papa Rudy.


"Papa jahat!" teriak Sabrina dari ruang tengah.


Kedua pasang pasutri beda usia hanya tersenyum mendengar protes gadis remaja itu.


"Ini kayaknya dah cukup ya, Miki?" tanya mama Fyneen.


"Cukup ma" jawab Miki.


"Ya udah yuk siap-siap. Pa, bentar aku ta mandi lagi" ucap mama Fyneen kepada papa Rudy yang masih memeluk pinggang istrinya.


"Lho mama belum mandi dari tadi?" tanya papa Rudy sambil mencium leher istrinya.


"Udah tapi kan bau dapur bis masak sama buat brownies. Masa tadi udah pergi ke toko kue sama Miki nggak mandi?"


"Ya kali main langsung pergi tanpa mandi" kekeh Papa Rudy.


"Ish jorok lah!" cebik mama Fyneen. "Miki, mama mandi dulu ya." mama Fyneen pun berjalan menuju kamar utama diikuti oleh papa Rudy.


"Iya ma. Ini tinggal disusun sama Miki."


Melihat kedua orangtuanya sudah pergi, Joshua semakin memperat pelukannya di tubuh istrinya.


"Kamu nggak mandi juga?" bisik Joshua yang entah di telinga Miki berkesan menggoda membuatnya berhenti menutup tutup kotak-kotak Tupperware.


"Selesain ini dulu bang" ucap Miki dengan bergetar. Gimana tidak ada sebuah tangan besar yang merayap di balik kaosnya dan mengusap-usap gundukan miliknya.


"Bang! Tangannya dikondisikan dong! Ini di rumah mama!" desis Miki.


"Udahan ah urus makanannya!" Joshua menarik tangannya dari balik kaos Miki lalu segera menarik tangan istrinya menuju kamarnya di lantai dua.


"Eh kalian mau kemana?" tanya Sabrina yang berada di ruang tengah sambil nonton Netflix.


"Kamar!" sahut Joshua cuek.


"Abang! Jangan bikin ponakan ya! Lama nanti urusannya!" teriak Sabrina tanpa malu.


Miki berjalan terus ke kamar Joshua dengan muka merah padam sedangkan suaminya berhenti di tengah tangga lalu menoleh ke adiknya.


"Eh bocil! Kok bisa-bisanya bilang begitu? Kamu tahu dari mana?" selidik Joshua curiga.


"Drakor lah!" sahut Sabrina cuek.


"Sepertinya tontonanmu harus disensor!" timpal Joshua sembari menyusul istrinya.


***


Menjelang tengah hari, mobil warna hitam itu pun sampai di tempat tujuan. Seperti biasa, Joshua memarkirkan di halaman rumah sewaan Bryan.


Rudy menatap lokasi rumah ayah Joshua dengan perasaan campur aduk. Meskipun rumah yang ditempati Yudhi lebih pojok lokasinya dari para tetangga, karena mereka tinggal di kampung, pasti ada tetangga yang kepo. Apalagi hari Minggu, para kaum bapak suka ada acara kerja bakti dan rombongan keluarga Akandra datang bertepatan mereka selesai beraktifitas namun masih pada kumpul.


"Pak Yudhi, siapa itu?" tanya seorang bapak melihat wajah-wajah asing selain Joshua pernah disebutnya sebagai anaknya.


"Oh itu pasti orang tua angkatnya Joshua. Sebentar bapak-bapak, saya ta nyambut tamu saya dulu" pamit Yudhi.


"Monggo pak Yudhi."


***


Joshua menyambut appanya dengan mencium punggung tangan pria berumur itu yang diikuti istrinya.


"Appa, perkenalkan ini papa Joshua, papa Rudy Akandra, lalu ini mama Fyneen dan ini adik Joshua, Sabrina." Joshua memperkenalkan keluarganya satu persatu.


Yudhi bersalaman dengan papa Rudy, mama Fyneen dan Sabrina.


"Maaf, nuwun Sewu, saya ta mandi rumiyin njih. Baru kerja bakti soalipun" senyum Yudhi kepada tamu-tamunya.


"Njih Monggo pak Yudhi, saya ta lihat-lihat dulu sekalian ngobrol sama Sofyan dan Ricky" ucap papa Rudy.


Sepeninggal Yudhi yang menuju rumahnya, papa Rudy menatap Joshua memberi kode untuk berbicara berdua dengannya.


Mama Fyneen, Miki dan Sabrina pun membongkar bawaan mereka dan memberikan bagian Sofyan dan Ricky.


"Kak Sofyan, kak Ricky, ini Miki bawain makanan lagi. Ohya perkenalkan ini mama mertua dan adik ipar Miki."


Sofyan dan Ricky pun menyalami Fyneen dan Sabrina yang langsung melongo melihat dua pria tampan di depannya.


"Mbak Miki kok nggak bilang kalau ada kenalan cowok cakep dua orang lagi!" bisik Sabrina ke Miki.


"Sengaja biar kamu nggak oleng dari sekolah" kekeh Miki.



"Isshh! Barang bagus kok disembunyikan dari Sabrina tho!" omel Sabrina sembari mencuri-curi pandang ke arah dua orang pria yang sedang ngobrol dengan mamanya.


***


Papa Rudy dan Joshua sekarang berada di samping rumah sewaan sembari menikmati udara di siang hari. Karena rumah Yudhi di tempat yang masih banyak pepohonan, udara disana malah terasa sejuk meskipun matahari terik.


"Melihat kehidupan appamu membuat papa sedih, Josh" ucap papa Rudy memecah keheningan.


"Papa jangan terkecoh dengan penampilan appa. Di dalam rumahnya banyak peralatan canggih. Kamera CCTV kecil pun terpasang di setiap sudut rumah appa" kekeh Joshua.


"Ohya?"


Joshua mengangguk. "Appa tidak kekurangan uang pa. Ketika kabur dari Seoul, appa sudah membawa uang banyak dan selama ini appa hidup dari uang tersebut disamping itu appa nyaman kok."


"Tapi kan uang tabungan bisa habis kalau tidak ada pemasukan Josh" sahut papa Rudy.


"Pa, sebaiknya papa jangan tanyakan soal itu sama appa ya karena bisa menyinggung perasaan appa. Kita kesini kan mau berkenalan dan silahturahmi agar lebih saling mengenal bukan meributkan finansial appa." Joshua menatap papa Rudy serius.


"Astaghfirullah papa lupa Josh tujuan utama kita apa kemari. Terimakasih kamu sudah mengingatkan papa, son." Papa Rudy memeluk putranya sayang.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata melihat interaksi itu dari jarak beberapa meter dan mata itu pun berkaca-kaca.


***


Yuhuuu up pagi Yaaaa


Tadinya mau up tadi malam cuma akunya ketiduran


Jadi lanjut pagi ini.


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️