
"Jadi mereka adalah orang yang sama" ujar Elin dalam hati.
Taksi yang di tumpangi Elin mendadak berhenti. Elin yang duduk di belakang sopir harus memegang erat kursi kemudi di depannya agar tidak terhempas ke depan.
"Maaf mbah mobil di depan tiba-tiba berhenti" kata sopir taksi.
Elin mengenal mobil itu.
Dia melihat Yuan yang turun dan menghampiri taksi yang di tumpanginya.
"Pak tunggu sebentar yah" ujar Elin lalu keluar dari taksi dengan mata sembab.
Yuan langsung memegang tangan Elin hendak membawanya pergi.
"Lepaskan tangan saya Yuan" ujar Elin pelan.
Yuan berbalik ke arah Elin tapi dia tetap memegang tangan Elin.
"Apa yang mereka katakan ke kamu?" tanya Yuan yang bingung sekaligus khawatir dengan Elin.
Mereka gak katakan apa-apa kok" jawab Elin.
"Bohong" bentak Yuan kemudian dia sadar kalau dia telah membentak Elin. "Sorry Lin saya gak maksud bentak kamu, saat ini saya benar-benar bingung harus gapain, saya gak tau apa penyebab kamu nangis, kamu pergi ninggalin saya di resto tadi tanpa berkata apa-apa. Saya gak tau harus lakuin apa" jelas Yuan.
"Dulu saya punya saudara kembar namanya Alin. Dia meninggal karena kebakaran saat menghadiri acara wisuda Kak El dan angkatannya di gedung aula A hotel Moon kota M. Sebenarnya dia bisa saja masih hidup sampai sekarang, kalau saja dia tidak menyelamatkan pria itu" jelas Elin tanpa memandang kearah Yuan. Air matanya kembali mengalir di pipinya.
Yuan tidak mengerti maksud Elin menceritakan kepadanya penyebab saudara kembarnya meninggal.
"apa maksud kamu menceritakannya ke saya?" tanya Yuan ragu.
Kini Elin melihat ke arah Yuan. "Pria itu adalah kamu" jawabnya.
Yuan tidak percaya mendengarnya.
"Sebaiknya untuk sementara kita tidak usah bertemu dulu" ujar Elin lalu melepaskan tangannya dari Yuan dan kembali masuk ke dalam taksi dan meninggalkan Yuan yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
***
Di dalam mobil Yuan menelpon seseorang.
"Kamu dimana?" tanya Yuan datar pada orang diseberang.
Setelah mendengar jawaban orang itu, dia memutuskan sambungan telepon lalu melempar hpnya di kursi kosong di sampingnya.
Yuan mempercepat laju mobilnya.
Dia masih syok dengan kenyataan yang di ungkapkan Elin padanya.
Mobilnya telah memasuki area parkir rumah Winjaya. Dengan terburu-buru dia keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah orang tuanya.
"Tuan Mika berada di taman belakang Tuan" jawab pelayan.
Yuan segera menemui Mikael sedang duduk di pinggir kolam ikan.
"Kak Mika" panggil Yuan. Mika lalu melihat ke arah Yuan yang kini berdiri di depannya.
"Duduklah dulu" ujar Mika pelan. Tapi Yuan tidak mengikuti keinginan kakaknya.
"Kenapa kak Mika berbohong?" tanya Yuan yang menahan amarahnya. "10 tahun lalu saya bukan kecelakaan mobil. Tapi kenapa kamu mengatakan kalau saya kecelakaan mobil?" tanyanya lagi. Tapi tidak ada jawaban dari Mikael
"Pantas saja saya tidak pernah ingat saat kak Mika wisuda, tapi anehnya saya malah punya foto bersama Kak Selena dan kamu yang memakai atribut wisuda. Foto buram yang saya ambil dari backgroud foto kita bertiga, perempuan itu adalah Alin kan? saudara kembar Elin." Jelasnya. "Iya kan?" teriak Yuan yang kesal dengan kakaknya yang hanya diam.
"Iya. Semua yang kamu katakan itu benar. Papa dan saya sepakat untuk tidak memberitahu kamu kebenarannya, kami hanya ingin kamu cepat sembuh dan tidak mengingat kejadian yang menggenaskan itu" jawab Mikael yang merasa bersalah.
Yuan yang mendengar jawaban Mikael sangat syok, hatinya terasa perih. Dia yang telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membuat Elin menangis malah menjadi sumber luka di hati Elin.
Yuan pergi meninggalkan Mikael. Dia menuju ke ruangan mini bar dan mengambil white wine Pinot Grigio di dalam kabinet wine cooler lalu menuangkannya ke gelas white wine berbentuk U dan duduk di kursi bar. Yuan meminumnya dengan sekali teguk lalu kembali menuangkannya lagi dan lagi.
Mikael datang ke mini bar dan melihat Yuan yang hampir menghabiskan 1 botol white wine.
"Yuan hentikan, kamu sudah mabuk berat" ujarnya lalu mengambil botol white wine dari tangan Yuan.
"Kak Mika, saya harus bagaimana sekarang? saya telah melukai orang yang paling saya cintai. Saya harus bagaimana kak?" ujar Yuan sambil menangis.
Mikael yang melihat kondisi adiknya bertambah merasa bersalah dan sedih. Dia tidak tau bagaimana harus membantu Yuan.
.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐
Terimakasih