Who Are You? (WAY?)

Who Are You? (WAY?)
WAY #63



Amor terus menanyai Elin mengenai Yuan membuat Elin sedikit kewalahan menjawabnya, dia sudah seperti ibu-ibu yang mananyai bebet, bobot dan bibit calon mantunya.


"Kak pertanyaannya lanjut nanti yah, udah gerah nih. Mau mandi" keluh Elin, dia berlari kecil menuju ke kamarnya.


Saat akan masuk ke kamarnya, "Kak jangan lupa hadiah Brian yang dari Yuan" teriak Elin lalu masuk ke kamarnya.


Selesai mandi dia membaringkan tubuhnya ke tempat tidurnya yang empuk.


Hpnya yang tadi di lemparnya ke tempat tidur berbunyi, tanpa melihat siapa yang menelpon Elin langsung memencet layar hpnya untuk menerima panggilan.


"Halo sayaaanng" sapa Nitha dengan suara sedikit keras.


"Buset, kamu gak lagi pakai toa kan tha?" ujar Elin yang menjauhkan hpnya dari telinga.


"Hehehe.... sorry sorry. Saya ada kabar gembira nih ada 2 lagi." ujar Nitha semangat.


"apa? kamu udah mau nikah yah?" tebak Elin asal.


"Bukaaan. Minggu depan saya dan mama bakalan balik ke Indonesia. Kata dokter operasi mama berlanjalan lancar, mama tinggal melakukan kemoterapi aja di Ibu Kota" jelas Nitha.


"Beneran? bagus dong" ujar Elin ikut senang mendengarnya tapi ada rasa sedih juga yang dirasakan Elin karena itu berarti intensitasnya bertemu dengan Yuan akan berkurang. "terus kabar kedua apa?" tanya Elin.


"kabar keduanya.... masih rahasia. Nanti aja kalau kita udah ketemu di Ibu Kota saya beritahu"


"Apa-apaan sih, bikin penasaran aja" ujar Elin sedikit kesal.


"Tahan aja dulu penasarannya. Sayang, teleponannya udah dulu yah. Bye baby"


"Bye"


panggilan telepon berakhir.


***


Keesokannya seperti biasa Elin bersiap untuk ke cafe, dia berpamitan kepada kakaknya dan menuju ke lobby apertemen untuk memesan ojol.


Saat di lobby seseorang menutup mata Elin dari belakang.


Elin terkejut dan langsung meraba tangan yang menutup matanya, dia tau kalau Yuanlah yang melakukannya.


"Vino?" ujar Elin iseng


Yuan langsung melepaskan tangannya dengan kesal karena dia berpikir kalau Elin mengira dirinya adalah Vino.


Elin yang melihat ekspresi kesal Yuan merasa senang dan tertawa kecil.


"Saya tau kok kalau itu kamu, lagian tadi saya hanya iseng doang" jelas Elin.


"Saya gak suka" ujar Yuan kesal lalu meninggalkan Elin.


Melihat Yuan yang pergi, Elin lalu mengejarnya dan menggandeng tangan Yuan.


"Sorry sorry saya hanya iseng doang kok" ujar Elin yang merasa bersalah.


"Masuk" perintah Yuan yang telah mrmbukakan Elin pintu mobil.


Elin menuruti perintah Yuan tanpa membantah.


Di dalam mobil Yuan meminta hp Elin.


"Hp saya mau di apain?" tanya Elin heran.


"Berikan saja" perintah Yuan.


Kini hp Elin berada di tangannya. Dia lalu menelpon ke hp Elin menggunakan hp miliknya dan melihat name contact yang muncul di layar hp Elin.


"Kenapa name contact saya di hp kamu Kutub es?" ujar Yuan dengan menekan 2 kata terakhir yang diucapnya.


Elin yang mendengarnya sontak terkejut. "itu... karena.... karena kamu seperti kutub es" jawab Elin ragu.


Yuan sadar kalau dulu dia memang sangat dingin terhadap Elin. Dia mengetik sesuatu di hp Elin lalu mengembalikannya.


Segera Elin melihat panggilan telepon terakhir di hpnya


My Future Husband โค


Elin tersenyum membacanya, dia merasa senang tapi juga merasa geli dengan name contact di buat Yuan.


"Gapain dia telepon kamu?" tanya Elin sinis.


"Gak usah sinis gitu kali bicaranya" canda Yuan.


"Siapa yang sinis sih? saya cuman tanya kenapa dia menelpon kamu?" ulang Elin.


"Katanya dia minta maaf soal yang kemarin, dia mau ajak saya, kak Mika dan juga kamu makan siang hari minggu di Sky Resto" ujar Yuan.


Elin ingin menolaknya karena dia berpikir mereka bertiga akan bernostalgia setelah bertahun-tahun tidak bertemu dan dia hanya akan menjadi pendengar mereka dan itu cukup membosankan.


"Kalian aja deh. Saya gak usah ikut" ujar Elin.


"Gak. Kamu harus ikut, Selena juga ingin berkenalan dengan kamu. Kemarin kan kalian belum sempat kenalan" paksa Yuan.


Elin yang mendengarnya dengan terpaksa menuruti keinginan Yuan.


Mobil Yuan telah terparkir di parkiran karyawan, Yuan membukakan pintu mobil untuk Elin.


"Terimakasih" ujar Elin.


Yuan lalu memegang telapak tangan Elin dan berjalan berdampingan.


"Oh iya Yuan, kata Nitha minggu depan dia akan kembali ke Indonesia dan dia akan kembali bekerja" ujar Elin.


Langkah Yuan tiba-tiba berhenti dan berbalik kearah Elin


"Kenapa dia mendadak datang? memangnya mamanya sudah sembuh?" tanya Yuan.


"gak dadakan kok kan minggu depan, bukan besok. Tante Indri udah baikan, syukur operasinya berjalan lancar" jawab Elin


Yuan melepas genggamannya. "Sepertinya kamu senang Nitha akan kembali?" tanya Yuan tidak suka.


"Eliiin" teriak Emi dari kejauhan.


Elin berbalik ke sumber suara, sementara Yuan pergi meninggalkan Elin tanpa pamit.


Yuan ingin Elin terus bekerja di cafe, tapi dia juga tidak bisa memberhentikan Nitha mengingat kinerja Nitha sangat dibutuhkan di cafe, dia juga tahu segalanya tentang cafe bahkan melebihi apa yang Yuan tau.


"Kok Vino pergi?" tanya Emi yang kini berada di depan Elin.


"Vino?" tanya Elin heran.


"Tadi itu Vino kan?"


"Vino dari mananya, tadi itu Boss" jawab Elin.


"Oh me Gud, matilah saya. Ini gara-gara adik saya salah ambil soflens di optik kemarin" ujar Emi panik.


Elin tertawa mendengar Emi yang salah mengucapkan Oh My God menjadi Oh Me Gud.


"Kok kamu ketawa sih?" tanya Emi heran.


Elin berusaha menahan tawanya. "Kamu tenang aja, biar nanti saya jelaskan ke Boss. Kita masuk yuk"


"Ngomong-ngomong Vino kemana sih? beberapa hari ini dia ga masuk" tanya Emi.


.


.


.


.


.


Bersambung...


hai guys


jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐Ÿ˜‰


like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐Ÿ˜Š


Terimakasih