Who Are You? (WAY?)

Who Are You? (WAY?)
WAY #59



Hari ini Elin berencana membawa Brian ke kebun binatang sesuai dengan permintaan Brian kemarin.


Elin harus mengurus Brian sendiriam karena Bi Iyem tidak masuk kerja hari ini. Sebelumnya Amor ragu meninggalkan Brian dengan Elin sendirian tanpa Bi Iyem tapi karena Elin dan Carlos berhasil membujuknya akhirnya Amor setuju meninggallam Brian kepada Elin.


"Brian bangun sayang, kita mau ke kebun binatang kan hari ini" ujar Elin yang sedang membangunkan Brian.


"masih gantuk tante Lin" jawab Brian dengan mata yang msaih tertutup.


"Kalau gitu ke kebun binatangnya ga jadi nih? lebih milih tidur" ledek Elin.


Brian yang mendengarnya langsung terbangun dan sadar dari tidurnya. "ke kebun binatangnya jadi, nih Brian udah bangun"


Elin tertawa melihat tingkah keponakannya itu yang langsung bangun begitu mendengar ucapannya.


"Tante Lin udah siapin air mandi buat kamu, sekarang kamu buka bajunya habis itu tante Lin mandiin" ujar Elin dan membantu Brian melepas bajunya.


Hp yang di letakkan Elin di tempat tidur Brian berbunyi, dia lalu melihat ke layar hpnya, ternyata telepon dari Yuan.


"Tante Lin terima telepon dulu, kamu lanjut lepas baju sendiri yah" ujar Elin lalu menerima panggilan Yuan.


"Halo Yuan"


"Halo Lin, kamu lagi ngapain?" tanya Yuan


"Lagi mau mandiin Brian"


"Tante Lin cepetan nanti telat ke kebun binatangnya" teriak Brian tidak sabar.


Yuan mendengar teriakan Brian "Kalian mau kekebunl binatang? sama siapa?" tanya Yuan.


"Iya, berdua doang"


"Kalau gitu saya ikut kalian yah, 1 jam lagi saya tiba di sana" ujar Yuan


Belum sempat Elin menjawab Yuan telah memutuskan sambungan telepon.


Elin melanjutkan mengurus Brian, lalu menyiapkan dirinya sendiri.


Yuan sudah menchat WA Elin kalau dia telah tiba di parkiran apertemen Elin.


Brian dan Elin segera ke parkiran apertemen untuk mencari mobil Yuan. Setelah ketemu mereka lalu masuk kedalam mobil Yuan.


"Hai Brian" sapa Yuan.


"Hai paman" balas Brian "nama Paman siapa?" tanya Brian.


"Yuan" jawab Yuan sambil mengendarai mobilnya.


"Paman Yuan kenal dengan paman Vino?" tanya Brian lagi.


"Kalau gitu paman Yuan kasih tau ke paman Vino, ajak Brian lagi makan sate" ujar Brian


Elin melihat ke arah Yuan, dia melihat Yuan sepertinya tidak senang dengan ucapan Brian.


"Brian sayang, Paman Vino sekarang sedang sibuk jadi gak bisa ajak Brian makan sate. Gimana kalau dari kebun binatang kita makan bakso?" ujar Elin agar tidak membuat Brian merasa kecewa.


"Mau mau" ujar Brian senang.


Sesampainya, mereka bertiga masuk ke dalam kebun binatang, Brian kegirangan melihat hewan pertama yang dilihatnya di kebun binatang. Mereka berkeliling dan melihat berbagai satwa dan juga memberi beberapa satwa makanan serta menonton pertunjukkan kepintaran beberepa jenis satwa seperti burung, lumba-lumba, gajah.


"Tante Lin, Brian mau naik kuda poni" teriak Brian saat melihat 3 orang anak kecil yang sedang menunggangi kuda poni.


"Tunggu paman belikan tiketnya yah?" ujar Yuan lalu meninggalkan mereka.


Elin ingin menahan Yuan untuk membeli tiket kuda poni karena sedari tadi Yuanlah yang membayar tiket Elin dan Brian. Tapi Yuan sudah keburu pergi membali tiket.


Kini Brian sedang menunggangi kuda poni pilihannya dan berkeliling bersama dengan petugas kebun binatang. Sementara Yuan dan Elin duduk di kursi taman mengawasi Brian dari jauh.


"Yuan lihat deh mereka, seneng banget lihatnya" ujar Elin sambil menunjuk papa dan anak yang sedang asyik bermain. "coba kamu bayangin jika kamu nanti udah punya anak, tapi kamu terlalu sibuk bekerja hingga anak kamu mengira kamu tidak menyayanginya lagi dan dia membenci kamu, tidak mau bermain bersama kamu, bahkan dia tidak ingin melihat kamu. Bagaimana perasaan kamu?" tanya Elin


"Sedih dong, tapi saya akan memberikannya pengertian, kalau apa yang saya lakukan itu untuk kebahagiaan dia" jawab Yuan.


"Tapi bagaimana kalau anak kamu tidak memberikan kamu kesempatan untuk menjelaskan situasinya?" tanya Elin. Elin tidak menunggu jawaban dari Yuan dan melanjutkan kalimatnya. "Sama seperti kamu yang tidak pernah memberikan kesempatan kepada pak Winjaya untuk menjelaskan ke kamu bagaimana perasaannnya ketika mama kamu pergi. Papa kamu juga merasa sedih di tinggal oleh mama kamu, hanya saja caranya yang berbeda untuk mengekspresikan kesedihannya, dia memilih untuk tidak melihat dan membicarakannya. Karena hal itu, hanya akan membuatnya merasa sedih dan di saat dia butuh support, semangat untuk bangkit kembali, kenyamanan, dia tidak mendapatkannya dari anak-anaknya melainkan dari orang lain, tante Nana. Coba deh kamu renungkan perkataan saya. Saya hanya tidak ingin kamu menyesal nantinya" jelas Elin.


Yuan hanya terdiam mendengar penjelasan Elin.


.


.


.


.


.


Bersambung...


hai guys


jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐Ÿ˜‰


like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐Ÿ˜Š


Terimakasih