
Kini mereka berada di mobil Yuan menuju ke apertemen Elin. Sejak percakapan mereka tadi di taman Yuan hanya diam saja tanpa ekspresi. Elin tidak tau apakah saat ini Yuan marah padanya karena ikut campur dengan urusan keluarganya atau tidak.
"Yuan kami turun di depan sana yah" ujar Elin sambil menunjuk warung bakso yang berada di dekat apertemennya.
Yuan masih tetap diam dan hanya menuruti perkataan Elin dan memberhentikan mobilnya tepat di depan warung.
Elin lalu membantu Brian untuk keluar dari mobil Yuan, dia tidak mengajak Yuan untuk makan bersama dan hendak berpamitan kepada Yuan.
"Pesankan saya juga yah, saya cari tempat parkir dulu" ujar Yuan.
Mendengar perkataan Yuan, Elin berpikir bahwa Yuan ternyata tidak marah padanya. Dia lalu tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakan perkataan Yuan.
Elin masuk ke dalam warung bersama Brian. Setelah memesan dan mendapatkan tempat duduk, Yuan masuk dan duduk di sebelah kiri Elin dan di sebelah kanan Elin adalah Brian.
"Saya akan mencoba menuruti perkataan kamu tapi saya minta kamu harus berada di sisi saya" ujar Yuan tanpa memandang Elin.
Elin tersenyum senang mendengarnya, dia lalu memegang tangan Yuan dan di balas oleh Yuan.
***
Elin telah selesai bersiap untuk pergi ke cafe, dia mengambil mobil mainan mini milik Brian. Semalam Brian menitipkan Elin mobil mainan untuk di berikan kepada Yuan.
Elin menatap mobil tersebut. "Mobil mainan ini sangat mirip dengan mobil milik Yuan" ujar Elin lalu memasukkan mobil tersebut kedalam tasnya.
Setibanya di cafe Elin melakukan aktivitas rutinnya di gudang lalu membuat laporan.
Sudah beberapa hari Vino tidak datang ke cafe, semenjak dia mengetahui kalau Nitha juga menyukainya. pikir Elin lalu mengambil hpnya
๐ฌ To : Vino
Beberapa hari ini kenapa gak datang ke cafe? kamu baik-baik saja kan?
Tidak menunggu lama hp Elin berbunyi, dia lalu melihat ke layar hpnya.
๐ฌ From : Vino
Saya baik-baik aja kok. Lagi ada urusan mendadak. Saya sudah mengirim seseorang untuk menggantikan saya sementara, dia sudah cukup profesional menjadi supervasior cafe. Hari ini dia akan datang.
Elin terkejut membaca chat WA Vino.
"Memangnya dia berencana untuk tidak masuk berapa lama sih? sampai mengirim pengganti segala" ujar Elin dalam hati.
Elin tidak menanyakannya kepada Vino dan hanya membalas 'Ok' lalu beranjak dari kursinya menuju ke ruangan Yuan sambil membawa titipan Brian dan laporan yang telah dibuatnya.
Tok tok tok
Pintu ruangan Yuan terbuka, Elin melihat Yuan yang kini berdiri tepat di depannya.
"Kenapa gak langsung masuk aja sih?" ujar Yuan lalu menarik Elin duduk di sofa. Dia lalu melihat ke tangan Elin.
"Ini titipan Brian buat kamu, katanya dia suka sama kamu, walaupun sedikit menakutkan." ujar Elin sambil memberikan mobil mainan yang dibawanya.
"Sedikit menakutkan?" ulang Yuan dengan menekan perkatannya
"Iya, kamu ingatkan saat pulang dari kebun binatang kamu hanya diam saja, Brian berpikir kalau kamu marah" jelas Elin.
"waktu itu saya lagi memikirkan perkataan kamu" ujar Yuan.
"Semuanya akan baik-baik saja, yang terpenting sekarang kamu mau melakukannya" ujar Elin.
Yuan mengangguk. Dia lalu melihat jam di tangannya, "Kamu ikut saya sekarang yah" ujar Yuan lalu melangkah menuju ke pintu.
"Kita mau kemana?" tanya Elin heran lalu berdiri dan mengikuti langkah Yuan.
Saat mereka telah keluar dari ruangan Yuan " Kita makan siang di luar"
Mereka lalu berjalan keluar cafe dan masuk ke dalam mobil Yuan.
Kini mobil Yuan telah melaju di jalan raya.
"Katakan pada Brian Terimakasih untuk mainannya" ujar Yuan yang masih fokus menyetir.
"Dia keluar negeri"
"Keluar negeri? gapain?" tanya Elin, dia terkejut mendengarnya karena Vino tidak pernah mengatakan kalau dia akan pergi keluar negeri.
"Nanti juga kamu akan tau" jawab Yuan
Elin mengernyitkam kening keheranan.
Kini mobil Yuan telah memasuki salah satu restoran mewah di Ibu Kota. Mereka lalu keluar dari mobil.
"Restoran shabu-shabu?" tanya Elin heran
"Iya" jawab Yuan lalu memegang telapak tangan Elin sambil berjalan masuk ke dalam restoran.
Salah satu waitress bertanya kepada mereka.
"Udah reservasi pak?" tanya salah satu waitress.
"Sudah, atas nama Yuan" jawab Yuan.
"Vvip yah pak. Silahkan, anda telah di tunggu" ujar waitress tadi dengan ramah lalu memandu mereka menuju ruang Vvip.
Saat sampai di depan ruangan Vvip restoran, waitress tadi membukakan mereka pintu dan mempersilahkan mereka masuk.
Betapa terkejutnya Elin ketika melihat seseorang yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Selamat siang paman" sapa Elin.
"Selamat siang Elin" balas Winjaya.
Mereka lalu duduk sambil menunggu pesanan mereka datang. Tidak ada pembicaraan di antara mereka sehingga menimbulkan kecanggukan dan kesunyian.
"Paman udah menunggu lama?" tanya Elin yang berusahaan mencairkan suasana.
"Gak begitu lama, sekitar 10 menit" jawab Winjaya.
Elin tidak tau harus bicara apa lagi, dia berharap pesanan mereka segera datang. Tapi untungnya tidak menunggu lama pesanan mereka telah datang dan beberapa waitress yang membawanya menyajikan menu-menu pesanan mereka diatas meja. Setelah selesai mereka lalu keluar dari ruangan.
Elin lalu memasukkan berbagai sayur dan daging ke dalam panci steamboat yang berisikan kuah tomyam dan kuah kaldu sapi
Winjaya tersenyum melihat anaknya yang kini duduk tepat di depannya.
"Ternyata kamu masih mengingat makanan kesukaan papa" ujar Winjaya senang.
"Dulu mama sering membuatkan papa shabu-shabu, apalagi ketika ada salah satu dari kita berempat yang berulang tahun" ujar Yuan yang mengingat kembali kenangan bersama mamanya.
"Iya papa ingat itu masakan makanan mama kamu memang paling enak, tidak hanya shabu-shabu tapi masakan lainnya juga enak" ujar Winjaya yang memaksakan senyum di wajahnya, mengingat istri pertamanya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐
Terimakasih