
tok tok tok
Setelah dipersilahkan Elin melangkah masuk ke dalam ruangan yang di dominasi putih milik Yuan.
Berbeda dengan sebelumnya kini Yuan sedang bekerja di meja kerjanya.
Elin sedikit melirik ke berkas yang dikerjakan Yuan. Sepertinya dia sedang mengecek laporan keuangan cafe. pikirnya
Yuan benar-benar tampak sibuk dengan kerjaannya. Dia hanya sempat menoleh melihat Elin sebentar dan lanjut mengerjakan pekerjaannya.
"permisi pak, saya tadi di minta tolong Lala mengantarkan pesanan Pak Yuan" Elin menaruhnya di atas meja kerja Yuan kemudian pamit undur diri
"siapa yang suruh kamu keluar? temani saya makan sebentar" ujar Yuan datar dan mengangkat kepalanya
Elin yang mendengarnya terkejut dan berbalik ke arah Yuan, dia masih mematung pada posisinya.
Tumben amat, biasanya juga makan sendirian. pikir Elin
Yuan berdiri dari kursinya dan membawa makanan yang di bawa Elin tadi ke sofa. Melihat Elin yang mematung dan hanya melihatnya membuat Yuan mulai geram.
"apa yang kamu lakukan? sini duduk" ujar Yuan menepuk sofa di sebelahnya.
"ta tapi pak. saya masih ada..." belum selesai Elin berbicara Yuan sudah memotongnya. "tidak ada tapi-tapian sini duduk" ujar Yuan sedikit geram karena dia Paling benci di bantah.
Elin akhirnya menuruti perintah Yuan, dia menuju ke sofa di sudut ruangan dan duduk di sofa yang berbeda dari Bossnya.
Yuan mulai menyendokkan makanannya.
Dari tempat Elin duduk dia bisa melihat menu makanan Yuan nasi goreng merah. Yuan makan dengan begitu anggun dan rapi.
Elin yang melihat Yuan makan teringat dengan Tyo saat mereka makan berdua di ruangan Tyo.
Air mata Elin mulai menetes ke pipinya. Yuan yang melihatnya tanpa sadar menghapus air mata Elin di pipinya.
"kamu kenapa menangis?" tanya Yuan pelan
"tidak apa-apa pak. saya... saya hanya..... " Elin tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, dia pamit kepada Yuan kemudian dia sedikit berlari keluar dari ruangan Yuan menuju ke toilet.
Yuan yang melihatnya merasa heran dan mulai kesal.
"apa sampai segitu tidak sukanya dia menemani saya makan siang?" pikir Yuan.
Yuan yang mulai emosi sudah tidak nafsu makan lagi.
Dia menelpon seseorang untuk membersihkan sisa makanannnya kemudian turun ke lantai 1 menuju parkiran dan menaiki mobil sport hitamnya, dia melaju dengan kecepatan tinggi.
Para karyawan yang melihat ekspresi bossnya yang emosi langsung memalingkan wajahnya, mereka tidak berani menatap Yuan atau sekedar menyapanya.
***
Hati Elin sakit ketika mengingat kelakuan Tyo kepadanya.
Setelah perasaan Elin sudah mulai membaik, dia melangkah ke ruangan bossnya.
Berarti Yuan tidak menghabiskan makanannya tadi, apa dia sesibuk itu? sampai makanannya pun tidak dihabiskan. pikir Elin.
Dari luar ruangan Yuan dia tidak dapat melihat kearah meja kerja Yuan.
Elin menghentikan niatnya, dia berbalik dan menuju ke ruangannya. Dia juga akan melanjutkan pekerjaannya.
Jam sudah menunjukkan waktu pulang kantor. Elin membereskan berkas-berkas yang berantakan diatas meja kerjanya.
Elin turun ke lantai 1 dan memesan ojol seperti biasanya. Sambil menunggu ojol pesanannya datang, dia duduk di salah satu kursi dekat pantry yang kosong.
Dari tempatnya duduk Elin bisa mendengar pembicaraan karyawan di pantry yang membahas Yuan.
Elin memanggil Lala yang lewat di dekatnya yang hendak menuju pintu keluar cafe.
"Ada apa dengan Boss?" tanya Elin kepada Lala
"kak Elin tidak tau? tadi bos turun dari lantai 2, dia pergi dengan ekspresi menyeramkan. Sudah lama kami tidak melihat ekspresi boss seperti itu" jelas Lala.
"kejadiannya sekitar jam berapa?" tanya Elin penasaran.
"sekitaran jam 1.30 kak" jawab Lala.
"1.30" ulang Elin kaget.
Lala yang melihat jemputannya telah datang, berpamitan kepada Elin.
Berarti saat jam makan siang boss tadi. Apa Boss marah karena saya pergi saat dia makan siang? pikir Elin
Ojol yang di pesan Elin sudah tiba di parkiran cafe.
.
.
.
.
.
Bersambung...
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah ๐
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya ๐
Terimakasih