
Cafe
Elin telah tiba di cafe, dia melakukan kegiatan rutinnya lalu kembali ke ruangannya. Setelah selesai membuat laporan persediaan cafe Elin, melanjutkan pekerjaannya yang kemarin belum selesai.
Dia mencari laporan keuangan tahun lalu yang di katakan Nitha semalam padanya. Cukup lama Elin mencarinya di rak laporan cafe.
"ketemu" ujar Elin dengan hati senang. Tapi Elin kesusahan untuk mengambilnya karena letaknya berada di rak paling atas.
Elin keluar dari ruangannya menuju ke ruangan karyawan untuk mencari kursi yang bisa dia gunakan. Elin melihat sekeliling ruangan karyawan dan dia hanya menemukan kursi plastik pendek. Dia membawanya ke ruangannya dan menaikinya tapi tetap Elin tidak dapat mengapai laporan tersebut.
Saat Elin berjinjit dan berusaha menggapainya, ada tangan seseorang yang lebih dulu mengambil laporan tersebut. Sontak Elin membalikkan kepalanya kearah orang tersebut. Dia langsung melihat wajah Yuan yang sangat dekat dengan wajahnya dan membuat Elin refleks memundurkan badannya hingga hampir jatuh jika bukan Yuan yang menarik pinggang Elin hingga posisi badan Elin sekarang berada di pelukan Yuan.
Jantung Elin berdegup kencang, dia ingin melepas pelukan Yuan tapi di lain sisi dia juga merasa nyaman di pelukan Yuan. Sementara Yuan, dia senang dengan posisinya dan Elin saat ini.
Vino yang baru saja datang melihat adengan tersebut, tidak begitu kaget melihatnya karena Vino tahu kalau Yuan memang menyukai Elin sejak kejadian Rena menyiram Elin dengan kopi panas dan bukannya membela Rena, Yuan malah mengusirnya dan membawa Elin pergi.
"Hm hm hm" ujar Vino dengan suara cukup tinggi untuk menyadarkan mereka.
Sontak Elin melepaskan dirinya dari pelukan Yuan. Namun Yuan merasa tidak rela melepas Elin dari pelukannya, dia masih ingin memeluk Elin lebih lama.
Yuan melihat ke arah Vino dengan tatapan kesal, laporan yang sejak tadi di pegangnya di taruhnya diatas meja kerja Elin dan keluar dari ruangan manager menuju ke ruangannya.
Bukannya takut, Vino yang melihat tatapan Yuan merasa lucu dan tersenyum senang melihatnya.
Sementara Elin merasa tidak nyaman dan mulai panik, dia seperti orang yang kepergok selingkuh. Elin takut Vino akan salah paham terhadap dirinya dan Yuan
"Vin tadi.... gak seperti yang kamu lihat. Boss tadi...." ujar Elin gugup dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"udah gak usah gugup gitu bicaranya santai saja, gak usah di jelasin juga. Saya udah tau kok" ujar Vino santai.
"tau apa?" tanya Elin yang kaget dengan kalimat terakhir Vino.
"tau kalau kamu suka kan dengan Boss?"
"HA?" Elin di buat lebih kaget lagi dengan kalimat Vino
"Wajah kamu udah jawab kok" ujar Vino jail lalu meninggalkan Elin diruangannya.
Elin langsung memegang pipinya yang terasa hangat, dia mengambil cermin di dalam tasnya.
"Wajah saya tidak kenapa-kenapa kok "ujar Elin dalam hati yang masih memegang pipinya.
Elin menyimpan cerminnya dan mulai kembali mengerjakan pekerjaannya tapi dia tidak bisa konsentrasi. Elin terus memikirkan kejadian tadi, bagaimana bisa dia menikmati pelukan dari Yuan. pikir Elin
" Oh my God. Fokus Elin fokus" ujar Elin dalam hati
Saat ini Elin kembali fokus mengerjakan pekerjaannya hingga dia melewatkan jam makan siang.
Hp yang di letakkannya di atas meja kerjanya tiba-tiba berbunyi. Elin tidak melihat siapa yang menelponnya dia langsung saja menerima panggilan tersebut dan menempelkan hpnya di telinga karena dia masih fokus dengan pekerjaannya.
Belum sempat Elin berbicara, orang menelponnya sudah terlebih dulu beebicara.
"keruangan saya sekarang"
Saat Elin menempelkan kembali hpnya ke telinga, panggilannya telah diputuskan.
"bagaiman ini? pasti boss ingin meminta rekapan laporan keuangan" ujar Elin dalam hati mulai panik
Dengan sedikit rasa takut Elin melangkah ke ruangan bossnya dan mengetuk pintu. Setelah di persilahkan dia melangkah masuk dan melihat bossnya yang sedang duduk di sofa sambil memindahkan makanan dari bungkusan ke piring.
"duduk" ujar Yuan tanpa melihat ke arah Elin.
Elin menuruti perintah bossnya dan duduk di seberang bossnya.
"makan ini" ujar Yuan sambil memberikan Elin sepiring nasi campur.
Elin hanya melihat menu makanan tersebut dan tidak menyentuhnya, dia merasa ragu.
Yuan yang melihat Elin belum memakan menu makanannya. "Kenapa gak dimakan? saya tau kamu belum makan siang" ujar Yuan. "saya hanya tidak ingin karyawan cafe Sun sakit karena kerja" tambah Yuan.
"Apapun alasannya, terimakasih pak" ujar Elin sambil tersenyum dan mulai memakan menu makanan yang di berikan Yuan.
Disela-sela makan Yuan menanyakan Elin mengenai tugas yang di berikannya.
"rekapan laporan keuangan kamu sudah selesai?" tanya Yuan
Elin yang mendengarnya langsung membuatnya tersedak. Hal yang yang dari tadi di takuti Elin karena dia tidak ingin Yuan berpikir bahwa dirinya lama mengerjakan tugas tersebut.
"Makannya pelan-pelan" ujar Yuan lembut sambil memberikan Elin segelas air miliknya.
Elin mengambil air tersebut dan meminumnya. Setelah merasa baikan, Elin mengucapkan terimakasih ke Yuan.
"Maaf pak, saya belum menyelesaikannya. Tapi saya usahakan sebelum jam pulang cafe sudah menyerahkannya ke pak Yuan" ujar Elin mulai panik.
.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐
Terimakasih