WHISPER

WHISPER
Maafkan Bunda



Seperti biasa, pagi ini Sarah menitipkan anaknya ke tetangga sebelah. Namun kali ini ada yang berbeda, tetangga yang biasa dia titipi mendadak menolaknya. Dia juga tak ramah seperti biasanya. Perbedaan yang di tunjukan sangat menonjol, membuat Sarah bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Apa Sarah berbuat salah? Atau tetangganya itu akan pergi ke suatu tempat?


“Maaf ya, Mbak. Saya gak bisa jaga anak Mbak lagi. Saya gak mau ikut jadi omongan yang lain,” ujar Bu Lasih, orang yang selama ini menjaga Ava ketika Sarah pergi bekerja.


“Maksudnya, Bu?” tanya Sarah tak mengerti. Tangan kanannya masih menggenggam tangan Ava.


“Semalem ada yang liat laki-laki di rumah kamu sampe tengah malem. Nah, orang-orang ngira kalo kamu udah punya cem-ceman gitu. Padahal kamu belum selesai masa iddah. Orang sekitar ngiranya kamu janda nakal, apalagi laki-lakinya keliatan masih bujang,” jelas Bu Lasih terang-terangan. Dia sama sekali tak menutup-nutupi apa yang di katakan oleh tetangga sekitar. Dia sendiri tidak mau terkena getahnya.


Sarah menghela napas berat. Dia memaklumi pandangan orang-orang tentangnya. Status yang dia sandang, pastinya akan memunculkan pandangan negatif. Apalagi dia menjadi janda di usianya yang masih sangat muda.


Sarah tak mau menjelaskan apa-apa kepada Lasih. Toh, baginya, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi akan menambah rumitnya keadaan. Jadi mau tak mau dia hanya diam dan meminta maaf.


“Baiklah, maaf jika saya sudah merepotkan Bu Lasih. Terimakasih karena selama ini sudah mau menjaga Ava,” ujar Sarah sopan. Kemudian dia pamit pergi. Mau tak mau Sarah harus membawa Ava ke tempat kerja. Padahal di kantor ada aturan yang melarang setiap karyawan membawa anaknya ke kantor. Tapi Sarah akan meminta kebijakan sendiri kepada Amar.


“Sayang, kamu ikut Bunda ke tempat kerja, ya,” ujar Sarah seraya membuka pintu mobil dan membantu Ava naik ke dalam mobil.


“Loh, kenapa Bun?” tanya Ava dengan alis yang saling bertautan satu sama lain karena bingung.


“Bu Lasih ada kepentingan, jadi gak bisa jagain kamu,” ujar Sarah berbohong. Dia bersyukur karena Ava masih kecil, jika saja Ava sudah besar dan mendengar ucapan Lasih, pasti Ava akan sangat malu dan marah kepada Sarah.


Ava hanya ber-oh panjang, lalu duduk tenang di jok mobil. Sarah menyalakan mesin mobilnya dengan perasaan tak karuan. Ada rasa sedih yang bercampur marah, tapi dia tetap harus sabar dan kuat mejalani semuanya. Dia tak mau terlihat lemah.


“Selama Bunda kerja, Ava gak boleh nakal, ya,” peringat Sarah saat mobilnya berhenti di lampu merah.


“Enggak, Bunda. Ava akan menjadi anak pintar,” jawab Ava sambil menatap lampu merah, menunggu lampu itu berganti warna hijau.


Sarah tersenyum haru. Dia sangat bersyukur memiliki anak yang baik.


“Gue harus kuat mental,” ujar Sarah dalam hati.


Setelah lampu berubah menjadi warna hijau, Sarah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan dia mengajak Ava mengobrol. Ava terlihat ceria dan suka berbincang dengan bundanya.


Sarah masih memiliki waktu setengah jam sebelum jam kerjanya. Dia memilih untuk mampir ke toko buku terlebih dahulu. Dia membeli buku mewarnai beserta pensil warnanya. Dia sengaja membeli itu agar Ava merasa tak bosan saat di kantor nanti. Dia juga membeli buku cerita dan berhitung agar Ava mulai bisa belajar.


