Who Are You? (WAY?)

Who Are You? (WAY?)
WAY #43



Setelah 5 jam perjalanan mereka telah tiba di perbatasan ibu kota.


Elin melihat ke jam tangan miliknya yang sudah menunjukkan pukul 12.00.


"Pak Yuan mau ga sebelum balik kita makan siang dulu?" tanya Elin.


"Mau makan siang dimana?" tanya Yuan yang masih fokus menyetir.


"Gimana kalau warung sate di depan supermarket Z? di sana satenya enak loh pak" jawab Elin dengan semangat


Yuan menyetujui usul Elin dan melajukan mobilnya menuju ke warung yang dimaksud Elin.


Saat memasuki warung Elin membawa Yuan ke meja kosong di sudut warung dan memesan menu makanannya yanga ada di warung sate tersebut.


Tidak cukup 10 menit pesanan mereka telah tersaji. Mereka mulai memakan menu pesanan mereka.


"Gimana pak satenya enak kan?" tanya Elin yang melihat Yuan memasukan tusukan pertama ke mulutnya.


"Enak kok" jawab Elin.


Elin tersenyum senang mendengar jawaban Yuan.


Selesai makan, Yuan menuju ke kasir dan membayar tagihan pesanan mereka.


"Istrinya nak Vino" panggil Bu tut kepada Elin yang datang dari arah dapur dan berdiri tepat di samping Elin.


"oh Bu Tut. Apa kabar Bu tut?" Sapa Elin dengan canggung.


"Baik nak. Nak Vino mana?" tanya Bu tut.


"Vino lagi di perjalanan Bu ke Ibu Kota"


Yuan yang sedari tadi memperhatikan mereka bercakap merasa kesal mendengar Bu Tut memamnggil Elin dengan sebutan istri Vino.


"Hai Bu Tut. Saya Yuan pacar Elin." sapa Yuan yang menahan emosinya dengan berpura-pura ramah. "Maaf bu, Vino dan Elin bukan suami istri dan tidak akan pernah menjadi suami istri" tambah Yuan.


Yuan lalu menarik tangan Elin agar segera keluar dari warung sate tersebut.


"Saya pamit dulu bu"pamit Elin dengan cepat karena tangannya telah di tarik Yuan.


Di dalam mobil Yuan sangat kesal mengingat perkataan Bu Tut tadi. Dia melajukan mobilnya ke jalan raya.


"Apa maksud Ibu tadi?" tanya Yuan kesal


"Waktu itu Saya, Vino dan Brian pergi makan bertiga setelah dari supermarket. Dan Bu Tut salah sangka mengira saya adalah istri Vino dan Brian adalah anak kami" jelas Elin yang merasa takut dengan ekspresi Yuan


"Siapa Brian?" tanya Yuan


"Dia keponakan saya" jawab Elin


"Lain kali kamu jangan pernah pergi makan berdua dengan Vino atau laki-laki manapun" ujar Yuan dingin


"Waktu itu kami tidak berdua kok ada Brian juga. Kami tidak sengaja bertemu di supermarket Z lalu Vino mentraktir kami makan sate" jelas Elin. Dia sudah seperti orang yang ketahuan selingkuh yang harus menjelaskan kepada pasangannya agar tidak salah paha . "tunggu lagian kalau saya tidak bisa makan dengan laki-laki manapun berarti sama Pak Yuan juga tidak bisa dong" ledek Elin


"Dia kenapa sih? larangannya banyak banget. Kemarin pakaian, sekarang warung, besok apalagi coba" ujar Elin dalam hati kesal.


"Iya pak" jawab Elin.


Mendengar jawaban Elin membuat kemarahan Yuan sedikit meredah.


Setelah memasuki parkiran apertemen Elin hendak turun tapi tangannya tiba-tiba di tahan oleh Yuan.


"Besok kamu makan siang bersama saya" ujar Yuan


Elin hanya mengangguk tanda setuju dengan perkataan Yuan.


Elin lalu turun di ikuti oleh Yuan yang mengambil barang Elin di dalam mobilnya.


"Kamu masuk dan istirahatlah" ujar Yuan senyum. "Satu lagi jangan kemana-kemana hari ini, istirahat saja" tambah Yuan lalu memegang kepala Elin dengan lembut. Dia lalu masuk ke dalam mobilnya dan meninggalian Elin yang masih menatapnya.


Elin yang menerima perlakuan manis dari Bossnya membuat jantungnya berdetak cepat.


Setelah mobil bossnya sudah tidak terlihat Elin langsung masuk ke dalam gedung apertemen sambil memegang dadanya. Di sisi lain Elin sebenarnya senang dengan perlakuan bossnya.


"cepet banget berdetaknya" ujar Elin dalam hati sambil menahan senyumnya karena dia tidak ingin orang lain menganggapnya sebagai orang gila yang senyum-senyum sendiri.


Tiba di dalam apertemen Elin lalu menyapa Amor, kakak iparnya dan Brian lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mandi. Selesai mandi Elin membaringkan tubuhnya diatas ranjangnya yang empuk.


Dia terus memikirkan perlakuan Yuan di tambah lagi perkataan Yuan yang perhatian kepadanya membuatnya menjadi senang dan senyum-senyum sendiri.


"Aduh Elin sadar-sadar. Kamu kenapa sih? " ujar Elin dalam hati sambil menepuk pipinya dengan kedua tangannya.


Apa saya sudah jatuh cinta dengan kutub es? pikir Elin.


Karena sudah kelelahan Elin lalu menutup matanya dan tertidur dengan pulas.


.


.


.


.


.


Bersambung...


hai guys


jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐Ÿ˜‰


like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐Ÿ˜Š


Terimakasih