
Elin sedang asyik memilih dress yang akan dikenakannya dan pilihannya jatuh pada dress offshoulder berwarna yellow, motif flower dengan aksen cut out dibagian lengannya yang tampak anggun di kenakan Elin. Rambutnya di biarkan terurai, slingbag berwarna senada dengan dress dan sandal heels berwarna hitam.
Hp Elin berbunyi, dia lalu mengambil hpnya dan melihat siapa yang menchatnya.
๐ฌ From : Kutub Es
Saya udah ada di bawa My Angel.
Elin yang membaca 2 kata terakhir membuatnya tersenyum-senyum sendiri seperti orang yang sedang kasmaran. Dia lalu berpamitan kepada Amor, Brian dan Carlos lalu menuju ke parkiran apertemen.
Setelah menemukan mobil Yuan, Elin lalu masuk ke dalam mobil.
Yuan terus melihat Elin. Elin merasa terus di lihat merasa risih.
"Kenapa pak? mau bilang lagi kalau dandan saya berlebihan" ujar Elin sinis.
"Sinis amat bicara nya" ujar Yuan lalu mengusap kepala Elin.
"Pak Yuan rambut saya nanti berantakan" protes Elin sambil menahan tangan Yuan agar tidak mengusap kepalanya.
"Okeeyy. Tapi saya mau mulai sekarang panggil saya tanpa kata Pak, mengerti?"
"Yes Sir" jawab Elin bercanda.
Yuan rasanya ingin memeluk Elin yang tampak anggun dan cantik dengan penampilannya.
Mobil Yuan telah melaju ke jalan raya.
1 jam kemudian mereka telah sampai di depan rumah Winjaya.
Dari awal mobil Yuan masuk di area parkir rumah Winjaya sudah membuat Elin terpukau dengan rumah besar yang di lihatnya, bak istana di cerita dogeng Yang membedakannya rumah Winjaya tidak memiliki menara yang menjulang tinggi seperti istana dogeng. Pikir Elin.
Mereka telah berada di pintu utama rumah Winjaya, sebelum Yuan mengetuk seseorang telah membukanya dari dalam dan mereka di sambut oleh Winjaya.
"Yuan" panggil Winjaya yang senang melihat anak yang di tunggu-tunggunya telah datang, beliau langsung memeluk Yuan.
"Apa kabar kamu nak?"
"Baik pa" jawab Yuan datar.
Winjaya lalu melihat ke arah Elin.
"Siapa wanita cantik ini?" tanya Winjaya.
"Dia pacar saya" jawab Yuan
"Selamat malam Pak Winjaya, saya Angelin" sapa Elin lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Elin merasa gugup dan takut bila nanti dia melakukan kesalahan di depan orang tua Yuan.
"Selamat malam" balas Winjaya lalu menjabat tangan Elin. "Saya seperti pernah melihat kamu" ujar Winjaya yang berusaha mengingat wajah Elin. "Saya ingat kamu sekretaris GM di kota M kan?" tanya Winjaya.
"Iya pak tapi saya telah resign" jawab Elin.
"Lah kenapa? kata Mikael kamu memiliki kinerja yang sangat bagus loh. Mikael bahkan bilang kalau akan memindahkan kamu ke kantor pusat" jelas Winjaya.
"Ehem, kita akan berdiri terus di depan pintu?" tanya Yuan mulai kesal.
"Oh iya sampai lupa, masuk-masuk. Silahkan duduk" ujar Winjaya
"Terimakasih pak" ujar Elin.
"Gak usah panggil pak. Panggil Paman aja, biar lebih akrab"ujar Winjaya ramah
Mereka pun duduk di sofa ruang tamu keluarga Winjaya.
"Ada tamu rupanya" ujar wanita parubaya yang baru saja menghampiri mereka.
Elin langsung melihat ke arah wanita tersebut dan berdiri untuk menyapa.
"Dia pasti istri dari pak Winjaya. Cantik banget" ujar Elin dalam hati.
Yuan yang melihat mama tirinya langsung mengalihkan pandangannya lalu berdiri dan meninggalkan mereka bertiga. Tanpa menyapa mama tirinya.
Winjaya hanya melihat anaknya pergi dan mengembuskan napas berat.
"Selamat malam tante, saya Angelin" sapa Elin dan mengulurkam tangannya
"Selamat malam cantik, saya Nana" balas Nana lalu duduk di samping Elin. "Kamu pasti pacarnya Yuan kan? dia tuh gak pernah bawa wanita kemari. Tante senang deh lihat kamu" ujar Nana.
"kalau saya wanita pertama, terus Rena?" taya Elin dalam hati.
"Terimakasih tante Nana" ujar Elin.
"Tante tinggal dulu yah, mau lihat masakan tante dulu" ujar Nana.
"Tante mau saya bantu?" ujar Elin sopan
"Gak usah, kamu duduk aja dulu. Dah cantik" ujar Nana sambil melangkah pergi.
"Dia istri kedua saya" ujar Winjaya. Melihat Elin yang tidak terlihat kaget, Winjaya berpikir Yuan pasti sudah menceritakannya kepada Elin dan Elin pasti wanita yang paling di cintai oleh anaknya.
"saya sudah mendengarnya dari Yuan paman" jawab Elin yang semakin gugup karena tinggal mereka berdua di ruang tamu.
"Semenjak mamanya meninggal Yuan selalu memasang wajah murung, dan setelah dia tau kalau saya akan menikah dengan tante Nana membuatnya menjadi membenci saya, dia berpikir kalau saya tidak perduli lagi dengan mamanya." jelas Winjaya. "Padahal itu tidak benar, saya sangat mencintai mamanya. Setelah dia meninggal secara mendadak saya merasa hidup saya hancur, bahkan saya tidak sanggup untuk melihat foto-fotonya. Di saat saya berada di titik yang saya pikir itu adalah titik keputusasaan saya, tante Nana datang memberikan saya support, semangat lagi hingga saya menemukam kenyaman bersamanya dan memantapkan perasaan saya untuk menikahinya. Tapi setelah menikah saya malah merasa kehilangan anak saya, Yuan. Dia sangat membenci tante Nana" tambah Winjaya yang menenang masa lalunya.
Mata Winjaya berkaca-kaca menahan air matanya mengalir di pipinya sambil menjelaskan perasaannya kepada Elin.
Elin yang mendengarnya merasa sedih dan dia bertekad untuk membuat hubungan ayah dan anak ini kembali membaik.
"Paman tenang saja, saya akan berusaha membantu paman untuk menjelaskannya kepada Yuan" ujar Elin.
Winjaya lalu memegang tangan Elin. "Terimakasih nak" ujar Winjaya sambil tersenyum.
"Pa, Angelin makanannya udah siap"
"Iya sayang" ujar Winjaya kepada istrinya. "Kita makan dulu yah" ajak Winjaya kepada Elin.
"Iya paman"
Mereka lalu berjalan bersama menuju ke ruang makan.
Baru saja mereka tiba di ruang makan Yuan dan Miakel tiba-tiba datang.
"Elin kamu kok bisa ada disini?" tanya Mikael yang kaget dengan keberadaan Elin di rumahnya.
"Saya yang mengajaknya" jawab Yuan.
Mereka lalu duduk. Namun Mikael masih saja terus melihat Elin, dia seperti tidak percaya Elin berada di rumahnya dan di ajak oleh adiknya sendiri
.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐
Terimakasih