Who Are You? (WAY?)

Who Are You? (WAY?)
WAY #64



Hari Minggu.


Elin sedang bersiap di kamarnya.


"Lin, kami pergi yah" pamit Amor.


"Iya kak, hati-hati yah"


Hari ini ulang tahun mamanya Carlos, mertua Amor. Mereka pergi untuk merayakannya sekeluarga dan kembali besok pagi.


Selesai bersiap Elin turun ke lobby untuk memesan ojol menuju ke Restoran tempat mereka janjian.


Sesampainya Elin langsung mencari keberadaan Selena dan Mikael yang telah tiba terlebih dulu.


"Hai Kak El" sapa Elin yang hanya melihat Mikael.


"Kamu udah tiba, kok sendirian?" tanya Selena yang baru saja datang.


"Duduk Lin" ujar Mikael.


"Katanya Yuan bakalan datang telat, mobilnya mendadak mogok tapi sekarang udah di bengkel, bentar lagi juga datang" jawab Elin yang kini duduk di seberang mereka.


"Kamu mau minum apa?" tanya Mikael.


"Kalian udah pesan minuman?" tanya Elin balik.


"Udah, tadi baru saja saya pesan minuman untuk saya dan El" jawab Selena.


"Kalau gitu saya pergi pesankan kamu minuman dulu. iced taro latte, iya kan?" ujar Mikael.


Elin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Mikael lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Sepertinya kalian cukup akrab. Sampai El tau minuman kesukaan kamu" tebak Selena.


"Kak El dulu senior saya di kampus dan juga mantan boss saya" jawab Elin canggung.


Selena yang mendengarnya mengangguk tanda mengerti. "gomong-gomong maaf yah soal kemarin, pertemuan pertama kita kurang baik. Saya gak tau kalau kamu pacarnya Yuan." ujar Selena ramah.


"Gak papa kok kak"


"Terimakasih yah. Lusa saya udah balik ke Belanda"


"Kalau boleh tau kak Selena kerja apa?" tanya Elin penasaran.


"Saya designer fashion. Kebetulan saya di undang untuk menjadi juri di Ibu Kota" jawab Selena.


"Pantas aja style kak Selena keren banget"


"Terimakasih" ujar Selena ramah.


"Kalian gomongin apa sih? kayaknya seru" ujar Mikael yang baru saja datang.


"Kita ngobrol biasa aja kok" jawab Selena.


"Kak Selena, kak El saya ke toilet dulu" pamit Elin.


Setelah selesai Elin keluar dari toilet dan berjalan menghampiri Selena dan Mikael. Namun langkahnya terhenti saat mendengar percakapan mereka.


"Jadi dia saudara kembar Alin? orang yang menyelamatkan Yuan dari kebakaran saat acara wisuda kamu" ulang Selena kaget.


Elin yang mendengarnya sangat syok, dia tidak ingin membayangkan hal buruk itu dan tidak ingin percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Elin berusaha menahan air matanya dan menghampiri mereka.


"Elin" Mikael kaget melihat Elin yang tiba-tiba datang.


"Apa benar.... yang kalian katakan barusan?" tanya Elin yang sudah tidak bisa menahan air matanya untuk mengalir di pipinya.


"Elin saya bisa jelaskan semuanya, kamu duduk dulu" ujar Mikael panik. Sementara Selena merasa bersalah, dia hanya bisa diam melihat Elin yang menangis, dia tidak tau harus melakukan apa.


Elin menarik nafasnya dalam lalu menelan silvanya "Kak El tolong jawab pertanyaan saya" ujar Elin


Mikael tidak tau harus menjawab apa lagi, dia tau kalau Elin telah mendengar percakapannya dengan Selena.


"Melihat Kak El yang hanya diam, saya sudah tau jawabannya"


Elin lalu mengambil tasnya dan meninggalkan mereka berdua sambil menangis, dadanya terasa sesak mengetahui kebenarannya.


Saat dia melewati parkiran restoran, dia berpapasan dengan Yuan.


"Elin apa yang terjadi? kamu kenapa menangis?" tanya Yuan khawatir.


Elin hanya melihat kearah Yuan lalu berlari meninggalkannya.


Apa kamu juga tau dan berpura-pura tidak tau. pikir Elin.


Dia sudah tidak perduli dengan Yuan yang terus mengejarnya dan memanggil namanya. Elin lalu memanggil taksi yang lewat menuju ke apertemennya.


Untungnya Amor dan keluarganya kembali ke apertemen besok pagi, jadi mereka tidak harus melihat Elin yang pulang dalam keadaan menangis.


Di perjalanan Elin melihat foto-foto kenangannya bersama Alin yang di simpannya di hp, air matanya terus mengalir.


Tanpa sengaja Elin melihat foto yang di kirim Alin saat dia datang ke ibu kota untuk berobat.


"Pria ini kan yang di sukai Alin, bahkan dia sengaja ke kampus sahabatnya yang kuliah di Ibu Kota hanya untuk melihatnya" ujar Elin dalam hati sambil menghapus air matanya yang memgalir dipipinya.


Elin terus melihat foto pria itu yang tampak dari samping, dia merasa tidak asing dengan wajah pria itu walaupun hanya dari samping. Dia menyadari sesuatu lalu mengambil gelang pemberian Alin yang selalu di bawanya di dalam tas.


Elin membandingkan gelang yang di pakai pria di foto itu dengan gelang yang ada di tangannya.


Betapa syoknya Elin.


.


.


.


.


.


Bersambung...


hai guys


jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐Ÿ˜‰


like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐Ÿ˜Š


Terimakasih