
"Elin kepala saya kok tiba-tiba sakit yah" ujar Yuan sambil memegang kepalanya yang tidak sakit.
Elin yang mendengarnya langsung berdiri dan menghampiri Yuan dengan panik.
"pak Yuan" panggil Elin lalu membantu Yuan menuju ke kamarnya dan membaringkan Yuan di atas tempat tidur.
"Lin bisa bantu pijitan gak?" tanya Yuan yang berpura-pura sakit.
Elin lalu duduk di tempat tidur dan mengambil bantal yang di taruhnya diatas pahanya agar Yuan bisa baring di pangkuannya.
Elin mulai memijit kepala Yuan.
"Gimana pak, udah mendingan?" tanya Elin.
"udah mendingan sih, tapi masih perlu di pijit" jawab Yuan.
Yuan masih ingin lebih lama bersama Elin berdua hingga membuatnya terpaksa berbohong agar Elin membatalkan niatnya untuk pulang.
Yuan mulai merasa pijitan Elin di kepalanya sudah seperti mengelus, dia lalu berbalik ke arah Elin dan mendapati Elin yang telah tertidur dengan menyandarkan kepalanya ke sandaran tempat tidur.
perlahan Yuan membaringkan Elin di tempat tidur agar tidak membangunkannya. Pelan-pelan Yuan menyelimuti tubuh Elin hingga tersisa kepala Elin. Yuan lalu berbaring di samping Elin.
Malam telah berganti pagi.
Yuan terbangun dari tidurnya dan mendapati Elin sudah tidak berada di sampingnya.
"Elin" panggil Yuan tapi tidak ada jawaban dari Elin. Dia lalu keluar dari kamar dan hanya menemukan asisten rumah tangganya yang sedang menyapu.
"Selamat pagi Tuan" sapa Bi jung.
"Selamat pagi, Bi Jung lihat Elin gak?" tanya Yuan sedikit panik tapi dia berusaha menutupi kepanikannya.
"Non Elin udah pergi Tuan, tapi tadi non Elin berpesan katanya kalau Tuan udah bangun harus habisin nasi goreng yang di buat non Elin" jawab Bi Jung.
"Terimakasih Bi" ujar Yuan tidak bersemangat. Dia lalu menuju ke meja makan. Benar saja Elin memasakkannya sepiring nasi goreng.
Bi Jung adalah asisten rumah tangga Yuan yang telah bekerja sejak Yuan berusia 3 tahun. Sebenarnua Bi Jung sudah ingin pensiun tapi Yuan tidak menyetujuinya karena Bi Jung sudah seperti orang tuanya sendiri. Oleh karena itu, dalam seminggu Bi Jung hanya bekerja 3 kali.
Yuan lalu pergi mandi dan bersiap untuk ke cafe setelah menghabiskan nasi goreng yang dibuat Elin.
***
"Selamat pagi semua" sapa Yuan kepada seluruh karyawan cafe yang sedang bekerja.
Tidak ada yang membalas sapaan Yuan, mereka semua keheranan dengan Yuan yang tiba-tiba menyapa mereka di pagi hari.
Yuan yang merasa kesal karena sapaannya tidak di balas oleh para karyawan malah menegur karyawan yang di lewatinya.
Elin yang lagi di gudang mendengar ribut-ribut di luar membuatnya melihat keluar gudang.
"Kutub es buat keributan apa lagi sih pagi-pagi gini" ujar Elin lalu melihat Yuan yang sedang menegur beberapa karyawan. "kumat deh penyakitnya"
Elin lalu kembali melanjutkan pekerjaannya di gudang. Setelah selesai dia kembali ke ruangannya.
Hp Elin yang berada di sampingnya berbunyi, dia melihat ke layarnya ternyata telepon dari Mikael.
"halo kak"
"Halo Lin, apa kabar?"
"Baik, kalau kak El?"
"Baik juga, saya baru aja tiba di Ibu Kota. Entar siang saya jemput kamu yah, kita makan siang bareng" ujar Mikael.
"Iya kak"
"Bye kak"
Sambungan telepon terputus.
Selesai membuat laporan Elin lalu menuju ke ruangan Bossnya.
tok tok tok
"Masuk" ujar Yuan.
Elin lalu membuka pintu dan melangkah masuk. Dia melihat Yuan yang sedang senyum-senyum menatapnya.
"Pak Yuan keknya lagi senang banget" ujar Elin lalu menyerahkan laporannya.
"Tadi pagi kenapa ga bangunin saya sebelum pergi?" tanya Yuan
"Pak Yuan tidurnya nyenyak banget, saya gak mau ganggu"
"Nanti siang kamu mau makan apa?" tanya Yuan sambil tersenyum
"Saya gak tau. Tadi kak El telepon ajak makan siang soalnya" jawab Elin
Seketika itu juga ekspresi wajah Yuan berubah 180 derajat. Dia langsung memasang wajah marah dan terlihat jelas oleh Elin perubahan ekspresi Yuan.
"Pak Yuan mau makan siang apa?" tanya Elin.
"gapain tanya saya. Kamu kan mau makan siang sama kak Mikha" ujar Yuan kesal dan menatap Elin dingin.
"Yah udah kalau gitu pak saya pamit dulu" ujar Elin lalu meninggalkan ruangan Yuan.
"Sekarang gimana? Pak Yuan pasti marah banget tadi tapi saya juga sudah janji sama kak El" ujar Elin dalam hati.
***
Jam makan siang.
Yuan melihat pintu ruangan Elin, dia memikirkan Elin yang makan siang bersama Mikael berdua membuat dirinya menjadi cemas sekaligus kesal. Dia lalu menelpon Elin tapi tidak di jawab oleh Elin.
"apa saking senangnya sampai dia tidak mengangkat telepon dari saya?" ujar Yuan kesal.
Beberapa saat kemudian seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk" ujar Yuan yang sedang memainkan hpnya berusaha mengalihkan pikirannya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐
Terimakasih