“Ini buku apa, Bunda?” tanya Ava yang tak mengerti ketika melihat buku yang tidak ada warnanya. Namun ada banyak gambar di dalamnya. Ada gambar bunga, hewan, perahu, bahkan gambar orang yang sedang makan di ruang makan.


Ava mengangguk senang. Dia membolak-balik buku mewarna itu sambil bertanya banyak hal kepada Sarah. Ava selalu saja banyak bicara, dia tak bisa diam barang semenit saja.


Sesampainya di kantor, Sarah membawa Ava ke ruang Amar terlebih dahulu. Dia meminta izin kepada Amar untuk membawa Ava. Untung saja di perbolehkan oleh Amar. Bahkan dia mengizinkan Sarah membawa Ava setiap hari.


“Ava disini jangan rewel ya, sayang. Temenin Bunda kerja,” ujar Amar dengan senyum manis.


Ava mengangguk malu, dia belum terbiasa dengan orang asing. Jika biasanya dia banyak omong, maka ketika bertemu dengan orang asing, dia justru menjadi pendiam.


“Makasih, Om. Saya berhutang banyak sama Om Amar,” ujar Sarah tak enak hati.


“Sudah jangan di pikirkan. Semoga kamu sehat selalu, biar bisa jagain Ava terus,” kata Amar lembut. Ucapannya seperti ucapan seorang ayah yang sedang menasehati anaknya. Sarah jadi teringat dengan ayah kandungnya.


Sampai sekarang, Sarah tak tahu ayah kandungnya itu ada di mana. Bahkan, ayahnya belum tahu jika mantan istrinya sudah meninggal. Dia sudah bahagia bersama anak dan istrinya yang sekarang.


Sarah pamit pergi karena harus menyelesaikan pekerjaannya. Ketika baru saja masuk ruang editor, dia meminta maaf kepada teman-temannya karena harus membawa Ava. Dia berjanji akan menjaga Ava dengan baik dan tidak mengganggu rekan kerja yang lain.


“Tidak apa-apa Sarah, kamu bawa dia tiap hari juga gak apa-apa,” ujar Melati, teman Sarah yang terbilang cukup akrab dengannya.


Sarah sangat bersyukur memiliki teman yang begitu baik kepadanya. Setidaknya masih ada orang yang sayang dan peduli kepada dirinya. Itu yang membuat dirinya tetep bisa bertahan sampai sekarang.


“Ava duduk di sini ya, latihan mewarnai dengan baik. Inget, jangan berisik,” kata Sarah seraya mendudukkan Ava di sofa yang tidak jauh dari meja kerjanya. Sebelum mulai bekerja, dia mengajari Ava mewarnai. Dia sangat berharap jika Ava betah menunggunya bekerja.


Ava hanya menurut saja, lagipula dia belum terbiasa dengan orang-orang sekitar, jadi dia memilih untuk duduk dan sibuk dengan buku barunya.


Sungguh, jika ada pilihan hidup lain, Sarah lebih memilih tinggal di rumah dan menjaga Ava. daripada dia harus bekerja sambil membawa Ava seperti ini. Tapi, dia tak memiliki pilihan lain. Dia harus membawa Ava ke tempat kerjanya.


“Maafin Bunda,” lirih Sarah dalam hati. Dia benar-benar merasa bersalah karena harus membawa Ava ke tempat kerjanya. Harusnya, anak seusia Ava sedang menikmati perkembangannya dengan belajar banyak hal, dia juga harus bersosialisasi dengan teman sebayanya. Tapi Ava tak bisa melakukan itu semua karena harus ikut ke kantor menemani bundanya.


Sarah belum berpikir untuk mencari babysitter, dia masih belum percaya kepada orang asing. Untuk sementara dia harus tetap membawa Ava sampai dia menemukan seseorang yang bisa di percaya.


Untung saja Ava mau menurut. Dia mulai sibuk mewarnai sesuka hati. Sesekali dia bertanya kepada Sarah jika ada warna yang tidak diketahuinya.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, TAMBAHKAN FAVORIT, DAN BERI HADIAH UNTUK NOVEL INI ❤️