Who Are You? (WAY?)

Who Are You? (WAY?)
WAY #56



Kini Yuan memegang kedua pipi Elin lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Elin, berlahan Yuan ******* lembut bibir Elin yang terasa manis di lidahnya.


Awalnya Elin ingin menolak namun dia mulai menikmatinya membuatnya membalas ciuman Yuan. Kini Elin melingkarkan kedua tangannya ke leher Yuan


Yuan yang mendapat lampu hijau dari Elin, menarik pinggang Elin agar lebih dekat dengannya dan memperdalam ciumannya


Yuan lalu menutup pintu ruangan manajer dengan kaki panjangnya agar tidak ada yang melihat mereka berdua.


Tok tok tok


Terdengar suara seseorang mengetok pintu ruang manajer.


Yuan tidak memperdulikannya dia tetap ingin melanjutkan aktivitasnya tapi berbeda dengan Elin yang langsung melepaskan diri dari Yuan dan menghentikan aktivitas mereka.


Yuan memasang wajah kesal dengan orang yang megetuk pintu "dasar penganggu, datang di waktu tidak tepat." ujar Yuan dalam hati.


Elin lalu merapikan sedikit penampilannya kemudian membuka pintu. Betapa kagetnya Elin ketika melihat orang yang mengetuk pintu ternyata adalah Mikael.


"Kak El" panggil Elin.


***


Ruangan Yuan


"Kamu gapain di ruangan Elin?" tanya Mikael yang berusaha menahan emosinya karena melihat Elin dan Yuan berdua di ruangan manajer tadi.


"Kami..." Yuan berusaha mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Mikael. "Kami tadi membahas pekerjaan" jawab Yuan bohong. "Kak Mikha ada perlu apa kemari?" tanyanya mengalihkan pembicaraan, dia takut jika Mikael bertanya lebih lanjut lagi. Sebenarnya Yuan masih kesal dengan Mikael karena gangguan tadi.


"Papa menyuruh kamu makan malam di rumah" jawab Mikael dengan mengalihkan pandangannya dari Yuan.


"Tidak mau" ujar Yuan singkat.


"Papa hanya ingin makan malam dengan kita, dengan anak-anaknya. Kenapa kamu gak mau? Saya tidak mau tau besok malam kamu harus datang, jika tidak saya akan menjemput paksa kamu" ujar Mikael kesal lalu keluar dari ruangan Yuan.


***


Setelah menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda tadi. Elin lalu ke lantai satu untuk pergi makan siang bersama teman-temannya.


Sekembalinya di cafe Elin lalu duduk di salah satu kursi kosong dekat kasir. Dia melihat Yuan yang keluar dari cafe dan tidak melihat dirinya. Posisi Elin duduk memang lumayan tersembunyi.


"Mau kemana dia? apa dia sudah makan siang?" ujar Elin dalam hati.


Hp di saku celananya berbunyi, Elin lalu melihat kelayar hpnya ternyata chat WA dari Yuan.


๐Ÿ’ฌ From : Kutub Es


Besok malam temani saya makan malam di rumah papa. Saya jemput jam 7 malam.


Elin yang membacanya terkejut. "Kok dadakan gini sih, saya mau bilang apa saat makan malam besok di depan pak Winjaya? salah satu orang terpandang di Indonesia. Oh My God, membayangkannya saja membuat saya gugup"


Dengan terpaksa Elin menyetujuinya dan membalas chat Yuan karena dia tidak mempunyai alasan untuk menolaknya.


***


Elin masuk ke ruangan Yuan setelah menyelesaikan laporannya seperti biasa.


"Pak Yuan ini laporannya" ujar Elin lalu meletakkan laporan tersebut diatas meja Yuan.


Yuan lalu melihat ke arah Elin lalu menghampiri Elin hingga mereka saling berhadapan.


"Ada apa pak? kok kek lesu gitu?" tanya Elin yang melihat ekspresi Yuan yang tidak bersemangat.


Bukannya menjawab Yuan malah memeluk Elin.


Elin sudah mulai terbiasa dengan pelukan Yuan, langsung membalas pelukannya.


"Kalau ada masalah Pak Yuan bisa cerita sama saya?" ujar Elin.


"Saya dan papa memiliki hubungan tidak begitu baik" jawab Yuan yang masih memeluk Elin.


"Kalau boleh tau, penyebabnya apa?" tanya Elin dengan lembut.


Yuan lalu melepaskan pelukannya dan menarik Elin untuk duduk di sofa.


"Setelah mama meninggal papa seperti tidak perduli lagi dengan mama, dia tidak pergi ke pemakaman mama, dia tidak pernah sama sekali membahas mama, dia melarang siapapun untuk memajang foto mama, dia juga sering mabuk-mabukkan dan yang lebih parahnya papa menikah lagi dengan teman mama" jelas Yuan yang mengalihkan pandangannya dari Elin dan berusaha menahan air matanya menetes.


Elin tidak terkejut mengetahui kalau pak winjaya menikah lagi karena sebelumnya di perusahaan di kota M sudah ada gosip mengenai pak winjaya yang menikah lagi. Tapi tidak pernah ada pemberitaan resmi kalau pak Winjaya menikah lagi.


Elin lalu memeluk Yuan dari samping.


Yuan yang merasa nyaman di pelukan Elin lalu berbalik dan membalas pelukan Elin. Dia menenggelamnya wajahnya di pundak Elin dan menangis. Dia tidak ingin Elin melihatnya menangis.


"Mungkin pak Winjaya punya alasan sendiri, kenapa beliau menikah lagi" ujar Elin yang berusaha menenangkan Yuan. "Apa Pak Yuan pernah menanyakannya ke beliau?" tanya Elin.


Yuan hanya menggelengkan kepala di pundak Elin.


.


.


.


.


.


Bersambung...


hai guys


jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐Ÿ˜‰


like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐Ÿ˜Š


Terimakasih