
Selesai menyuapi Yuan, Elin lalu memberikan obat yang di berikan dokter tadi.
Yuan lalu membuka sebagian selimut yang di pakainya dan menyuruh Elin untuk duduk di sampingnya lalu menutupi kaki Elin dengan selimut.
"Bay the way kamu kok bisa masuk ke apertemen saya?" tanya Yuan penasaran.
"karena Vino, tadi saya datang bersamanya. Tapi kenapa Vino bisa tau password apertemen kamu?"
"Vino..... tanyakan langsung padanya saja" jawab Yuan ragu
"Masa sih kamu ga tau, kalau ada orang lain yang tau password apertemen kamu" ujar Elin curiga.
Yuan kini melihat ke arah Elin dan menatapnya.
Elin yang merasa di tatap oleh Yuan sontak berbalik dan melihat ke arah Yuan. Dia langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Yuan tersenyum jail melihat tingkah Elin. Dia mulai mendekati wajah Elin dan berbisik ke telinga Elin. "Saya tidak ingin lagi makan bubur dan satu lagi apakah kamu mau menonton film?" bisik Yuan.
Elin merasa malu sendiri dengan tingkahnya yang mengira Yuan akan mengecup bibirnya lagi.
"Terserah pak Yuan saja" jawab Elin.
Yuan lalu berdiri dari tempat tidur dan memgambil laptop miliknya di meja kerja di ruangannya.
Kini mereka menonton kartun Doraemon movie bersama.
"Pak Yuan juga suka nonton doraemon?" tanya Elin.
"Iya. Hampir semua series ada di dalam sini" jawab Yuan sambil menunjukkan harddisk miliknya.
Beberapa lama kemudian Elin mendapati kepala Yuan tiba-tiba terkulai ke bahunya dan tertidur lelap. Elin lalu mematikan laptop dan menaruhnya di samping Yuan. Elin berusaha sepelan mungkin bergeser menjauh lalu menyelimuti Yuan rapat-rapat.
Perutnya kini terasa lapar.
Elin lalu menuju ke dapur dia mencari sesuatu untuk di makannya tapi ternyata tidak ada. Mau tidak mau Elin harus memasak nasi, untungnya Elin sudah pernah memasak nasi sebelumnya. Dia lalu memasak nasi di reskuker dan menuju ke kulkas untuk melihat apa yang bisa di masaknya.
"Wooww, kulkasnya rame banget, rapi lagi"ujar Elin yang terpukau dengan isi kulkas Yuan yang begitu banyak. hampir semua bahan-bahan masakan ada di dalam kulkas Yuan.
Elin mengambil beberapa bahan yang dibutuhkannya untuk membuat omelet lalu mencampurkan semua bahan yang dipilihnya kedalam telur yang telah dia kocok. Elin lalu mendadar adonan omeletnya. Karena menunggu lama Elin melihat nasinya di reskuker dan ternyata sudah matang.
"Sempurna nasinya pulen" ujar Elin senang dengan hasilnya. "Tunggu, bau apa ini?" ujar Elin dalam hati. Dia lalu teringat dengan omeletnya, buru-buru Elin kembali ke masakannya.
"Hangus" ujar Elin tidak bersemangat yang melihat omeletnya telah berubah warnanya menjadi hitam.
"Kamu masak apa?" ujar Yuan yang kini melangkah mendekati Elin.
Elin kaget mendengar suara Yuan tiba-tiba, membuatnya langsung berbalik ke arah Yuan "berhenti, jangan mendekat" ujar Elin panik. Namun sudah terlambat karena Yuan kini telah berada tepat di depan Elin dan melihat ke dalam wajan.
"masakan saya hangus" ujar Elin tidak bersemangat dan merasa malu dengan Yuan.
Yuan yang melihat ekspresi Elin menjadi gemas melihatnya lalu mencubit kedua pipi Elin.
"sakit pak" ujar Elin
"kamu lucu banget sih" ujar Yuan lalu melepas cubitannya dari pipi Elin.
"Kamu tadi memangnya masak apa? sampai hitam gitu" ledek Yuan sambil menuju ke kulkas.
"omelet. padahal tadi cuman di tinggal sebentar untuk melihat nasi di reskuker" jawab Elin.
"Biar saya kocok telurnya" ujar Elin.
"itu bukan kocok telur namanya. Tapi lagi mengaduk teh" ledek Yuan lalu mengambil whisk dari tangan Elin dan mencontohkan cara mengocok telur. "Kamu duduk aja. Biar saya yang masak" ujar Yuan.
"Sorry" ujar Elin sambil menundukkan kepalanya karena malu.
Yuan tersenyum melihat Elin "Kamu kenapa minta maaf?"
"karena saya tidak begitu tau memasak" jawab Elin
"Siapa bilang? bukti nya waktu itu kamu buatkan saya nasi goreng, tadi siang kamu juga masak bubur buat saya"
"kalau nasi goreng karena Nitha sudah pernah mengajarkan ke saya buat nasi goreng waktu sekolah dan bubur tadi siang itu saya telepon Bi Ina tuk nanya cara bikinnya, kamu juga kan gak mau lagi makan bubur buatan saya. Itu berarti bubur saya memang tidak enak" jelas Elin yang melihat ke arah bawah.
"Hei saya gak suka lihat kamu kek gini. Lagian nasi goreng dan bubur yang kamu buat itu enak. Saya ga mau makan bubur lagi karena memang tidak suka makan bubur. Itu aja " ujar Yuan menenangkan Elin. "Sekarang kamu duduk aja dulu"
Elin lalu menuruti kata Yuan dan duduk di ruang makan sambil memperhatikan Yuan yang sedang masak.
"Ternyata Yuan keren juga kalau lagi pakai celemek gitu" ujar Elin yang terus memperhatikan Yuan.
"Udah jadi" ujar Yuan sambil membawa 2 piring yang berisikan nasi dan omelet di masing - masing piring.
Elin lalu melihat ke piring yang di bawa Yuan tadi. "harum banget" ujar Elin sambil memasukkan potongan omelet kedalam mulutnya. "Enaaakkk" ujar Elin semangat.
Yuan tersenyum senang melihat Elin yang kembali bersemangat.
"Pak Yuan foto buram di kamar kamu siapa?" tanya Elin penasaran. Dia tiba-tiba terpikirkan dengan foto di kamar Yuan
"Saya tidak tau pasti siapa dia, saya hanya tau ketika saya melihat foto itu entah kenapa rasanya tidak asing dan ada rasa kenyamanan ketika melihat foto itu" jawab Yuan.
"memangnya kamu dapat dari mana?" tanya Elin lagi di sela makanya.
"foto itu sebenarnya background dari foto saya bersama kak mika dan Kak Selena tapi saya tidak ingat foto itu di ambil dari mana" jawab Yuan
Elin hanya mengangguk mendengarnya. "Oh iya, karena kondisi kamu sudah membaik, setelah makan saya pamit pulang yah" ujar Elin di sela makan.
Senyum di wajah Yuan langsung hilang seketika.
.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐
Terimakasih