Who Are You? (WAY?)

Who Are You? (WAY?)
WAY #31



Kali ini Elin bangun lebih pagi, Setelah mandi dan memakai pakaian rumah Elin menuju ke dapur untuk memasakan bossnya menu makanan yang pernah di ajarkan Nitha padanya.


"Masak apaan?" tanya Amor yang baru saja keluar dari kamarnya.


"buat nasi goreng, kakak mau? kebetulan saya masak lebih"


"memangnya kamu bisa masak?"


"Kalau cuman masak nasi goreng saya bisa kok"


Amor mengambil sendok lalu mencicipi sedikit masakan adiknya.


"Enak juga" ujar Amor kagum dengan rasa masakan Elin karena setau Amor, Elin di larang oleh kedua orang tua mereka untuk memasak. "Kamu belajar dimana?" lanjut Amor


" Dari Nitha, Nitha itu pintar banget masak loh kak. Apalagi masakan rumahan, dia jago nya" ujar Elin, merasa bangga dengan temannya.


"Boleh juga tuh Nitha, kirain dia cuman tau cari duit"


Elin dan Amor tertawa kecil bersama.


Selesai memasak Elin kembali ke kamarnya untuk ganti pakaian dan bersiap menuju ke cafe.


Setelah siap Elin menuju ke meja makan dan mengambil bekal yang telah dibuatnya sekaligus roti yang telah di buat kakaknya untuk sarapan.


"Kak berangkat dulu yah" pamit Elin.


Di lobby dia telah memesan ojol.


20 menit perjalanan dia telah sampai di cafe sambil membawa tas kecil yang berisikan bekal.


Saat ini cafe sedang sepi, Elin memang sengaja datang lebih awal sebelum para karyawan tiba. Dia langsung menunju ke ruangannya.


Seperti biasa kegiatan Elin di cafe saat pagi hari adalah mengecek persediaan bahan-bahan makanan dan minuman cafe di gudang.


Elin telah selesai mengecek di gudang, dia keluar dan menuju ke tangga.


"Elin, kamu datang jam berapa?" tanya Emi yang kaget melihat Elin yang telah selesai dengan pekerjaan di gudang.


"saya memang sengaja datang lebih awal. Bay the way, thanks yah buat yang kemarin" ujar Elin


"kemarin? kamu lihat?" tanya Emi kaget


"Iya. Saya duduk di dekat meja pantry jadi ga kelihatan sama kamu. Begitu saya berdiri mau nyamperin eh kamu nya udah ngilang" jelas Elin


Emi tersenyum mendengar penjelasan Elin. "kemarin mereka sangat menyebalkan, dari dapur saya mendengar dengan jelas pembicaraan mereka"


Elin dan Emi berbicara sambil menaiki tangga dan kini mereka sudah berpisah. Elin masuk ke ruangan Manajer sedangkan Emi masuk ke ruangan Karyawan untuk berganti baju dan bersiap mulai bekerja.


Di ruangannya Elin sedang mengerjakan laporan rutinnya.


Brakk


Pintu ruangan manajer terbuka.


Elin melihat ke arah sumber suara dan mendapati Vino yang baru saja datang.


"Terlambat lagi" ujar Elin


"Iya. saya..." belum selesai Vino berbicara Elin sudah memotongnya.


"terlambat bangun" Sambung Elin. "Vin memangnya saat malam kamu ngapain sih? sering banget terlambat datang" tanya Elin penasaran.


"Saya ...." belum selesai Vino berbicara hp di saku celananya bunyi. "Lin saya terima telepon dulu" ujar Vino lalu keluar dari ruangan.


Dari dalam ruangannya, Elin mendengar Vino yang sedang menelpon mengatakan "kamu urus semuanya, saya tidak mau ada masalah" dengan suara yang cukup tenang.


Mungkin dia punya kerjaan lain selain di cafe. pikir Elin


Jam istirahat makan siang


Elin mengambil tas yang berisikan bekal yang dia simpan di meja kecil di samping meja kerjanya dan membawanya ke ruangan Yuan sambil membawa laporan yang telah dia kerjakan.


tok tok tok


"masuk" ujar Yuan dari dalam ruangannya.


Elin membuka pintu ruangan bossnya lalu melangkah masuk.


Dia menyerahkan laporannya dan bekal yang telah dia buat kepada bossnya.


Yuan melihat 1 box bekal lagi di dalam tas Elin.


"Buat siapa yang satu ?" tanya Yuan sambil melihat bekal yang masih dalam tas Elin


"buat saya pak. Saya akan pergi makan bersama yang lain"


"Makan bersama saya saja"


mendengar perkataan bossnya membuat Elin kaget.


"Tapi pak..."


"kamu ini setiap saya perintah selalu saja jawabannya tapi pak tapi pak terus, ngebantah terus. Sekali-kali jawab iya kek"


"Iya pak" jawab Elin dengan terpaksa.


Elin dan Yuan sekarang duduk di sofa di ruangan Yuan.


Yuan membuka box bekal yang di berikan Elin tadi dan melihat isinya, nasi goreng dengan irisan timun lalu mencobanya sesendok.


"Siapa yang masak?" tanya Yuan


"saya pak, gak enak yah pak? kalau ga enak, ga usah di makan pak" ujar Elin yang panik lalu mengambil box bekal tersebut. Tapi Yuan menjauhkan box bekal dari tangan Elin agar Elin tidak mengambilnya kembali.


"Jauhkan tangan kamu, saya mau makan" ujar Yuan


Mendengar kalimat Yuan, Elin tersenyum senang karena ternyata bossnya menyukai masakannya.


"Imutnya" ujar Yuan dalam hati saat melihat senyum Elin.


"Jangan kepedean, saya tidak bilang kalau masakan kamu enak"


Elin langsung memasang wajah cemberut.


.


.


.


.


Bersambung...


hai guys


jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐Ÿ˜‰


like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐Ÿ˜Š


Terimakasih