
Yuan melepas pegangan Rena dari tangannya dan mengambil bekal berbentuk love dari tangan Elin.
"Ini buat saya kan?" ujar Yuan.
"ya.... apa pak?" Elin bingung harus menjawab apa dan harus bagaimana, tapi akhirnya dia mengerti. "Iya ini buat pak Yuan" ujar Elin sambil senyum pura-pura.
Rena merasa darahnya seakan sudah berkumpul di ubun-ubun kepalanya melihat Yuan dan Elin. Dia pergi dengan wajah kesalnya.
Setelah Rena sudah tidak terlihat lagi, sandiwara mereka pun berakhir.
"pak Yuan, mbah Rena sudah pergi" ujar Elin yang berharap agar Yuan mengembalikan bekal yang ada di tangannya. Tapi malah masuk ke ruangannya sambil membawa bekal milik Elin tersebut.
"kok di bawa sih? itu kan buat Vino dan yang lainnya" ujar Elin dalam hatinya kesal, dia hanya bisa melihat bekalnya di bawa oleh Yuan.
Yuan sengaja melakukannya agar Elin tidak jadi memakan bekal tersebut dengan Vino Karena dia berpikir kalau bekal tersebut akan dimakan berdua oleh Vino dan Elin.
Elin turun ke lantai 1 dengan kesal.
"kenapa tuh wajah?" ujar Gino yang melihat wajah Elin
"Kemarin saya belajar buat pai susu dan saya membawanya hari ini buat kita makan bersama" ujar Elin
"terus mana painya?" tanya Emi yang melihat Elin tidak membawa apa-apa ditangannya.
"di ambil boss" jawab Elin singkat
"kok bisa? tadikan masih di meja kerja kamu" Vino kaget mendengar jawaban Elin
"Angelin santoso" Teriak seorang wanita.
Sontak membuat mereka berempat menoleh ke sumber suara.
"Rena" ucap Elin dalam hati.
Rena langsung menyiram Elin dengan kopi panas dan mengenai lengan kanan Elin.
"auhh..... " Teriak Elin yang memegang tangan kanannya yang mulai melepuh.
"Ini pantas kamu dapatkan karena telah merebut milik saya" Teriak Rena Emosi.
"kamu siapa sih? dengar yah walaupun saya mengenal Elin baru beberapa minggu tapi saya tau tidak mungkin Elin merebut milik orang lain" ujar Emi yang emosi melihat temannya disakiti.
Rena tidak memperdulikan perkataan Emi , dia maju mendekati Elin. Rena mengangkat tangannya akan menampar Elin tapi tangannya di tahan oleh Vino.
"maaf mbah sepertinya anda salah orang" ujar Vino.
Disisi lain, Yuan yang baru saja turun dari lantai 2 melihat Vino menahan tangan Rena yang masih di udara sementara Elin merintis kesakitan memegang tangan kanannya.
Untungnya hari ini pengunjung cafe tidak sebanyak seperti hari biasanya sehingga tidak banyak orang yang menonton pertengkaran mereka
"Ada apa ini? kenapa dengan tangan kamu?" ujar Yuan.
Rena menurunkan tangannya begitupun dengan Vino. Dia langsung mengubah ekspresi wajah nya menjadi kesakitan
"auh... kak Yuan tangan saya sakit, mereka ngeroyok saya katanya saya merebut kamu dari Elin" ujar Rena berbohong.
perkataan Rena membuat Emi bertambah kesal.
"Dasar siluman berwajah dua. Justru dia yang telah menyiram Elin dengan kopi panas sampai tangan Elin melepuh" ujar Emi sedikit meninggikan suarakan
"Rena sebaiknya kamu pulang sekarang atau saya akan panggilkan satpam cafe untuk menyeret kamu keluar" ujar Yuan dingin.
"Kak Yuan. Seharusnya kak Yuan belah saya bukan mereka." ujar Rena kesal. "Saya tau Kak Yuan berpacaran dengan Elin hanya sebagai pelampiasan kan? iyakan?" lanjut Rena.
Para karyawan yang mendengar kalimat Rena di buat kaget mereka berpikir kecurigaan mereka selama ini benar kalau Boss mereka dan Elin menjalin hubungan.
"Satpaaaammm" Teriak Yuan geram.
Elin hanya diam mendengar ucapan Rena.
"Yang lain silahkan bubar" ujar Yuan kepada orang-orang yang berkerumun
Yuan melihat ke arah Elin "kamu ikut saya" ujar Yuan datar lalu berjalan keluar cafe. Elin menuruti perintah bosnya
Mereka masuk ke dalam mobil sport Yuan.
Yuan mengendarai mobil ke jalan raya dan berhenti di depan salah satu apotik. Dia keluar dari mobil lalu masuk ke apotik setelah itu dia kembali ke dalam mobil.
"sini tangan kamu" ujar Yuan dingin. Dia mengusapkan salep ke tangan Elin yang melepuh dengan lembut tapi tetap teras perih oleh Elin hingga membuatnya mengerakkan sedikit tangannya.
"Tahan sebentar" ujar Yuan dingin dan memegang tangan Elin dengan erat.
Selesai mengoles luka Elin, Yuan memberikan Elin salep yang dipakainya ditangan Elin.
"kata apoteker kamu oles 2x sehari" ujar Yuan
"iya pak. Terimakasih" ujar Elin sambil tersenyum.
"Walaupun tanpa senyuman, tapi tidak apa-apa" batin Elin.
"Lain kali kalau ketemu Rena sebaiknya kamu menghindar saja atau beritau saya. kamu mengerti?" ujar Yuan
"iya pak"
"Rasanya saya ingin memeluk kamu, melihat kamu terluka hati saya lebih sakit dari luka yang ada ditangan mu" ujar Yuan dalam hati dan tanpa sadar dia terus memandangi Elin yang sedang meniup luka di tangannya.
Elin yang merasa di perhatikan menoleh kearah bossnya dan pandangan mereka saling bertemu. Jantung Elin langsung berdetak cepat melihat tatapan bossnya. Sontak Yuan tersadar dan melihat ke arah lain.
"kamu sudah merasa baikan?" tanya Yuan tanpa melihat ke arah Elin.
"Iya pak" jawab Elin
"kalau begitu saya antar kamu pulang" ujar Yuan.
"tidak usah pak. saya ke cafe aja. Masih ada yang harus saya kerjakan juga"
"kamu ini sukanya ngebantah yah" ujar Yuan mulai geram
"pak Yuan saya sudah merasa baikan. Gini aja deh pak kalau kerjaan saya sudah kelar saya pulang" Ujar Elin sambil tersenyum memohon tapi malah tampak imut
"Jangan tersenyum seperti itu" Jantung yuan berdetak cepat melihat senyuman Elin.
Dengan sekejap senyum di bibir Elin menghilang.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐
Terimakasih