
Indri masih belum sadar. Nitha yang melihat kondisi mamanya benar-benar sedih, dia menangis.
Nitha menceritakan bahwa mamanya akan dioperasi di luar negeri dengan bantuan dari papanya Elin.
Tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka dia menghapus air matanya, Nitha melihat Elin datang dan membawa sebuah kantongan.
Elin meletakkan kantongan tersebut di atas meja dekat pintu, dia mengeluarkan isinya dan memberikan box makanan kepada Nitha.
"kamu belum makan siang kan?" tanya Elin.
Nitha yang melihat Elin menyodorkan makanan kepadanya, bukannya mengambil makanan di tangan Elin, Nitha malah memeluk Elin dan berterimakasih kepadanya atas bantuan yang di terimanya.
Elin tersenyum mendengarnya dan membalas pelukan Nitha.
"Semuanya akan baik-baik saja, sekarang kamu makan dulu" ujar Elin menenangkan Nitha.
"kamu tidak makan?" tanya Nitha yang hanya melihat sebungkus makanan.
"tadi siang saya sudah makan di cafe, sekarang masih kenyang" jawab Elin.
Mereka duduk di kursi dekat pintu.
"kata dokter pihak rumah sakit akan mengurus segala keberangkatan mama minggu depan" ujar Nitha memberitahukan kepada Elin tanpa Elin bertanya kepadanya.
Drrt... Drrrt.... drrrtt
Getar hp Nitha di dalam tasnya. Dia melihat ke layar hpnya, telepon dari teman kerjanya.
Nitha menonaktifkan nada dering hpnya saat berbicara di ruang dokter tadi.
Nitha keluar dari ruangan dan menaruh makanannya diatas meja. Elin hanya melihatnya keluar.
"halo Nitha Maaf menganggu. Boss mencari kamu. Saat jam istirahat tadi kamu sudah tidak ada" ujar Emi.
"saya minta maaf, pergi tanpa pemberitahuan. Mama saya masuk rumah sakit. Tolong sampainya ke Boss besok saya akan bertemu dengannya" jelas Nitha.
"baik tha" balas Emi.
Panggilan telepon berakhir.
Nitha kembali masuk ke ruang rawat.
Dia hampir lupa dengan kerjaannya.
Bagaimana dengan pekerjaanya ketika dia berangkat nanti. pikir Nitha
"Apakah Boss akan mengizinkan ku? atau dia akan memecat ku? semoga saja boss mengizikanku" batin Nitha.
Nitha kembali masuk ke ruang rawat Indri.
"Teman kerja kamu?" tebak Elin.
"iya Mr. Perfect itu mencari saya. Lin bagaimana dengan pekerjaan saya ketika nanti berangkat? mana minggu depan saya dan mama berangkat, mana sempat mencari pengganti" tanya Nitha bingung.
"bagaimana kalau saya menggantikan kamu?" tanya Elin balik
"tidak mungkin. Mr. Perfect itu pasti menolak. Dan lagian apa kamu sanggup menghadapinya?" tanya Nitha ragu
"kita coba saja dulu" jawab Elin asal.
Nitha memberikan julukan Mr. Perfect kepada Bossnya karena segala pekerjaan yang di kerjakan karyawannya harus benar-benar sempurna sesuai dengan keinginannya.
Boss Nitha orangnya jutek, dingin, dan selalu berekspresi wajah datar. Nitha jarang melihat Bossnya tersenyum. Dan semua itu telah diketahui oleh Elin.
Mereka memanggil taksi online untuk mengantar mereka ke cafe.
Ibu Kota sedang macet-macetnya sehingga perjalanan mereka yang seharusnya 30 menit menjadi 1 jam perjalanan.
Mereka turun di parkiran cafe.
"Lin saya sangat deg-degkan sekarang" ujar Nitha
"Tenang saja. Semangat. Ayo" ujar Elin menyemangati Nitha. Padahal dia sendiri juga deg-degkan
"Selamat pagi tha" sapa Emi dan beberapa karyawan lainnya.
Saat ini cafe belum buka. Karyawan lainnya sedang bersiap-siap.
Nitha selalu membalas sapaan teman kerjanya dan tersenyum.
Elin yang mengikuti Nitha dari belakang ikut menyapa para karyawan yang menyapa Nitha dengan ramah.
Nitha langsung ke lantai 2, keruangan Bossnya di ikuti oleh Elin.
tok tok tok
Nitha mengetuk pintu ruangan Bossnya.
"masuk" terdengar suara Bossnya dari dalam ruangan.
Nitha membuka pintu dan masuk sendirian, Elin menunggu Nitha di depan ruangan Bossnya.
"selamat pagi pak" sapa Nitha dengan detak jantung yang berdetak cepat.
"selamat pagi" sapa Yuan datar
"kemarin saya tidak masuk setelah jam istirahat karena mama saya tiba-tiba kolaps pak" jelas Nitha yang menundukkan kepalanya.
"kenapa kamu tidak ada pemberitahuan sebelumnya? kalau bukan karena kinerja kamu yang bagus di cafe ini sudah saya pecat kamu" jelas Yuan dengan Emosi.
"saya benar-benar minta maaf pak" Nitha diam sejenak, dia berpikir bagaimana memberitahukan Bossnya, kalau dia ingin izin minggu depan untuk membawa mamanya berobat. " saya ingin meminta izin kepada Bapak saya akan membawa mama saya berobat ke Jepang minggu depan" dengan rasa takut Nitha melanjutkan kalimatnya.
Yuan yang mendengar benar-benar emosi.
.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah.
Terimakasih