Who Are You? (WAY?)

Who Are You? (WAY?)
WAY #67



Hans menggelengkan kepalanya, memberi tanda bahwa keadaan Yuan tidak baik. "Yuan mengalami trauma otak mengakibatkan pendarahan di otaknya, dan juga tulang tangan kanan Yuan patah. Besar kemungkinan Yuan mengalami koma" jelas dokter Hans.


Elin yang mendengar penjelasan dokter Hans membuatnya nyaris merosot ke lantai, jika bukan karena Nitha dengan sigap menahan tubuh Elin. Nitha dan Vino membantu Elin untuk kembali duduk. Elin sangat syok mendengarnya, dadanya terasa sesak, bibir Elin bergetar, air matanya kembali membasahi pipinya.


Nitha yang memeluk Elin ikut menangis, dia mengelus lembut punggung Elin.


Sementara Winjaya yang mendengar seakan tidak percaya mendengar kabar buruk tentang keadaan anaknya untuk keduakalinya.


"Perintahkan orang-orang suruhan kamu dengan cepat menyelidikinya, saya tidak akan melepaskan pelakunya" ujar Winjaya dengan penuh amarah.


***


Elin memandangi Yuan yang tampak tertidur pulas dan tenang. Tidak seperti biasa yang selalu di lihatnya, Yuan yang selalu berwajah dingin, Yuan yang merasa kesal setiap kali Elin membantah perintahnya atau dekat dengan laki-laki lain selain dirinya, Yuan yang melarangnya melakukan ini itu. pikir Elin.


"Yuan sayang, ini saya Elin" ujarnya sambil mengelus lembut rambut Yuan. "Melihat kamu yang tidur tenang seperti ini, apa saya ada dalam mimpi kamu? apa kamu bisa melihat saya di dalam mimpi kamu? " ujar Elin dengan suara serak, dia berusaha menahan agar air matanya tidak mengalir. Elin tidak ingin Yuan ikut merasa sedih, jika dia menangis di depannya.


Beberapa hari telah berlalu Elin masih tetap setia menunggu Yuan, kadang dia menjaganya malam hari. Namun Yuan tak kunjung sadar. Hingga beberapa bulan berlalu, Elin semakin lama semakin merasa kehilangan Yuan dan cemas.


***


3 Tahun Kemudian


"Cantik, pas banget di tubuh kamu"


"Terimakasih"


"Udah siap belum? para tamu undangan udah pada nunggu" ujar Ana yang menghampiri mereka.


"Iya tante bentar lagi" ujar Nitha.


Seorang wanita cantik dengan gaun pengantin putih yang mewah berjalan di altar yang di dampingi oleh Andre.


"Semoga kalian hidup bahagia" ujar Andre lalu memberikan tangan Nitha kepada Vino yang memakai stelan jas berwarna putih lengkap dengan kemeja dan dasi kupu-kupu yang juga berwarna putih. Vino nampak sepetri seorang pangeran.


"Terimakasih paman" ujar Vino.


Keduanya pun mengucapkan janji suci pernikahan.


Kini para tamu dengan sedang menikmati hidangan yang telah di siapkan. Vino dan Nitha juga ikut menikmati hidangan sambil menyapa para tamu undangan


"Kamu kenapa Lin, kok kek orang khawatir gitu?" tanya Mikael yang berada di samping Elin.


"Kak El kata Yuan dia sudah datang tapi kok gak kelihatan sejak tadi?" tanya Elin khawatir


Nitha dan Vino mengangguk sambil tersenyum bersamaan memberikan izin dan Yuan yang melihatnya melanjutkan kalimatnya.


"Terimakasih kalian memang sahabat terbaik" ujarnya lalu menarik napas panjang karena gugup. "Untuk wanita yang saya cintai, saya ingin meminta maaf karena selama ini saya telah menyakiti kamu tapi saya juga ingin berterimakasih karena kamu tetap ada di sisi saya, telah sabar menghadapi saya yang kata kamu saya ini seperti kutub es. Kini kutub es itu telah mencair berkat cahaya kehangatan yang kamu miliki" Yuan kembali menarik napas, dia semakin gugup.


"Di depan kedua orang tuamu saya ingin mengatakan..." Yuan menggantungkan kalimatnya, dia melangkah menghampiri Elin yang terus memperhatikannya dan tersenyum heran kepada Yuan.


Yuan berlutut di depan Elin dan mengeluarkan kotak merah berbentuk hati lalu membukanya menghadap Elin


"Will you merry me honey?" tanya Yuan gugup


Elin sangat terkejut, dia tidak menyangka kalau Yuan akan melamarnya di acara pernikahan Vino dan Nitha.


Kini semua mata tertuju pada mereka membuat Elin sedikit merasa malu. Namun rasa malu itu seakan mulai tersingkir berganti menjadi rasa haru dengan apa yang dilakukan Yuan di hadapan kedua orang tuanya dan para tamu undangan.


Elin mengangguk "Yes, i will" jawabnya sambil meneteskan air mata bahagia


Yuan sangat legah mendengarnya, dia langsung memasang cincin lamarannya di jari manis Elin dan memeluknya.


Semua orang yang melihatnya bersorak senang tak terkecuali orang tua Elin yang ikut senang melihatnya


.


.


.


.


.


Bersambung...


hai guys


jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐Ÿ˜‰


like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐Ÿ˜Š


Terimakasih