
Pagi hari, saat terbangun Elin melihat ke hpnya dan mengecek jika ada balasan dari Yuan, tapi masih tetap saja tidak ada.
Elin lalu mandi dan bersiap ke cafe.
"Selamat pagi Lin" sapa Emi yang telah tiba terlebih dulu di cafe.
"Selamat pagi juga Mi" balas Elin.
Lalu menuju ke ruangannya dan segera ke gudang untuk mengecek persediaan bahan-bahan makanan dan minuman cafe.
Selesai mengecek Elin lalu menuju keruangannya. Dia melihat ke ruangan Yuan lalu mengetok pintu ruangannya tapi tidak ada jawaban dari Yuan. Elin menjadi khawatir dengan kondisi Yuan.
Dia masuk ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.
Elin tidak fokus mengerjakan pekerjaannya, dia menjadi gelisah sendiri karena sama sekali tidak mendapat kabar dari Yuan.
Elin berinisiatif menelpon Yuan. Tapi yang terdengar hanya suara nada sambung saja. Elin terus menelpon Yuan hingga akhirnya Yuan mengangkat teleponnya.
"Hallo Pak, pak Yuan tidak apa-apa kan?" tanya Elin
Tapi tidak ada jawaban dari Yuan, hanya terdengar sesuatu terjatuh.
"Pak Yuan, pak Yuan" panggil Elin khawatir
Sambungan telepon terputus.
Elin lalu mengambil tasnya dan bergegas ke lantai satu. Dia melihat Vino yang baru saja masuk ke cafe.
"Vin, Vin tolong antar saya ke apertemen Yuan dong. Please" ujar Elin panik.
"Kamu kenapa panik gini?" tanya Vino bingung dengan Elin.
"anterin saya dulu ke apertemen Yuan, nanti di jalan saya jelasin. ok?" ujar Elin yang menarik Vino menuju ke mobil milik Vino.
Kini mobil Vino melaju ke jalan raya menuju ke apertemen Yuan.
Elin menceritakan semuanya kepada Vino dan penyebab kepanikannya.
"Sepertinya kamu sudah jatuh cinta sama Yuan" ujar Vino sambil tersenyum senang.
"Gak usah ngeledek deh" ujar Elin ketus.
Sesampainya di parkiran apertemen Yuan, Elin segera keluar dari mobil Vino dan diikuti oleh Vino di belakangnya.
"Vino cepetan" teriak Elin.
"Iya sabar. Ini juga udah cepet kok"
Sesampainya di depan apertemen Yuan, Elin memencet bel apertemen Yuan tapi tidak di buka oleh Yuan.
"Tunggu, saya coba buka. Semoga saja dia belum mengganti passwordnya" ujar Vino yang mulai menekan tombol angka di pintu apertemen Yuan.
Terdengar suara pintu yang berhasil di buka oleh Vino.
Mereka segera masuk. Karena tidak melihat Yuan, Elin lalu berinisiatif mencari Yuan di dalam kamarnya.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Vino yang baru saja masuk ke kamar Yuan dan mengambil hp milik Yuan yang tergeletak di lantai lalu menaruhnya di meja samping tempat tidur Yuan.
"Demamnya tinggi Vin, dia juga tidak sadarkan diri" ujar Elin tidak bersemangat.
"Saya telepon dokter dulu" ujar Vino lalu keluar dari kamar Yuan.
Elin menuju ke dapur untuk mengambil sebaskom air hangat lalu kembali ke kamar Yuan. Elin mengompres kepala Yuan dengan handuk hangat yang dibawanya.
Elin duduk di tepi tempat tidur Yuan, dia terus mengecek kompres handuk di kepala Yuan.
"Lin dokternya udah datang" ujar Vino yang masuk ke kamar Yuan bersama dengan dokter.
"Silahkan dok" ujar Elin lalu berdiri untuk mempersilahkan dokter memeriksa kondisi Yuan.
Vino dan Elin kini berdiri di samping tempat tidur Yuan sambil menunggu dokter memeriksa kondisi Yuan.
"Gimana kondisinya dok?" tanya Elin yang melihat dokter telah selesai memeriksa Yuan.
"Tidak ada yang serius, pasien hanya perlu banyak istirahat saja. Dan ini resep obatnya, silahkan kalian tebus di apotik"ujar dokter tersebut sambil memberikan selembar kertas berisikan resep obat kepada Vino
"Elin saya antar dokter dulu sekalian tebus obatnya" ujar Vino
"Iya" ujar Elin.
Vino kini telah keluar dari apertemen Yuan bersama dengan dokter.
Elin terus mengecek kompres Yuan. Dia memegang telapak tangan Yuan yang hangat dan membuat mata Yuan berkedip separuh terbuka.
"Elin" panggil Yuan dengan suara lemah dan setengah tersadar.
"Iya Pak. Ini saya Elin" ujar Elin yang merasakan genggaman tangan Yuan menjadi erat. " Pak Yuan tenang saja, saya akan menjaga pak Yuan di sini"
.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐
Terimakasih