Who Are You? (WAY?)

Who Are You? (WAY?)
WAY #61



Elin menyenggol tangan Yuan memberinya kode agar Yuan mengangkatkan shabu-shabu untuk Winjaya. Tapi Yuan tidak mengerti dengan kode yang diberikan Elin. Elin lalu berbicara dengan gerakan mulut tanpa mengeluarkan suara kepada Yuan dan akhirnya Yuan mengerti maksud Elin.


Yuan menuruti perintah Elin.


"Terimakasih Nak" ujar Winjaya yang melihat Yuan mengangkatkannya shabu-shabu.


"Papa makanlah yang banyak, badan papa semakin kurus" ujar Yuan sambil memberikan mangkok berisakan shabu-shabu.


"Kamu juga." ujar Winjaya "Yuan, papa sebenarnya masih mencintai mama kamu, hanya saja papa juga butuh seseorang untuk mendampingi papa dan..." belum selesai Winjaya berbicara Yuan memotongnya.


"saya ngerti kok pa, saya saja yang egois tidak memikirkan perasaan papa selama ini" ujar Yuan.


Winjaya sangat senang mendengar kalimat Yuan. "Terimakasih nak, kamu mau mengerti papa" ujarnya.


"semua itu karena Elin pa" ujar Yuan


Elin yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicara mereka berdua ikut senang.


"Kamu memang gak salah memberikan papa calon menantu Yuan" ujar Winjaya legah sambil melihat ke arah Elin.


Elin menjadi malu sekaligus senang saat mendengar perkataan Winjaya.


"Terimakasih paman" ujar Elin


Yuan lalu merangkul pundak Elin.


"Yuan tangan kamu, malu tau ada papa kamu" ujar Elin dengan suara kecil sambil melepaskan rangkulan Yuan.


Winjaya yang melihat tersenyum senang. "Tidak apa-apa. Papa mengerti kok. Papa kan juga pernah muda kek kalian" ujar Winjaya


"Tuh kan papa aja ga apa-apa" ujar Yuan.


Selesai makan, Yuan dan Elin mengantar Winjaya menuju ke mobil alphard milik Winjaya.


"Terimakasih yah Yuan dan Elin, papa sangat senang hari ini" ujar Winjaya lalu masuk ke dalam mobilnya yang telah terbuka otomatis. "Satu lagi, Yuan jaga baik-baik calon mantu papa yah" tambahnya.


"Papa tenang aja, kalau itu sudah pasti" ujar Yuan.


Elin hanya bisa tersenyum malu mendengarnya.


"Paman hati-hati di jalan" ujar Elin ramah.


Melihat mobil Winjaya telah pergi, mereka lalu masuk ke dalam mobil Yuan. Kini mobil Yuan telah melaju ke jalan raya.


Yuan terus memegang telapak tangan Elin, dia merasa legah dan senang.


Mobil Yuan berhenti di depan saah satu toko mainan.


"Kita mau gapain ke sini?" tanya Elin.


"Beliin mainan buat Brian" jawab Yuan.


Elin mengernyit dahinya lalu mengikuti langkah Yuan masuk ke dalam toko mainan tersebut.


Mereka melihat berbagai macam mainan, membuat Yuan menjadi bingung untuk memilih mainan buat Brian.


"Brian sukanya mainan apa?" tanya Yuan.


"Kalau mainan kesukaan sih ga tau tapi akhir-akhir ini saya sering lihat dia main pesawat" jawab Elin yang sedang melihat boneka teddy bear di dalam lemari kaca.


"Kamu mau boneka teddy?" tanya Yuan.


"gak kok, cuman lihat-lihat doang. Habisnya lucu" jawab Elin.


Akhirnya pilihan Yuan jatuh pada mainan pesawat remot.


Selesai bayar, mereka hendak kembali ke dalam mobil.


"Yuan" panggil salah seorang wanita.


Elin melihat seorang wanita berwajah blasteran Belanda-Indonesia yang terlihat sangat elegan walaupun hanya menggunakan kemeja putih polos dan celana jeans, rambut yang di tata ponytail plus lipstik merah.


"Kak Selena?" ujar Yuan terkejut.


"Cantik. Pantas saja kak El dan Yuan menyukainya" ujar Elin dalam hati.


Selena langsung memeluk Yuan dan di balas oleh Yuan yang senang melihat Selena.


"Siapa sih nih cewek dan Yuan lagi ngapain peluk balik sih" ujar Elin kesal yang melihat Selena dan Yuan berpelukan.


Mereka lalu melepaskan pelukan.


"Kamu masih ingat ternyata sama Indonesia?" ledek Yuan.


"Ya kali lupa sama negara sendiri, ga mungkin dong" jawab Selena "Dengar-dengar kamu katanya punya cafe yah?" tanyanya


"Iya" jawab Yuan sambil tersenyum.


"kenapa gak kerja aja sih di perusahaan paman? kek Mikhael? tanya Selena.


Sekarang Elin sangat kesal, dia merasa tidak dianggap oleh Yuan.


"Saya balik duluan" pamit Elin kesal lalu melangkah keluar toko.


Yuan lalu mengejar Elin keluar dan meninggalkan Selena. Dia menahan tangan Elin.


"Kita balik sama-sama aja" ujar Yuan.


"gak usah, saya gak mau ganggu kalian" ujar Elin kesal dan berusaha melepas tangan Yuan.


"kamu cemburu?" tanya Yuan tersenyum.


"Gak. Siapa juga yang cemburu?" sangkal Elin.


Yuan menarik Elin kedalam pelukannya.


"Saya senang melihat kamu yang cemburu, saya jadi merasa kalau kamu memang mencintai saya" ujar Yuan yang masih memeluk Elin.


Kekesalan Elin mulai meredah, dia balik memeluk Yuan. Untungnya parkiran toko mainan lumayan sepi jadi tidak ada yang melihat mereka.


"Udah sekarang gak marah lagi kan?" tanya Yuan yang melepaskan pelukannya.


Elin hanya meresponnya dengan anggukan.


"kalau gitu sekarang kita masuk ke mobil, kita ke cafe" ujar Yuan lalu mengusap rambut Elin.


.


.


.


.


.


Bersambung...


hai guys


jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐Ÿ˜‰


like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐Ÿ˜Š


Terimakasih