
Selesai makan, Elin teringat dengan kejadian di supermarket tadi.
"Pak Yuan maaf soal kejadian di supermarket tadi" ujar Elin.
"Tidak papa" ujar Yuan.
"Dia mantan pacar saya sekaligus GM di PT Winjaya Develpoment, lebih tepatnya mantan GM. Kami dulu sudah hampir menikah tapi sehari setelah dia melamar saya dia ketahuan selingkuh di apertemen miliknya" jelas Elin. Dia menghembuskan nafas berat. "Saya wanita bodoh yang mau di manfaatkan oleh lelaki brengsek seperti dia. Padahal Nitha sudah sering memperingati saya, tapi saya di butakan oleh cinta. Dia cinta pertama saya dan juga cinta yang paling menyakitkan" lanjut Elin sambil tersenyum menyedihkan.
Yuan memegang punggung tangan Elin, berusaha menenangkannya. "sudah tidak usah mengingat lelaki brengsek itu" ujar Yuan.
"Maaf pak, saya jadi curhat" ujar Elin canggung. Elin berdiri lalu mengambil mangkok kotor milik nya dan Yuan. Dia menuju ke wastafel untuk mencucinya.
Yuan memperhatikan apa yang di lakukan oleh Elin.
"Rasanya saya ingin sekali memeluk kamu, melepaskan semua beban dihati kamu. Saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu lagi." ujar Yuan dalam hati yang kini melihat punggung Elin.
Elin melihat keluar jendela yang berada beberapa meter di sampingnya. Dia melihat hujan yang sudah mulai redah.
"Pak hujannya sudah mulai redah" ujar Elin lalu berbalik ke arah Yuan.
Tatapan mereka saling bertemu satu sama lain, membuat Elin menjadi canggung dan langsung mengalihkan pandangannya.
"Pak saya cek pakaian saya dulu" ujar Elin canggung lalu melangkah menuju ketempatnya berjemur pakaian sebelumnya. Namun Yuan tiba-tiba memegang tangan Elin membuatnya menghentikan langkahnya.
"Tidak bisakah kamu menyukai saya seorang?" tanya Yuan serius lalu menarik Elin agar lebih dekat kepadanya.
Elin menatap Yuan tidak percaya, Yuan mengungkapkan perasaannya dengan tatapan yang tulus dan hangat, tidak seperti saat di cafe waktu itu dengan tatapan dingin. pikir Elin
Jantung Elin semakin berdegup kencang seakan-akan berlompat ingin keluar dari tempatnya.
"Saya... saya belum bisa menjawabnya sekarang pak, saya harus memikirkannya dulu. Saya tidak ingin tersakiti lagi" ujar Elin.
"Ok. Saya tidak akan memaksa kamu untuk menjawabnya sekarang, saya akan menunggu jawaban kamu. Tapi kamu perlu ingat kalau saya berbeda dengan lelaki brengsek itu" ujar Yuan dengan lembut lalu menarik Elin ke pelukannya.
Elin hanya meresponnya dengan anggukan kepala di dalam pelukan Yuan.
"Saya cek pakaian saya dulu" ujar Elin lalu melepaskan pelukan Yuan.
Sekembalinya Elin.
"Gimana? udah kering?" tanya Yuan.
Elin menggelengkan kepalanya "belum" jawabnya.
"Yah udah. Kamu pakai saja dulu pakaian saya, pakaian kamu biarkan dulu terjemur. Besok saya akan bawakan" ujar Yuan.
"Berarti saya harus pulang dengan pakaian ini?" tanya Elin sambil menunjuk pakaian Yuan yang di pakainya.
Yuan kembali tertawa melihat pakaiannya yang dipakai Elin. Tubuh mungil Elin seakan tenggelam dalam pakaian kebesaran yang dipakainya.
"Tuhkan kamu kembali tertawa" ujar Elin merajuk.
"ok ok saya berhenti tertawa. Tunggu bentar" ujar Yuan lalu masuk ke kamarnya mengambil sesuatu.
Sekembalinya, Yuan memberikan Elin sweater miliknya. "pakai ini, Sweater ini kekecilan di saya, siapa tau di kamunya cocok" ujar Yuan. Elin pun menurutinya.
Kini mereka telah berada di mobil sport Yuan yang melaju di jalan raya.
Hp di dalam tas Elin berbunyi, dia mengambil dan melihat kelayar hpnya. Ternyata Telepon dari Amor.
"Halo"
"Halo Lin. Kamu dimana? kok belum balik-balik?" tanya Amor.
"Saya udah di jalan kok"
"Yah udah kalau gitu. Hati-hati yah"
Sambungan telepon terputus.
"Dari siapa?" tanya Yuan penasaran.
"Dari Kak Amor, Kakak saya"
Yuan hanya mengangguk mendengarnya dan tetap fokus menyetir.
Mobil Yuan kini telah terparkir di depan loby gedung apertemen Elin.
Elin lalu keluar dari mobil Yuan diikuti oleh Yuan yang menuju ke bagasi mobilnya untuk mengambil barang-barang belanjaan Elin lalu memberikannya kepada Elin.
"Masuklah dan istirahat" ujar Yuan sambil memberikan 2 kantong belanjaan Elin.
Elin masih berdiri di tempatnya. "Kenapa tidak masuk?" tanya Yuan.
"Biasanya juga pak Yuan yang pergi duluan, setelah itu saya masuk" jawab Elin.
"kalau gitu mulai sekarang kamu masuk duluan baru saya akan pergi" ujar Yuan sambil mengusap rambut kepala Elin. "Masuklah" ujar Yuan.
"Bye pak Yuan" ujar Elin lalu masuk ke dalam gedung apertemen. Setelah tidak terlihat lagi, Yuan lalu masuk ke mobilnya dan pergi.
.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐
Terimakasih