
Selesai makan, mereka lalu bersantai di ruang tengah. Tanpa Nana karena dia tau kalau Yuan tidak menyukai keberadaannya dan dia tidak ingin merusak suasana.
"Bagimana perkembangan cafe kamu Yuan?" tanya Winjaya
"Baik, gak ada masalah" jawab Yuan dingin
Elin merasa ingin buang air kecil tapi dia tidak tau toilet di rumah Winjaya, dia ingin bertanya kepada Yuan tapi tidak ingin mengganggunya.
Akhirnya Elin memutuskan pergi dan bertanya kepada asisten rumah tangga.
Selesai dari toilet, saat berjalan menuju keruang tengah Elin tidak sengaja melihat pintu kamar yang sedikit terbuka lalu melihat kedalam kamar tersebut dan melihat vector wajah Mikael yang terpajang di dinding kamar yang diyakini oleh Elin, vector wajah yang terpajang itu adalah hadiah wisuda Mikael darinya.
"Kamu lihatin apa?" tanya Mikael yang berdiri tepat di belakang Elin.
"Kak El" ujar Elin terkejut.
"Ini kamar saya, kalau mau masuk, masuk aja"
Elin lalu melangkah masuk dan melihat ke vector wajah Mikael untuk memastikan kalau itu adalah hadiah darinya.
Mikael lalu mengikuti arah pandang Elin
"vector wajah itu hadiah wisuda saya dari kamu" ujar Mikael.
"Kak El dapat dari mana? saya bahkan lupa menjatuhkannya dimana" tanya Elin terkejut
"di parkiran hotel Moon, untungnya ada nama kamu di situ jadi saya tau kalau itu dari kamu" jawab Mikael. "Kamu dan Yuan punya hubungan apa?" tanya Mikael ragu.
Sebelumnya Mikael mencurigai bahwa Yuan menykai Elin, tapi dia berusaha untuk menepis kecurigaannya.
"saya dan Pak Yuan ..." belum selesai Elin berbicara Yuan sudah berdiri di ambang pintu kamar Mikael dan langsung memotong kalimat Elin.
"Elin pacar saya kak Mikha" ujar Yuan datar.
Mikael kaget mendengar kalimat Yuan dan membuatnya terdiam.
"Saya daritadi mencari kamu, saya tanya asisten rumah tangga katanya kamu ke toilet tapi ternyata tidak ada"
"Iya saya tadi..."
"Kita pulang" potong Yuan.
"Nih orang kebiasaan yah, selalu potong pembicaraan orang" ujar Elin dalam hati kesal.
Mereka meninggalkan Mikael yang masih terdiam di tempatnya.
Yuan tidak ingin berpamitan dengan orang tuanya. Tapi Elin menahannya untuk terus melangkah ketika melewati Winjaya dan Nana.
"Berhenti" ujar Elin lalu memegang tangan Yuan untuk menghentikan langkahnya. Elin lalu menarik Yuan ke depan orang tuanya untuk berpamitan. Tapi Yuan hanya diam saja.
"Paman Winjaya dan Tante Nana kami pamit dulu" ujar Elin.
"Iya, sering-sering yah main ke sini" ujar Nana.
"Iya tante"
Mereka lalu keluar dari rumah Winjaya dan masuk ke mobil sport hitam Yuan.
Yuan melajukan mobil kejalan raya.
"Pak Yuan apa mbah Rena gak pernah ke rumah Pak Winjaya?" tanya Elin ragu.
Elin lalu melihat ke arah Yuan "Kenapa pak?" tanya Elin heran.
"Pak Pak Pak terus" bentak Yuan kesal. Sebenarnya dia tidak ingin marah kepada Elin, tapi dia terus memikirkan Elin yang berada di kamar Mikael tadi.
"Sorry, habisnya udah kebiasaan" ujar Elin dengan suara sedih.
Setelah kalimat Elin tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka yang terdengar hanya suara mesin mobil Yuan.
Kini mobil Yuan telah berhenti di depan lobby apertemen Elin.
Elin hendak keluar dari mobil Yuan tanpa pamit karena dia tau Yuan masih marah padanya. Tapi tangannya di tahan oleh Yuan.
"Maaf tadi saya membentak kamu, Rena tidak pernah ke rumah papa" ujar Yuan. "Kamu tadi ngapain ke kamar Kak Mikha?" lanjutnya.
"Awalnya saya tidak tau kalau kamar itu kamar kak El karena saya hanya melihat vector wajah kak El dari luar kamar dan Kak El tiba-tiba muncul mengajak saya masuk. Gitu aja, habis itu kita cuman berbincang sebentar" jawab Elin.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Yuan lagi
"tentang vector yang saya berikan" jawab Elin
"Lain kali kamu gak usah dekat-dekat dengan kak Mikha"
"Kenapa?" tanya Elin heran
"Saya hanya tidak suka saja" jawab Yuan datar. "sudah kita gak usah bahas kak Mikha lagi. Intinya sekarang kamu adalah pacar saya dan saya mencintai kamu my Angel" ujar Yuan lalu mengecup dahi Elin.
Elin tersenyum senang mendengar kalimat terakhir Yuan. "Kalau gitu saya masuk yah pak, eh salah sayang" ujar Elin
"apa? kamu tadi bilang apa?" tanya Yuan yang berpura-pura tidak mendengar kata terakhir Elin
Elin tidak memperdulikan pertanyaan Yuan, dia malu dengan perkataannya sendiri lalu keluar dari mobil Yuan dan masuk ke dalam gedung meninggalkan Yuan yang terus memanggilnya.
Di mobil Yuan tersenyum kesenangan mengingat Elin yang memanggilnya 'sayang'. Rasa kesalnya tadi berganti dengan rasa senang.
Yuan kembali melajukan mobilnya ke jalan raya.
Yuan sebenarnya tau kalau kakaknya menyukai Elin tapi dia tidak ingin Elin mengetahuinya. Yuan takut ketika Elin mengetahuinya, Elin akan meninggalkannya dan pergi bersama Mikael dan itu adalah mimpi buruk untuknya
.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐
Terimakasih