
Setelah makan malam para karyawan duduk di atas pasir dan mengelilingi api unggun sambil bernyanyi bersama diiringi dengan petikan gitar dari Gino.
Sementara Yuan hanya menonton mereka dari ayunan besi, lebih tepatnya Yuan hanya melihat Elin yang bernyanyi bersama dengan yang lainnya.
Elin lalu melihat kearah Yuan dan menghampirinya.
"Pak Yuan gak gabung?" tanya Elin.
"Tidak" jawab Yuan singkat.
Elin yang merasa kasihan melihat Yuan yang duduk sendirian di ayunan besi memutuskan untuk menemaninya dan duduk di samping Yuan.
"kenapa pak Yuan ga mau gabung? seru loh pak bisa bernyanyi rame-rame gini" bujuk Elin
"saya hanya tidak suka saja" jawab Yuan. "Melihat kamu bernyanyi tadi sepertinya tenggorokan kamu sudah membaik" ujar Yuan.
"Iya pak, berkat Vino" ujar Elin senang.
Mendengar Elin yang memuji Vino di depannya membuat Yuan merasa kesal.
Di tempat lain, Emi yang sedang asyik mengambil gambar para karyawan yang sedang bernyanyi, melihat Elin dan Yuan yang duduk di ayunan besi. Dia segera menghampiri mereka.
"Pak Yuan, Elin senyum dong" ujar Emi yang sudah siap dengan kameranya untuk memotret Elin dan Yuan.
Elin lalu senyum kepada Emi dan mengangkat kedua tangannya kemudian menyilangkan ibu jari dan jari telunjuknya hingga membentuk hati. Sementara Yuan hanya tersenyum kaku.
"Pak Yuan lebih dekat dong" ujar salah satu karyawan yang melihat mereka.
Yuan menuruti permintaan karyawannya tersebut, dia mendekatkan dirinya ke Elin. Namun tetap saja Yuan tersenyum dengan kaku. Yuan memang tidak biasa di foto.
"Pak Yuan kaku banget sih" gumam Emi.
"Foto aja cepet" perintah Yuan ketus.
Emi lalu menuruti perintah bossnya.
"Elin gimana kalau kita foto berempat bersama Gino dan Vino" ujar Emi.
Elin meresponnya dengan anggukan kepada Emi, Emi lalu pergi mengajak Vino dan Gino.
"Pak Yuan mau ikut foto juga?" ajak Elin
"Gak" jawab Yuan singkat.
"Kalau gitu saya pamit dulu pak" ujar Elin lalu menghampiri ketiga temannya.
Mereke berempat berselfi dengan ceria, Gino memegang camera, Emi berada di samping Gino. Sementara Elin dan Vino berada di belakang mereka. Mereka sangat dekat satu sama lain.
Setelah pengambilan foto pertama mereka mengubah gaya mereka hingga Elin dan Vino berada di posisi yang semakin dekat.
Yuan yang melihatnya dibuat kesal, segera dia menghampiri mereka dan menerobos masuk di antara Elin dan Vino. Mereka berempat sontak berbalik bersamaan melihat ke arah Yuan.
"Ada apa? saya tidak boleh ikut foto?" tanya Yuan dingin.
"boleh kok pak" jawab Gino.
Gino sudah siap mengambil foto mereka berlima. Yuan tiba-tiba memegang telapak tangan Elin. Membuat Elin yang merasakannya terkejut dan langsung melihat ke arah Yuan.
Elin masih tetap berdiri di posisinya, dia masih terkejut dengan apa yang dilakukan Yuan tadi. Sementara si pelaku, Yuan telah meninggalkan mereka menuju ke kamarnya. Emi, Vino dan Gino juga meninggalkan Elin, mereka tidak menyadari apa yang terjadi dengan Elin.
***
keesokannya
Elin dan Emi bersiap merapikan barang-barang dan pakaian mereka kedalam tote bag mereka.
"gak bisa dong, besokkan kita harus kerja" ujar Elin.
Setelah selesai, mereka keluar dari kamar mereka.
Para karyawan telah berkumpul di ruang tamu resort untuk menunggu biss yang menjemput mereka.
Beberapa menit kemudian biss yang akan membawa mereka telah tiba di parkiran resort. Mereka semua menuju ke parkiran resort dan masuk ke dalam biss.
"Kamu ikut dengan saya" ujar Yuan yang seperti hantu tiba-tiba muncul di samping Elin dan menarik tote bag yang di bawa Elin dan membawa tote bag Elin ke dalam mobilnya.
Mau tidak mau Elin harus mengikuti Yuan dan masuk kedalam mobil sport hitam.
Tidak ada orang yang melihat Elin yang meninggalkan rombongan para karyawan cafe Sun.
Mobil sport hitam milik Yuan kini telah melaju ke jalan raya menuju ke ibu kota.
Tidak ada pembicaraan di dalam mobil sport hitam yang terdengar hanya suara mesin mobil.
Hp di dalam tas Elin berbunyi dia melihat ke layar hpnya ternyata telepon dari Emi.
Belum sempat Elin mengucapkan kata Hallo, Emi sudah terlebih dulu berbicara.
"Elin kamu dimana?" tanya Emi dengan suara panik
"saya di mobil pak Yuan, sorry gak bilang soalnya tadi udah ga sempat" ujar Elin yang merasa bersalah dengan Emi.
"Kamu tuh yah bikin jantungan tau ga pagi-pagi" ujar Emi kesal.
"Sorry sorry" ujar Elin
"Yah udah kalo gitu"
sambungan telepon terputus.
Yuan melirik ke arah Elin yang sedang menyimpan kembali hpnya ke dalam tasnya
"Siapa?" tanya Yuan penasaran.
"Emi. Dia khawatir karena saya pergi tanpa bilang-bilang tadi" jawab Elin.
Yuan tidak mengatakan apapun setelah mendengar jawaban dari Elin. Dia hanya fokus menyetir.
.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐
Terimakasih