
"Nih anak kenapa sih? main matiin aja" ujar Elin kesal.
"Gak tau, gak jelas juga. katanya tadi hp kamu gak bisa di hubungin"
Elin terkejut mendengarnya dia lalu mengambil hpnya di tas.
"Lowbet Mi. Pantesan gak bisa di telepon. Saya ke kamar dulu yah ngecas" ujar Elin lalu pergi meninggalkan Emi.
Diperjalanan menuju ke kamarnya Elin tidak sengaja melihat Yuan yang sedang berbincang dengan seorang pria tua. Elin terus memperhatikan dengan siapa Yuan berbicara di balik pohon besar.
"Itukan kakek yang tadi pagi menyapu di taman" ujar Elin dalam hati.
Sesuatu jatuh tepat di atas kepala Elin.
"aduh. Apa sih yang jatuh" gerutunya. Dia lalu melihat ke arah atas kemudian ke bawah ternyata tidak apa-apa.
Elin lalu melihat kembali ke arah Yuan dan kakek tadi. Tapi mereka sudah tidak ada.
"Kamu ngapain disini?" tanya Yuan yang berada di belakang Elin.
"Ya Tuhan" ujar Elin kaget dengan keberadaan Yuan yang tiba-tiba berada di belakangnya.
"Kamu kenapa sih? kek orang lihat hantu" gerutu Yuan.
"Pak Yuan bikin jantung saya mau copot" ujar Elin sambil menempelkan tangannya di dada.
"Kamu nguping yah?" ujar Yuan curiga.
"Gak lah pak. saya saja tidak dengar pak Yuan tadi ngomong apa" ujar Elin yang merasa malu karena ketahuan mengintip Yuan.
"Kakek tadi itu, tukang kebun di resort ini. Seperti yang saya bilang sebelumnya keluarga saya sering berlibur ke daerah ini dan nginap di resort ini" jelas Yuan.
Elin membentuk huruf O di bibirnya dan hanya mengatakan "oo" sambil menganggukan kepalanya tanda dia mengerti dengan penjelasan Yuan. Tapi malah tampak imut. Yuan yang melihatnya merasa ingin mencium bibir kecil Elin.
"Jangan lakukan itu di depan laki-laki lain" ujar Yuan ketus lalu meninggalkan Elin yang kebingungan dengan kalimatnya.
"Memangnya saya melakukan apa?" ujar Elin dalam hati.
Elin kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
***
Elin keluar dari kamarnya dan mendengar keributan yang suaranya tepat di belakang resort. Dia lalu menuju ke belakang resort untuk melihatnya.
Saat Elin berada di ambang pintu belakang resort dia melihat Gino,Vino dan beberapa karyawan lainnya sedang membakar ikan dan terdapat beberapa set meja kursi kayu lipat yang mungkin disediakan oleh pihak resort karena sebelumnya halaman belakang resort hanya terdapat 2 kursi taman. pikir Elin.
"Elin sini" seru Emi saat melihat Elin yang hanya berdiri di ambang pintu belakang resort.
Elin lalu menghampiri Emi yang sedang merapikan salah satu set meja kursi kayu lipat.
"Cas hp kok lama banget sampai petang gini." gerutu Emi.
"Tadi saya ketiduran, bangun-bangun udah sore aja. Jadi sekalian mandi. Makanya baru keluar sekarang. Ada yang di bantu gak?" ujar Elin.
"Gak ada, udah mau selesai kok"
"Ikan dan udangnya udah matang" ujar Vino sambil membawa sepiring ikan bakar dan udang bakar. Setelah meletakkan menu makanan yang di bawanya dia lalu duduk, diikuti oleh Elin yang senang melihat udang yang di bawa oleh Vino sementara Emi duduk di seberang mereka
"Kamu tadi siang kemana sama Gino?" tanya Elin.
"Kami pergi mencari ikan dan udang bersama dengan Bisma. Kamu sendiri kemana?" tanya Vino balik.
"Pergi sama Boss" jawab Elin.
"Kencan nih ceritanya?" ledek Gino yang tiba-tiba muncul dan duduk di samping Emi.
"Gak" jawab Elin kesal. "Bay the way siapa yang sponsor ikan dan udang?"tanya Elin penasaran
"Kami" jawab Gino sambil menunjuk dirinya dan Vino.
"Makan yuk udah lapar nih" ujar Emi memegang perutnya.
Mereka lalu mengambil makanan yang telah tersaji dan menikmatinya.
Tiba-tiba Elin merasa ada sesuatu yang tajam tersangkut di tenggorokannya, dia lalu memegangi lehernya dan merasa kesakitan.
"Kamu kenapa Lin?" ujar Vino yang melihat Elin di sampingnya.
"Sepertinya saya ketelan duri ikan" jawab Elin sambil menahan sakit di tenggorokannya.
Vino lalu memberikan Elin sekepal nasi yang telah di bentuk bulat kecil "Telan ini, jangan di kunyah lalu minum air untuk mendorongnya turun" ujar Vino lalu memberikan Elin air.
Emi dan Gino yang melihat Elin merasa khawatir dengan Elin.
Setelah Elin menelan nasi dan meminum air yang di berikan Vino, Vino lalu mengelus lembut punggung Elin, "Udah enakan?" tanya Vino yang mendekatkan wajahnya ke Elin.
Belum sempat Elin menjawab seseorang datang di belakang Elin lalu menahan tangan Vino untuk tidak menyentuh punggung Elin.
Mereka berempat langsung melihat ke arah Yuan.
"Pak Yuan" ujar Elin.
"Geser, saya mau duduk." ujar Yuan kepada Vino dengan tatapan dingin. Yuan merasa kesal melihat Vino yang mengelus punggung Elin dan Vino yang mendekatkan wajahnya ke wajah Elin.
Vino lalu menuruti perkataan Yuan dan kini Yuan duduk di antara Vino dan Elin.
"Pak Yuan mau ikut makan?" tanya Emi ragu.
"Iya, berikan saya piring"
Emi lalu mengambilkan Yuan piring kosong yang berada di sampingnya dan memberikannya kepada Yuan
Elin masih begong di tempatnya melihat Yuan yang mau makan bersama dengannya dan yang lain.
Para karyawan yang berada di meja lain melihat kejadian itu dan mulai membicarakan Yuan dan Elin
"Berikan saya nasi" perintah Yuan kepada Elin.
Elin langsung tersadar dengan perkataan Elin lalu mengambilkan wakul nasi yang berada di sampingnya dan memberikan kepada Yuan.
"Pak Yuan mau makan udang?" tanya Elin.
Yuan menjawabnya dengan anggukan. Elin yang melihatnya langsung mengambil udang dan mengupasnya hingga tersisa dagingnya dan memberikannya kepada Yuan.
Emi dan Gino terkejut melihat Elin yang mengupaskan udang untuk Yuan, mereka terus memperhatikan Elin dan Yuan.
Sementara Vino hanya tersenyum melihatnya. "cara kamu bagus juga, bisa di tiru" ujar Vino dalam hati
.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐
Terimakasih