
Mereka pergi ke rumah Nitha naik taksi.
Sesampainya, Nitha membuka pintu rumahnya dan melihat Indri yang sudah tidak sadar sambil memegang hp-nya.
Tangis Nitha pecah melihat keadaan Indri, segera ia menghampirinya dan menepuk pelan pipi Indri untuk menyadarkannya. Namun Indri tetap tidak sadar.
Jantung Nitha berdetak tidak karuan melihat keadaan mamanya.
Elin yang melihatnya kaget dan langsung menelpon ambulance.
***
Di dalam ambulance Nitha terus menangis begitupun dengan Elin.
Sesampainya di rumah sakit dengan sigap para perawat mendorong brankar yang di tempati Indri yang telah di turunkan dari mobil ambulance menuju ke ruang UGD. Begitupun dengan Nitha dan Elin. Saat di depan pintu UGD mereka di tahan oleh salah satu suster "mohon maaf kalian dilarang masuk" ujar suster tersebut dan menutup pintu ruang UGD.
Elin benar-benar sedih melihat keadaan Indri dan Nitha yang terus menangis memanggil mamanya.
Elin tidak dapat membayang betapa sakit yang di alami Indri sampai Ia pingsan dan betapa sedih yang di rasakan Nitha yang sedari rumah hingga sekarang menangis memegang dadanya.
Elin mengajak Nitha duduk di kursi depan ruang UGD, dia memeluk sahabatnya dan mencoba menenangkannya.
Ayah Nitha telah meninggal 2 tahun lalu. Nitha memiliki seorang tante dari ayahnya tapi tantenya tidak menyukai dia dan Indri. Sedangkan Indri anak tunggal
2 jam kemudian dokter keluar dari ruang UGD. Mereka berdua langsung berdiri. Nitha menghapus sisa air matanya.
"bagaimana keadaan mama dok?" ujar Nitha serak.
"keadaan Bu Indri semakin menurun. Seperti yang saya katakan sebelumnya beliau harus segera di operasi untuk mengangkat dan menghambat penyebaran sel kanker. Sebaiknya kita bicara diruangan saya" jelas dokter. Dokter yang menangani Indri sekarang adalah dokter yang selalu di datangi oleh indri untuk berobat rutin Indri.
"iya dok" ujar Nitha.
Nitha dan dokter menuju keruangan dokter.
Selesai bicara dengan dokter, Nitha keluar dari ruang dokter dan menuju ke Elin yang berada di depan ruang UGD.
Elin menyambut sahabatnya dengan pertanyaan.
"apa kata dokter tha?" tanya Elin.
"bagaimana ini Lin? saya benar-benar bingung, pikiran saya kacau" ujar Nitha sambil menangis dipelukan Elin.
"memangnya apa kata dokter tadi?" Elin kembali bertanya.
"Dokter bilang mama harus dioperasi di luar negeri karena resikonya cukup besar. Sementara uang saya belum cukup" jelas Nitha sambil menangis.
"papa.... iya papa" batin Elin.
"Kamu tenang dulu, Pasti ada jalan keluarnya kok. Tadi saya sudah tanya suster katanya tante indri sudah bisa ditengok tapi hanya 1 orang yang bisa masuk. Sebaiknya sekarang kamu masuk lihat tante Indri" jelas Elin.
Nitha menghapus air matanya dan mendengarkan saran Elin untuk masuk menegok Indri.
Elin yang melihat Nitha sudah masuk ke ruang UGD pergi ke taman rumah sakit dan menelpon Andre. Elin meminta tolong agar papanya mau membiayai operasi Indri dan Andre setuju untuk membantu Nitha.
Elin kembali ke depan ruang UGD, dia melihat Nitha yang sedang duduk di kursi tunggu lagi melamun.
"bagaimana keadaan tante indri?" tanya Elin.
"mama masih belum sadar" jawab Nitha tidak bersemangat.
"Tha saya punya solusi" ujar Elin pelan.
Nitha yang mendengarnya menatap Elin yang duduk disampingnya dengan mata sembab.
"apa?" tanya Nitha penasaran.
"tapi saya ingin kamu setuju dengan solusi saya"
"memangnya kamu punya solusi apa?" tanya Nitha lagi.
Elin memberitahukan bahwa papanya bersedia membantu biaya operasi Indri.
Nitha yang mendengarnya tidak setuju, dia tidak ingin berhutang budi terlalu besar.
Elin terus membujuknya "ini demi tante Indri Tha. Saya mohon kamu terima yah?" Melihat tidak ada respon dari Nitha "begini aja. Kamu tidak menerima cuma-cuma bantuan papa. Kamu bisa mengembalikan uang itu kapanpun kamu mau" lanjut Elin. Dan akhirnya Nitha setuju.
Sejak dulu Elin selalu ingin membantu Nitha, tapi Nitha menolaknya jika berupa uang. Nitha memang perempuan yang mandiri. Apalagi sejak ayahnya meninggal, dia harus menghidupi mamanya dan biaya obat-obatan mamanya.
Nitha pergi ke ruang dokter yang menangani Indri untuk membicarakan keberangkatan Indri ke Jepang.
Sementara Indri dipindahkan ke ruang rawat.
Selesai bicara dengan dokter Nitha keluar dan menuju ke ruang rawat Indri.
Dia ingin memberitahu Elin. Namun Elin tidak ada di ruang rawat.
.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah.
Terimakasih